24.9 C
Samarinda
Friday, January 21, 2022

Media Sosial, Faktor Krisis Moral Generasi Z dan Alpha

Oleh: Shiba Syahidah*

DATA Social-Hootsuite mengungkapkan selama pandemi pengguna internet di Indonesia tumbuh 15,5 persen atau sebesar 27 juta orang pada Januari 2021. Sementara pengguna media sosial aktif ikut tumbuh 6,3 persen atau 10 juta orang. Dari hasil riset bertajuk “Neurosensum Indonesia Consumers Trend 2021: Social Media Impact on Kids” oleh perusahaan riset independen berbasis kecerdasan buatan (AI), Neurosensum. diungkapkan bahwa SEKITAR 87% anak-anak di Indonesia sudah dikenalkan media sosial sebelum menginjak usia 13 tahun.

Bagi anak muda, rasanya tanpa bersosial media hidup terasa sangat membosankan. Namun mirisnya, dampak-dampak negatif kerap dikesampingkan. Khususnya bagi generasi alpha yang belum begitu mengerti tayangan mana yang boleh di tonton dan yang tidak boleh ditonton. Hal ini dapat  mempengaruhi tingkat moral yang dimiliki oleh generasi z dan alpha. apa yang mereka saksikan di sosial media, kebanyakan itulah yang menjadi acuan mereka berperilaku.

Seperti penggunaan kata-kata kasar, yang biasa kerap muncul di aplikasi-aplikasi game. baik melalui interaksi langsung dengan lawan main online, maupun dari pengaturan aplikasi tersebut. Tayangan-tayangan yang kerap memunculkan lekukan-lekukan tubuh wanita diiringi musik remix dan gerakan-gerakan yang tidak layak ditonton oleh mereka yang masih dibawah umur, bahkan saat ini sudah dianggap hal biasa. Begitu juga penggunaan simbol-simbol tangan yang bermakna kasar yang kerap dilakukan oleh orang dewasa, kini tak sedikit kita jumpai anak-anak dibawah umur melakukan hal yang sama.

Sistem belajar online selama pandemi kerap menjadi alasan sebagian orang tua membiarkan anaknya memiliki gadget sendiri. Sehingga tak jarang sang anak justru menyalahgunakan kesempatan yang diberikan oleh orangtuanya. Tak sedikit pula tuntutan pekerjaan membuat orangtua memberikan akses gadget untuk anaknya. Seperti yang diungkapkan oleh CEO NeuroSensum & SurveySensum Penggunaan media sosial di rumah tangga berpenghasilan rendah dimulai saat anak berusia sekitar 7 tahun, lebih awal dibandingkan dengan rumah tangga berpenghasilan menengah ke atas, yaitu 9 tahun.

Meski belum memenuhi batas bawah usia akun media social, para orangtua pada akhirnya memberikan akses media social agar anak sibuk dan orangtua dapat fokus mengerjakan pekerjaan mereka . Padahal, pendampingan orangtua sejak dini hingga dewasa khususnya terkait sosial media serta dibarengi dengan penanaman nilai-nilai agama sangat diperlukan dan mempengaruhi kualitas moral sang anak. Sebagai solusi, orangtua perlu mencarikan kegiatan ekstrakulikuler untuk anak sehingga mengurangi kesempatan mereka untuk bermain gadget.

Masa depan Indonesia beberapa tahun kedepan akan ada ditangan generasi mereka, apa yang akan terjadi jika dari usia dini mereka telah terbiasa dengan perkataan, perilaku yang tidak baik? bisa saja kejahatan besar dimasa yang akan datang juga dianggap biasa-biasa saja. Ciri khas bangsa Indonesia yang dikenal masyarakat dunia sebagai masyarakat yang ramah dan bermoral pun perlahan akan pudar. inilah yang menjadi tugas kita sebagai mahasiswa generasi milenial dan zilenial.

Sebagai kakak-kakak mereka, jangan lupa generasi selanjutnya bercermin pada generasi sebelumnya. Miris, bukan? Melihat video anak SD yang beramai-ramai berjoget dengan menunjukkan bagian-bagian tubuh yang kurang pantas? lebih miris lagi jika kita menganggapnya sebagai hal yang lumrah. So, sebagai mahasiswa yuk jadi pelopor moral demi kemajuan bangsa dan negara.

*Mahasiswa, Kelahiran Balikpapan, dapat dihubungi di shibasyahidah27@gmail.com.

 

 

 

 

 

Komentar

LIHAT JUGA

- Advertisement -

TERBARU