27.8 C
Samarinda
Thursday, June 30, 2022

Inflasi Kaltim Terkendali

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kaltim Tutuk SH Cahyono memastikan, inflasi di Kaltim masih terkendali hingga saat ini.

Kondisi tersebut. kata dia, terjadi karena permintaan menurun, seiring dengan penurunan mobilitas masyarakat di masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

“Inflasi sekarang sangat terkendali, tapi yang penting kita harus yakinkan bahwa pasokan cukup,” ujarnya pada awak media, usai menghadiri acara penyerahan penghargaan TPID Award 2021, Jumat kemarin.

Dikatakan Tutuk, pihaknya terus berkomunikasi dan berkoordinasi dengan Pemerintah Kota maupun Kabupaten, untuk meyakinkan pasokan khususnya bahan pokok masih cukup hingga beberapa bulan ke depan. Meskipun kata dia, kondisi perkembangan COVID-19 saat ini di Kaltim mulai melandai dan menurunnya mobilitas masyarakat.

Dia melanjutkan, Kaltim menjadi daerah yang terus dijaga inflasinya, utamanya pada bahan pangan.

“Yang menjadi perhatian semua pihak, bagaimana Kaltim itu defisit dari neraca pangan dari seluruh bahan pokok ada 10, ini terus kami pantau dan semua relatif defisit. Mulai bawang putih, bawang merah, telur karena sebagian mengambil dari luar. Jadi harus dikuatkan fungsi distribusi dan pasokannya,” terangnya.

Tutuk menyebut, pentingnya meyakinkan dan mengendalikan mekanisme pasar sehingga, efisien margin perdagangan berjalan normal.

Dia menerangkan, inflasi bahan pangan ada 3 yakni, inflasi inti, yaitu Inflasi yang diatur oleh pemerintah. Lalu inflasi bahan pangan yang pasokannya harus dijaga dengan meningkatkan hasil petani lokal serta menumbuhkan produksi di Kaltim.

“Kalau kurang, kita minta fungsi penyangga untuk bisa jalan. Seperti Samarinda, dia kuat PDPAU-nya, sehingga kita harapkan provinsi juga punya PDPAU yang bisa digerakkan bersama dengan pihak swasta yang peduli pada pemerintah untuk menjaga kestabilan pangan. Supaya kalau harga pangan terkendali, maka secara umum inflasi juga terkendali,” ujarnya.

“Intinya, ketika proses banyak maka permintaan banyak. Semakin banyak kegiatan ekonomi, permintaan juga akan tinggi dan inflasi bagus. Tapi berapapun permintaan, tapi pasokan rendah atau terhambat, ya inflasi terganggu juga. Jadi antara permintaan dan penawaran harus seimbang,” pungkas Tutuk.

Penulis : Ningsih

Komentar
- Advertisement -

LIHAT JUGA

- Advertisement -

TERBARU