src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta), Suid Saidi.HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG – Paradigma baru pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dinilai harus bergerak meninggalkan pola lama yang hanya menitikberatkan pada hafalan dan penyelesaian tugas semata.
Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta), Suid Saidi menegaskan, tantangan pendidikan modern menuntut perubahan pendekatan dalam proses belajar mengajar, khususnya pada mata pelajaran PAI di tingkat SMA hingga perguruan tinggi.
Menurutnya, pola pembelajaran lama yang selama ini dominan diterapkan belum sepenuhnya mampu membangun kesadaran spiritual, karakter, serta kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam menghadapi perkembangan zaman. “Kalau memakai pola lama, lebih banyak menekankan hapalan dan penyelesaian tugas saja,” ujar Suid Saidi, Sabtu 23 Mei 2026.
Ia menjelaskan, pendekatan deep learning dalam pembelajaran PAI lebih menekankan pada pemaknaan nilai agama secara mendalam. Peserta didik tidak hanya dituntut memahami teori keislaman, tetapi juga mampu merefleksikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Konsep pembelajaran reflektif menjadi salah satu poin penting dalam metode ini. Mahasiswa didorong untuk aktif mengevaluasi sikap, perilaku, serta penerapan nilai keagamaan di lingkungan sekolah, kampus, hingga masyarakat.
Selain itu, ruang diskusi dinilai harus diperkuat agar pembelajaran agama tidak berlangsung monoton dan satu arah. Aktivitas seperti analisis kasus hingga problem solving berbasis nilai Islam dianggap mampu membuat peserta didik lebih aktif dalam proses belajar.“Aktif berdiskusi bagi peserta didik juga sangat penting, analis kasus serta problem solving,” jelasnya.
Doktor pendidikan lulusan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) tersebut menambahkan, penerapan deep learning dalam PAI memiliki implikasi besar terhadap pembentukan karakter peserta didik. Pembelajaran tidak lagi berhenti pada aspek kognitif, melainkan menyentuh aktualisasi nilai akhlak, iman, serta praktik ibadah dalam kehidupan nyata.
Dengan pendekatan itu, siswa akan lebih mudah menghubungkan nilai-nilai agama dengan kondisi sosial di lingkungan sekitar. Kesadaran menjalankan nilai keislaman juga diyakini tumbuh secara alami karena dipahami secara mendalam, bukan sekadar dihafal.
Menurut Suid, peran modul pembelajaran juga menjadi elemen penting dalam mendukung keberhasilan deep learning. Modul tidak hanya berfungsi sebagai bahan ajar, tetapi juga menjadi panduan pengalaman belajar yang lebih terstruktur dan kontekstual.
Melalui modul tersebut, guru maupun dosen dapat mengarahkan peserta didik untuk memahami persoalan kehidupan melalui perspektif nilai Islam. Pendekatan kontekstual itu dianggap relevan dengan kondisi generasi muda yang kini hidup di tengah derasnya perkembangan teknologi dan arus informasi digital. “Integrasikan nilai kognitif, afektif, psikomotorik dan spiritual,” tekannya.
Ia menilai, pembelajaran PAI saat ini tidak cukup hanya dilakukan secara seremonial di ruang kelas. Guru dituntut mampu menghadirkan suasana belajar yang hidup, terbuka, dan mampu memantik rasa ingin tahu peserta didik terhadap nilai-nilai agama.
Karena itu, modul diskusi pemantik juga dinilai penting agar proses pembelajaran menjadi lebih aktif. Peserta didik didorong mengeksplorasi berbagai persoalan sosial dan mencari solusi berdasarkan prinsip-prinsip keislaman.
Tak hanya itu, asesmen autentik juga perlu diterapkan sebagai bentuk evaluasi tindak lanjut dari materi yang telah disampaikan guru maupun dosen. Evaluasi tidak hanya berorientasi pada nilai angka, tetapi juga perubahan sikap dan penerapan nilai dalam kehidupan sehari-hari.
Suid mengingatkan, tantangan pendidikan anak muda saat ini semakin kompleks. Kemajuan teknologi digital menghadirkan kemudahan akses informasi, namun di sisi lain juga membuka ruang besar terhadap pengaruh negatif yang dapat memengaruhi karakter generasi muda.
Karena itu, keberadaan pembelajaran PAI yang kuat dan relevan dinilai semakin penting. Pendidikan agama harus mampu menjadi fondasi moral di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat.
Ia juga menyoroti beban administratif guru yang saat ini cukup tinggi. Menurutnya, kondisi tersebut sering kali membuat guru lebih fokus menyelesaikan administrasi dibanding memperkuat kualitas pembelajaran di kelas.
Padahal, pendidikan karakter membutuhkan keterlibatan aktif guru dalam membimbing peserta didik secara langsung, bukan sekadar memenuhi target administrasi pembelajaran.
“Mendidik anak sangat penting dari hanya sekedar pembelajaran seremonial, ditengah para guru sudah dibebankan dengan berbagai tugas administrasi yang perlu dilakukan sebagai evaluasi,” pungkasnya. (Andri)