src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Pedagang di TAS memilih tidak membuka lapak karena pembeli yang kian sepi.(Sumber : Andri/Headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG- Pembeli di pasar kebanggaan milik Pemkab Kukar, Tangga Arung Square (TAS) kian berkurang sehingga banyak pedagang memilih menutup lapaknya. Pedagang mengaku makin sulit menghadapi kondisi ekonomi yang tak menentu. ”Ada saja yang beli, cuma jarang, nggak banyak,” sebut seorang pedagang, Wais, Senin 21 September 2026.
Jika dibandingkan dengan saat berjualan di pasar sementara berlokasi di lapangan pemuda, Wais mengaku pembeli lebih ramai. Perbandingannya bisa 50 persen. Dirinya menjual kaca mata dan jam tangan.
”Kalau yang beli enam di pasar lapangan pemuda, di TAS yang beli hanya tiga saja,” bandingnya.
Wais pernah bertanya ke pedagang yang memilih menutup kiosnya. Rata-rata mengaku bahwa pendapatan tidak sebanding dengan pengeluaran biaya sewa. Oleh karena itu, banyak pedagang akhirnya memilih menyewa kios di luar TAS. ” Kalau saya berusaha bertahan di TAS dulu,” ungkapnya.
Plt Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian(Disperindag) Kukar, Burhanuddin mengaku akan mengevaluasi pedagang TAS yang enggan membuka kiosnya di tengah upaya pemerintah untuk menghidupkan pusat perbelanjaan modern dan terbesar di Kota Raja ini. ”Kita sudah meminta ke pedagang untuk buat surat komitmen akan membuka kiosnya. Masih sekitar 200 kios dari total 700 kios yang masih belum buka secara penuh,” jelasnya.
Kondisi saat ini, kata dia, memang dipengaruhi kondisi keuangan daerah yang sedang mengalami efisiensi. Dana Transfer Keuangan Daerah (TKD) dari pemerintah pusat juga tidak penuh dibayarkan dan ini berdampak besar juga terhadap roda perekonomian. ”Bagaimana mau berbelanja, sedangkan pendapatan keuangan daerah alami penurunan. Masyarakat akan membeli kebutuhan pokok saja, seperti makan sehari-hari,” pungkasnya.(Andri)