24.9 C
Samarinda
Monday, October 18, 2021

Heldy Djafar, Gadis Tenggarong yang Dikira Bung Karno Perempuan Sunda karena Pesona Kecantikannya

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Kabar duka itu datang. Heldy binti Jafar meninggal dunia di Rumah Sakit Cipta Mangun Kusumo (RSCM) Jakarta, Minggu 10 Oktober 2021 pukul 22.00 WIB. Mungkin tak banyak yang mengenal sosok perempuan yang pernah menjadi istri terakhir Presiden Soekarno ini.

Suatu hari di Istana Negara. Tahun 1964. Barisan Bhineka Tunggal Ika bersiap diri. Barisan ini terdiri dari remaja putra-putri dari berbagai daerah se-Indonesia. Pagar ayu. Berpakaian daerah nusantara.

Kala itu, Istana Negara punya tradisi menyambut tamu-tamu penting kenegaraan. Barisan Bhineka Tungga Ika adalah bagian dari keprotokoleran. Kali ini, barisan tersebut disiapkan untuk menyambut Tim Piala Thomas yang baru pulang sebagai jawara.

Presiden Soekarno, menaiki satu persatu anak tangga. Matanya melihat ke kanan dan kiri. Dia memandangi satu persatu remaja-remaja di barisan pagar ayu itu.

Tiba-tiba, Si Bung Besar berhenti. Matanya tertumbuk pada seorang remaja putri berparas cantik. Lalu menepuk bahu kiri perempuan yang terlihat segar dalam keremajaannya.

“Dari mana asal kamu?”

“Dari Kalimantan, Pak.”

Oh, Aku kira dari Sunda. O, ada orang Kalimantan cantik.”

Adegan dan dialog tersebut digambarkan dalam buku Heldy Cinta Terakhir Bung Karno karya Ully Hermono dan Peter Kasenda, terbit Juni 2011, Penerbit Buku Kompas. (hal.49)

Perempuan itu, Heldy Djafar. Kelahiran Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kaltim, 10 Agustus 1947. Sejak dialog pertama kali di tangga istana kepresidenan itu, si gadis Kutai nan jelita telah mendapat tempat di hati Bung Karno. Heldy sendiri tak pernah menyangka.

Setiap kali Barisan Bhineka Tungga Ika bertugas, mata Bung Karno nyaris tak pernah lepas dari gerak-gerik Heldy. Satu ketika, Sang Presiden menegurnya. Mengoreksi sanggul, kain dan cara berkebayanya.

Di kesempatan lain, semua anggota barisan diwajibkan menyanyi di depan Presiden. Siapa yang diminta pertama kali tampil? Sudah barang tentu, Heldy!

Hingga akhirnya, sebuah ajakan itu datang. “Nanti kau lenso (menari) sama aku ya. Sini kau duduk dekat aku.” (Heldy Cinta Terakhir Bung Karno, hal. 58)

Heldy gemetar. Di antara para pembesar negara, tamu-tamu penting dan artis kenamaan di masa itu, dia menari lenso. Lengan kanan Presiden memeluk pinggang kecilnya. Tangan kirinya kian basah oleh keringat saat digenggam oleh Sang Pemimpin Besar Revolusi.

Kelak, setelah serangkaian pertemuan dan aktivitas bertamu Bung Karno ke kediamannya, Heldy resmi menjadi istri ke-9. Saksi pernikahan, Ketua Dewan Pertimbangan Agung Idham Chalid. Bertindak selaku wali sang Kakak Erham Djafar. Turut hadir Menteri Agama KH Saifuddin Zuhri. Pernikahan dihelat di Wisma Negara, 11 Juni 1966. Usia keduanya terpaut 47 tahun.

KABAR DUKA

Mungkin tak banyak yang mengenal sosok Heldy. Hal ini juga yang diungkapkan mantan Menteri Pemuda dan Olah Raga Roy Suryo saat mengabarkan kepergian Heldy lewat akun twitternya, @KRMTRoySuryo2. Dia juga mengunggah foto-foto para istri Bung Karno.

Innalillahi wa innaillaihi rojiun … Telah wafat Istri ke-9 Bung Karno hari ini, Heldy Djafar (Lahir 11 Juni 1947) dalam Usia 74th. Mungkin tdk banyak yg tahu bahwa Proklamator / Presiden RI pertama kita tsb memiliki 9 Istri yg syah. Belum lagi yg “terlupakan” Sejarah. JAS MERAH”.

Kabar ini dibenarkan oleh keponakan almarhumah, Akhmad Salbani. “Benar (meninggal dunia), benar tadi malam jam 10 waktu Jakarta,” kata Salbani saat dihubungi, Senin 11 Oktober 2021, dikutip dari Sindonews.com.

Salbani menceritakan, almarhumah yang disebut-sebut sebagai cinta terakhir Bung Karno ini mengembuskan napas terkahirnya di RSCM. “Meninggalnya di RSCM, RS Cipto Mangun Kusumo,” terangnya.

Salbani sendiri merupakan anak dari saudara sepupu Heldy Djafar, yang tinggal di Kalimantan Timur (Kaltim). “Ya, saya keponakan ibu, ibu saya masih sepupu dengan almarhumah,” katanya.

Dalam sebuah pesan yang beredar, rumah duka beralamat di The Savia, Cluster Visana Blok L6 No 7 BSD City, Serpong, Tangsel, Banten.

“Mohon dimaafkan segala kesalahannya. Semoga amal-ibadahnya diterima oleh Allah Swt. Aamiin YRA,” tulis pesan tersebut.

Pernikahan Heldy dan Soekarno hanya bertahan dua tahun. Heldy tahu benar, pernikahannya dengan Bung Karno berlangsung di saat suasana politik memanas setelah peristiwa G30S/PKI. Dia tetap mengabdi layaknya seorang istri. Memperlakukan suami dengan penuh cinta.

Namun, sejak Soekarno menjadi tahanan di Wisma Yaso, Jalan Gatot Subroto, komunikasi keduanya pun kandas. Akhirnya, pada 19 Juni 1968,  Heldy yang berusia 21 tahun menikah lagi dengan Gusti Suriansyah Noor, keturunan dari Kerajaan Banjar. Pernikahan itu dihadiri Idham Chalid, Johanes Leimena, dan Rahmi Hatta.

Gusti yang sejak dulu naksir dengan Heldy pernah diingatkan kawan-kawannya. “Gusti, Heldy sudah dengan Bung Karno!” Pria yang kelak menjadi pegawai Departemen Pekerjaan Umum dan Pimpro di Kalimantan Selatan ini berujar santai, ”Biarlah nanti kalau jodoh kan tidak kemana, dia akan jadi istriku.”

Penulis: redaksi headlinekaltim.co

 

Komentar
- Advertisement -

LIHAT JUGA

- Advertisement -

TERBARU