src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Perkuat Identitas Wisata, Waris Usul 100 Hektare Kelapa Difokuskan ke Biduk-Biduk

Perkuat Identitas Wisata, Waris Usul 100 Hektare Kelapa Difokuskan ke Biduk-Biduk

2 minutes reading
Monday, 2 Mar 2026 13:48 62 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Di tengah rencana pengembangan 200 hektare kebun kelapa di Berau, muncul usulan dari Wakil Ketua Komisi I DPRD Berau, Abdul Waris. Ia meminta agar separuh dari total luasan tersebut difokuskan ke wilayah Biduk-Biduk sebagai langkah strategis memperkuat identitas kawasan sekaligus mendorong ekonomi berbasis kelapa dan pariwisata.

Ia menilai kebijakan ini bukan semata soal pertanian, tetapi menyangkut arah pembangunan kawasan wisata. Menurutnya, Biduk-Biduk tidak boleh kehilangan identitasnya sebagai destinasi unggulan yang berpadu dengan potensi kelapa sebagai komoditas khas pesisir.

“Kalau 200 hektare itu direalisasikan, saya kira 100 hektarenya bisa ditempatkan di Biduk-Biduk. Kita tidak ingin daerah ini kehilangan ciri khasnya,” tegasnya.

Waris menyoroti bahwa kelapa bukan sekadar tanaman, melainkan memiliki nilai turunan ekonomi yang kuat mulai dari produk olahan, kuliner khas, hingga suvenir berbasis kelapa yang bisa terintegrasi dengan sektor pariwisata. Baginya, pengembangan kelapa justru dapat memperkuat daya tarik wisata, bukan menggantikannya.

Ia mengingatkan agar Biduk-Biduk tidak bergeser menjadi kawasan yang kehilangan karakter pesisirnya. Menurutnya, konsep pengembangan harus selaras. “Hubungannya dengan wisata itu besar. Kelapa bisa jadi identitas. Jangan sampai justru hilang,” ujarnya.

Politikus Partai Demokrat ini juga optimistis seluruh kampung di kawasan tersebut siap mendukung program penanaman jika ada komitmen kebijakan yang jelas. Ia melihat peluang ini sebagai strategi jangka panjang untuk memperluas basis ekonomi masyarakat, sekaligus menjaga kekhasan wilayah.

Kata dia, pembagian 100 hektare untuk Biduk-Biduk bukan sekadar angka, melainkan simbol keberpihakan pada keseimbangan antara pertanian dan pariwisata. “Kita ingin wisata tetap hidup, tapi masyarakat juga punya kekuatan ekonomi dari kelapa,” pungkasnya. (Adv26/Riska)

 

WhatsApp
Berita Terkini, Ikuti Saluran WhatsApp headlinekaltim.co

Gabung

LAINNYA
x