src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Ilustrasi Zodiak. (Unsplash – Jakub Pabis) HEADLINEKALTIM.CO – Fenomena ramalan zodiak semakin populer di tengah masyarakat modern, termasuk di Indonesia. Banyak orang membaca ramalan harian mereka untuk mengetahui nasib percintaan, keuangan, hingga karier berdasarkan posisi bintang. Namun, dalam pandangan Islam, kepercayaan terhadap zodiak memiliki hukum yang tegas.
Dilansir dari liputan6, Astrologi sendiri berasal dari bahasa Yunani yang berarti ilmu tentang bintang-bintang. Sistem ini meyakini bahwa posisi benda langit seperti planet dan bintang dapat memengaruhi kehidupan manusia. Dalam praktiknya, astrologi membagi zodiak menjadi 12 tanda, seperti Aries, Taurus, Gemini, hingga Pisces, yang masing-masing dikaitkan dengan karakter dan nasib tertentu.
Namun, Islam memandang bahwa kepercayaan terhadap ramalan zodiak atau astrologi adalah haram dan termasuk dalam perbuatan syirik. Hal ini karena ramalan zodiak dianggap menyandarkan takdir kepada selain Allah SWT.
Mengutip penjelasan dalam Fathul Majid Syarh Kitab Tauhid karya Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, mempercayai ramalan termasuk dalam kategori mendatangi tukang ramal (kaahin) yang dilarang keras oleh agama.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa mendatangi tukang ramal atau dukun, lalu ia membenarkan apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, dan Al-Hakim)
Hadis tersebut menegaskan bahwa mempercayai ramalan termasuk pelanggaran serius terhadap ajaran tauhid. Hanya Allah SWT yang mengetahui perkara gaib dan masa depan makhluk-Nya.
Islam menegaskan bahwa tidak ada satu pun makhluk di langit maupun di bumi yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah SWT.
Allah berfirman dalam QS. An-Naml ayat 65:
“Katakanlah: Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.”
Ayat serupa juga terdapat dalam QS. Al-An’am ayat 59, yang menjelaskan bahwa seluruh pengetahuan tentang yang tampak dan tersembunyi hanya milik Allah. Bahkan sehelai daun yang gugur pun diketahui oleh-Nya.
Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan, ayat-ayat ini menegaskan keesaan Allah dalam ilmu dan kekuasaan-Nya. Siapa pun yang mengaku mengetahui hal gaib atau mempercayai orang yang mengaku demikian, berarti telah menyekutukan Allah.
Dalam QS. Al-Jinn ayat 26–27, Allah menegaskan bahwa ilmu gaib hanya diberikan kepada para rasul pilihan untuk menyampaikan wahyu. Sementara manusia biasa tidak memiliki kemampuan mengetahui masa depan.
QS. Luqman ayat 34 juga memperjelas:
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, mengetahui apa yang ada dalam rahim, dan tiada seorang pun yang mengetahui apa yang akan diusahakannya besok.”
Menurut Tafsir Al-Misbah karya Prof. M. Quraish Shihab, ayat ini menunjukkan keterbatasan manusia dalam mengetahui masa depan. Karena itu, mempercayai ramalan, termasuk zodiak, merupakan bentuk penyimpangan akidah.