HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA - Dengan fungsi yang vital sebagai urat nadi mobilitas dan distribusi di Samarinda, kondisi Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) justru dinilai jauh dari kata layak. Bagi warga di sekitarnya, jembatan ini seperti berjalan tanpa perhatian serius dari pemerintah. Secara fisik tampak megah, tetapi dari sisi perawatan dan kelengkapan justru tertinggal. Kesannya, jembatan ini “dianaktirikan”. Terutama jika dibandingkan dengan jembatan lain di kota ini. Situasi ini mendorong Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) Kelurahan Loa Buah mengambil langkah lebih jauh dengan melayangkan surat terbuka kepada Gubernur Kalimantan Timur. Perwakilan FKPM Kelurahan Loa Buah, Sabil Husein menyebut, langkah tersebut diambil setelah berbagai keluhan yang sebelumnya disampaikan dinilai belum mendapat respons maksimal dari pemerintah. [caption id="attachment_179346" align="alignnone" width="840"] Perwakilan FKPM Kelurahan Loa Buah, Sabil Husein. (Foto: Retno/Headlinekaltim.co)[/caption] “Kami sudah coba angkat lewat media, tapi responsnya masih lambat. Karena itu kami buat surat terbuka supaya ada perhatian dan tindak lanjut yang jelas,” ungkapnya, Senin 20 Juli 2026. Pihaknya kerap memantau langsung kondisi jembatan. Dari pengamatan itu, berbagai persoalan disebut terus berulang tanpa ada penyelesaian yang tuntas. Kerusakan pada bagian sambungan jalan menjadi salah satu yang paling sering terjadi dan dikeluhkan pengguna. “Kami sudah berapa kali memperhatikan perbaikan di Jembatan Mahulu itu hanya bertahan sekitar 15 hari, bahkan kurang. Setelah itu rusak lagi dan begitu terus selama beberapa bulan terakhir,” tuturnya. Kerusakan pada expansion joint kerap memunculkan lubang yang cukup dalam dan membahayakan, terutama bagi pengendara roda dua. Kondisi ini membuat pengguna jalan harus ekstra waspada saat melintas, terlebih bagi mereka yang belum familiar dengan kondisi jembatan tersebut. Perbaikan yang dilakukan selama ini dinilai belum menyentuh akar persoalan. Selain kerusakan jalan, minimnya fasilitas pendukung juga menjadi sorotan. Pada malam hari, kondisi jembatan cenderung gelap karena penerangan yang tidak memadai. Tidak terlihat pula rambu lalu lintas maupun kamera pengawas yang seharusnya menjadi standar keamanan di jalur vital. “Penerangan sangat minim, tidak ada rambu, tidak ada CCTV. Ini jelas membahayakan pengguna jalan, terutama di malam hari,” ujar Sabil. Dampaknya bukan sekadar potensi bahaya, tetapi sudah nyata terjadi di lapangan. Berbagai insiden kerap terjadi, mulai dari kecelakaan lalu lintas hingga kejadian darurat yang melibatkan masyarakat. Bahkan, FKPM mengaku beberapa kali harus turun langsung membantu proses evakuasi. “Kami di FKPM sudah beberapa kali membantu evakuasi di lokasi, bahkan sampai ada kejadian percobaan bunuh diri di sana. Itu jadi perhatian serius karena kondisi jembatan memang gelap,” katanya. Minimnya penerangan serta kondisi jembatan yang relatif sepi pada waktu tertentu dinilai turut memperbesar risiko kejadian tersebut. Hal ini menambah daftar persoalan yang seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah, tidak hanya dari sisi infrastruktur tetapi juga aspek keselamatan. Metode perbaikan yang dilakukan selama ini juga dinilai belum efektif. Penanganan yang bersifat tambal sulam dianggap hanya menjadi solusi sementara dan tidak menyelesaikan masalah secara menyeluruh. Akibatnya, kerusakan terus berulang di titik yang sama. “Perbaikan yang dilakukan selama ini hanya tambal sulam. Akibatnya permukaan jalan jadi bergelombang dan membentuk gundukan seperti polisi tidur, itu berbahaya bagi pengendara,” tambahnya. Kondisi tersebut berisiko bagi pengendara yang melintas dengan kecepatan tinggi. Permukaan jalan yang tidak rata dapat menyebabkan kendaraan kehilangan kendali, terutama bagi pengguna yang tidak mengetahui kondisi jalan sebelumnya. Di sisi lain, aspek perawatan rutin juga dinilai luput dari perhatian. Dari pantauan di lapangan, terlihat sampah yang menumpuk serta rumput liar yang tumbuh di beberapa bagian jembatan. Hal ini memperkuat kesan bahwa tidak ada perawatan berkala yang dilakukan. “Kalau dilihat di lapangan, kebersihannya juga tidak terurus. Sampah ada di mana-mana, bahkan rumput liar sudah mulai tumbuh,” imbuh Sabil. Padahal, peran Jembatan Mahulu sangat krusial dalam menunjang aktivitas masyarakat. Hampir seluruh mobilitas warga, distribusi barang, hingga kegiatan ekonomi bergantung pada jalur ini. Posisi strategis jembatan menjadikannya sebagai salah satu infrastruktur utama di Samarinda. “Semua aktivitas masyarakat lewat sini, baik untuk kerja, sekolah, sampai distribusi barang. Tapi kondisinya justru seperti ini,” tuturnya. Melalui surat terbuka yang telah dilayangkan, FKPM berharap pemerintah provinsi dapat segera mengambil langkah konkret. Tidak hanya perbaikan sementara, tetapi penanganan menyeluruh yang berkelanjutan agar kondisi jembatan benar-benar layak dan aman digunakan. “Kami berharap pemerintah segera turun tangan dan ada tindakan nyata, karena ini menyangkut keselamatan dan kepentingan orang banyak,” demikian Sabil. (Retno) Berita Terkini, Ikuti Saluran WhatsApp headlinekaltim.co Gabung