src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Pedagang Pasar Pagi Minta Eskalator, Turunkan Retribusi dan Parkir hingga Area Kuliner Dipusatkan di Lantai Atas

Pedagang Pasar Pagi Minta Eskalator, Turunkan Retribusi dan Parkir hingga Area Kuliner Dipusatkan di Lantai Atas

waktu baca 3 menit
Kamis, 30 Jul 2026 19:42 23 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA — Di balik bangunan baru Pasar Pagi Samarinda yang tampak rapi dan modern, banyak pedagang justru menghadapi kenyataan yang jauh dari harapan. Aktivitas jual beli belum berjalan seperti yang dibayangkan, sementara beban biaya terus berjalan setiap hari.

Ketua Forum Pasar Pagi, Thoriq Hakim, yang juga merupakan pedagang di dalam gedung tersebut, menyebut kondisi pasar saat ini belum mampu memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi para pelaku usaha. Ia mengaku sejumlah pedagang bahkan kesulitan menutup biaya operasional karena minimnya transaksi.

“Kalau dulu kan saya punya tempat agak di depan, ya alhamdulillah. Sekarang ya kayak gini, lihat sendiri keadaan pasar ini,” ujarnya, Kamis 30 Juli 2026.

Sebagai perwakilan pedagang, Thoriq mengungkapkan pihaknya telah menyampaikan berbagai keluhan dan usulan kepada pemerintah kota melalui surat resmi kepada Wali Kota. Dalam surat tersebut, terdapat sekitar 10 poin yang diharapkan bisa menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kondisi pasar.

Salah satu usulan yang disampaikan adalah peningkatan akses pengunjung ke dalam gedung. Ia menilai, struktur bangunan yang tinggi dengan tangga yang cukup melelahkan membuat pengunjung enggan naik ke lantai atas. “Kami mengajukan agar tangga yang tinggi itu dipasang eskalator, supaya pengunjung enak aksesnya masuk ke dalam pasar,” usulnya.

Selain akses, persoalan biaya juga menjadi perhatian. Pedagang meminta agar retribusi serta tarif parkir dapat ditinjau ulang karena dinilai memberatkan, tidak hanya bagi pedagang tetapi juga bagi pengunjung.

“Kami minta retribusi diturunkan, biaya parkir juga terlalu mahal. Keluhan ini bukan hanya dari pedagang, tapi juga dari masyarakat,” tutur Thoriq.

Di sisi lain, persoalan penataan kios dinilai menjadi salah satu penyebab utama sepinya aktivitas jual beli. Thoriq menyebut, sistem klaster yang diterapkan membuat banyak pedagang mendapatkan kios di lokasi yang terpencar. Akibatnya, sulit untuk mengelola usaha secara efisien.

Ia sendiri memiliki lima kios yang seluruhnya berada di lantai tiga, namun tidak berada dalam satu deret. Kondisi ini memaksanya menambah jumlah karyawan karena setiap kios harus dijaga secara terpisah.

“Kalau tempatnya berpencar seperti itu, yang tadinya cukup dua karyawan, sekarang masing-masing toko harus nambah karyawan,” jelasnya.

Menurutnya, sistem pembagian kios seharusnya bisa disusun lebih fleksibel agar pedagang yang memiliki banyak unit bisa mengelola usahanya dalam satu area. Jika kios ditempatkan berdekatan, maka kemungkinan untuk membuka semua unit akan lebih besar.

Selain itu, banyak kios di lantai atas yang masih kosong karena minimnya pengunjung. Kondisi ini diperparah dengan penataan fasilitas yang dinilai kurang mendukung pergerakan pengunjung ke seluruh bagian gedung.

Salah satu contoh yang disoroti adalah penyebaran area kuliner di berbagai lantai. Thoriq menilai, jika seluruh food court dipusatkan di satu lokasi, misalnya di lantai atas, maka pengunjung akan terdorong untuk menjelajahi seluruh lantai sebelum mencapai titik tersebut. “Kalau food court dijadikan satu, orang pasti naik. Setelah makan, mereka turun dan melewati semua lantai, itu bisa memancing orang belanja,” tambahnya.

Ia juga menyoroti minimnya komunikasi antara pedagang dan pihak pengelola. Dikatakannya, forum pedagang sudah beberapa kali mencoba mengajukan audiensi kepada Dinas Perdagangan untuk berdiskusi dan memberikan masukan, namun hingga kini belum mendapatkan respons. “Kami sudah empat kali berkirim surat minta audiensi, tapi tidak pernah ditanggapi,” ungkapnya.

Bagi Thoriq dan para pedagang, kondisi ini bukan sekadar soal sepinya pembeli, tetapi juga menyangkut keberlangsungan usaha mereka ke depan. Ia menekankan, para pedagang tidak dalam posisi menolak kebijakan, melainkan ingin dilibatkan dalam mencari solusi karena mereka yang merasakan langsung dinamika di lapangan.

Pasar, kata dia, seharusnya dibangun dan dikelola dengan mempertimbangkan kebutuhan pedagang sebagai pengguna utama, bukan hanya dari sisi tampilan fisik semata. “Kalau dari segi estetik, sukses. Tapi dari segi fungsi, menurut saya gagal,” tukas Thoriq. (Retno)

LAINNYA
x