23.2 C
Samarinda
Thursday, July 18, 2024

Soal Penjemputan Aktivis WALHI, Sugeng: Ada Aduan Masyarakat!

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Sekretaris Daerah Kota Samarinda Sugeng Chairuddin menanggapi tudingan LSM Walhi Kaltim soal penjemputan terhadap tiga aktivis yang disebut dilakukan secara paksa.

Menurutnya, penjemputan aktivis itu dilakukan karena desakan masyarakat sehingga pemerintah harus turun tangan.  Dia mengimbau seluruh pihak lebih serius memperhatikan protokol kesehatan Covid-19.  Terutama bagi siapa saja yang terkonfirmasi positif wajib isolasi mandiri.

“Urusan Covid-19 ini, jangan main-main. Kami nggak mau. Jadi, pemerintah harus hadir. Dengan gitu, maka kita menginisiasi untuk ambil, untuk diperlakukan dengan baik, dengan dikasih gizi, supaya makan dengan baik,” kata Sugeng.

Sugeng menegaskan lagi, penjemputan terhadap tiga aktivis di Kantor Walhi karena ada aduan masyarakat. “Iya lah (ada aduan masyarakat),” katanya.

Diketahui bersama, tiga aktivis yang dijemput Yohana Tiko, Fathul dan Bernard. Ketiganya, diungkapkan Sugeng, memiliki hasil swab positif.

Sebelumnya, rangkaian peristiwa uji swab, penyemprotan diisinfektan dan penjemputan para aktivis disebut positif covid-19 di Kantor WALHI Kaltim Jl Gitar Kompleks Prevab pada 29 hingga 31 Juli 2020, disinyalir berhubungan dengan advokasi yang giat dilakukan LSM tersebut.

Direktur WALHI Kaltim, Yohana Tiko menjelaskan ada beberapa pihak yang pasti merasa resah dengan kegiatan advokasi LSM dipimpinnya.  “”Kami memahami advokasi WALHI Kaltim meresahkan segelintir orang atau oknum,” kata Tiko, Sabtu 1 Agustus 2020 lalu.

Menurut Tiko, WALHI saat ini sedang giat advokasi menghadapi putusan Pengadilan terhadap kasus tumpahan minyak Teluk Balikpapan, melakukan gerakan penolakan terhadap Omnibus Law, RUU Cipta Kerja dan Raperda RZWP3K.

Kemudian, advokasi yang dilakukan WALHI lainnya meresahkan bagi segelintir orang yaitu intimidasi suatu perusahaan terhadap warga Desa Lebak Cilong yang dilaporkan ke Polres Kukar.

Menurut Tiko, penjemputannya bersama dua rekannya, Bernard dan Fathul secara paksa merupakan upaya kriminalisasi dan pembungkaman terhadap LSM. “Ini upaya kriminalisasi dan pembungkaman gaya baru ya. Dengan manfaatkan Covid-19,” ujar Tiko.

Penulis: Amin

- Advertisement -

LIHAT JUGA

- Advertisement -

TERBARU

POPULER