src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Teks Foto: Manajer UP3 Samarinda, Adrian Situmpol. (ns)HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA — Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Timur, termasuk Samarinda, dalam beberapa waktu terakhir menuai perhatian masyarakat. Gangguan ini membuat pelanggan harus menghadapi pemadaman dengan durasi hingga tiga jam, yang terjadi secara berkala setiap beberapa hari.
Menanggapi kondisi tersebut, PLN melalui Manajer UP3 Samarinda, Adrian Situmpol, memberikan penjelasan terkait penyebab utama gangguan listrik yang dirasakan pelanggan.
Ia menegaskan bahwa pemadaman yang terjadi bukan disebabkan oleh faktor lain seperti kondisi keuangan, melainkan karena adanya gangguan pada pembangkit listrik yang saat ini masih dalam tahap perbaikan.
“Penyebab utamanya karena terganggunya PLTU kami. Saat ini sedang dilakukan perbaikan, dan kami berharap pembangkit bisa segera beroperasi kembali sehingga pemadaman yang terjadi diperkirakan berakhir pada Juli,” ujar Adrian, Selasa (30/6/2026).
Ia menjelaskan, proses perbaikan pembangkit membutuhkan waktu karena menyangkut aspek teknis dan keselamatan kerja. PLN pun terus berupaya mempercepat penanganan agar sistem kelistrikan dapat kembali normal lebih cepat dari target.
“Kami upayakan bisa lebih cepat. Mohon doa dari masyarakat agar pekerjaan ini berjalan lancar dan segera selesai,” katanya.
Adrian mengakui bahwa pihaknya tidak dapat menjelaskan secara detail jenis kerusakan yang terjadi di pembangkit, karena hal tersebut berada di luar kewenangan unit pelayanan pelanggan.
Namun, ia memastikan, kondisi pembangkit saat ini memang belum dapat beroperasi secara optimal.
“Yang pasti pembangkitnya belum bisa beroperasi normal. Untuk detail teknisnya bukan di ranah kami, jadi kami tidak bisa menjelaskan lebih jauh,” jelasnya.
Ia menambahkan, sistem kelistrikan di wilayah Kalimantan Timur menggunakan jaringan interkoneksi, sehingga gangguan pada satu pembangkit dapat berdampak luas ke berbagai daerah. Wilayah yang terdampak meliputi Samarinda, Balikpapan, Bontang, hingga Berau dan sebagian Kalimantan Utara.
“Karena sistemnya interkoneksi, dampaknya dirasakan di banyak daerah, bukan hanya satu kota saja,” sebutnya.
Untuk meminimalisir dampak, PLN menerapkan manajemen beban melalui pemadaman bergilir yang telah dijadwalkan.
Setiap pelanggan umumnya mengalami pemadaman maksimal tiga jam, dengan interval sekitar tiga hari sekali. Jadwal tersebut disampaikan melalui kanal resmi PLN, termasuk media sosial dan kanal WhatsApp di masing-masing unit layanan.
“Pemadaman terjadwal sekitar 2 sampai 3 jam, dan biasanya pelanggan merasakannya setiap tiga hari sekali. Tapi kalau kondisi memungkinkan, kami tidak akan melakukan pemadaman,” terangnya.
Dalam pelaksanaannya, PLN juga menetapkan skala prioritas terhadap objek vital, terutama rumah sakit, agar tetap mendapatkan pasokan listrik selama kondisi memungkinkan. Hal ini dilakukan untuk menghindari risiko yang dapat membahayakan keselamatan jiwa.
Terkait dampak yang ditimbulkan, Adrian menyebutkan bahwa kerugian terbesar bagi PLN adalah dari sisi pelayanan dan kepercayaan publik.
Sementara bagi masyarakat, dampaknya bervariasi, terutama dirasakan oleh pelaku usaha yang sangat bergantung pada pasokan listrik.
“Bagi kami, yang paling terasa adalah dari sisi pelayanan. Kami menyadari belum bisa memberikan layanan terbaik, dan untuk itu kami mohon maaf kepada masyarakat,” katanya.
PLN juga menyiapkan mekanisme kompensasi bagi pelanggan apabila durasi pemadaman melebihi standar tingkat mutu pelayanan (TMP) yang telah diatur dalam regulasi.
Saat ini, perhitungan masih dilakukan untuk memastikan apakah kondisi yang terjadi sudah melampaui batas tersebut.
“Kalau pemadaman melebihi batas TMP, ada kompensasi yang diatur dalam peraturan. Saat ini masih kami hitung apakah sudah masuk kategori itu atau belum,” jelasnya.
Sebagai upaya percepatan pemulihan, seluruh pembangkit yang tersedia, termasuk pembangkit berkapasitas kecil, telah dioperasikan guna menambah pasokan listrik sementara.Langkah ini diambil untuk menekan durasi dan frekuensi pemadaman di tengah keterbatasan daya yang ada.
Kendati demikian, Adrian kembali menegaskan bahwa PLN terus berupaya maksimal untuk mengatasi gangguan yang terjadi, sembari berharap dukungan dari masyarakat agar proses perbaikan berjalan lancar dan sistem kelistrikan segera kembali normal.
“Insyaallah kita targetkan selesai Juli, tapi kami upayakan bisa lebih cepat. Mohon doa dari masyarakat agar semuanya berjalan lancar,” demikian Adrian. (ns)