src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Empat Jam Keliling Pasar Pagi, Iswandi Buktikan Derita Pedagang Sepi Pembeli

Empat Jam Keliling Pasar Pagi, Iswandi Buktikan Derita Pedagang Sepi Pembeli

waktu baca 3 menit
Kamis, 30 Jul 2026 20:06 26 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA — Deretan kios yang rapi dan bangunan yang berdiri megah belum mampu menjamin hidupnya aktivitas jual beli di Pasar Pagi Samarinda. Di balik tampilan fisiknya, banyak pedagang justru bertahan dalam kondisi sepi pembeli, bahkan ada yang berbulan-bulan tidak mendapatkan transaksi.

Kondisi itu dilihat langsung oleh Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) pada Kamis, 30 Juli 2026. Selama kurang lebih empat jam, ia menyusuri hampir seluruh bagian gedung, mulai dari lantai terbawah hingga lantai tujuh, sekaligus berdialog dengan para pedagang di berbagai titik.

Dari hasil peninjauan tersebut, Iswandi menyebut sebagian besar pedagang mengeluhkan minimnya pembeli. Ia bahkan mendapati ada pedagang yang dalam tiga bulan terakhir belum berhasil menjual barang dagangannya, sementara yang lain hanya mampu mencatat satu transaksi dalam beberapa hari.

Situasi ini, menurutnya, menunjukkan bahwa pasar yang dibangun dengan fasilitas lengkap itu belum berfungsi maksimal sebagai penggerak ekonomi masyarakat. Aktivitas jual beli belum merata, bahkan di beberapa lantai terlihat lesu.

“Memang sangat miris bahwa pasar semegah ini ternyata pedagangnya tidak mendapat manfaat apa-apa secara ekonomis,” katanya.

Sepinya pembeli berdampak langsung pada kondisi psikologis para pedagang. Iswandi menggambarkan suasana pasar yang didominasi wajah-wajah murung, di tengah beban biaya operasional dan kewajiban retribusi yang tetap berjalan.

“Kalau saya keliling dari lantai 1 sampai lantai 6, jarang sekali melihat yang tersenyum. Semua merengut sedih, merengut pusing nanti bayar retribusi, sementara dagangannya belum laku, atau macam-macam,” tutur Iswandi.

Tak hanya persoalan jumlah pembeli, ia juga menemukan masalah lain yang lebih kompleks, termasuk banyaknya kios yang belum ditempati. Dari hasil penelusuran di lapangan, penyebabnya tidak sesederhana dugaan awal.

Beberapa pedagang diketahui memiliki lebih dari satu kios yang lokasinya tersebar di titik berbeda. Kondisi ini membuat mereka kesulitan membuka seluruh kios karena biaya operasional yang harus dikeluarkan tidak sebanding dengan pemasukan yang didapat. “Ada yang punya 2–3 kios tapi tersebar, sementara satu kios saja tidak menghasilkan,” jelasnya.

Selain itu, penempatan kios yang tidak strategis juga menjadi keluhan. Sejumlah pedagang yang berada di bagian belakang mengaku jarang dikunjungi pembeli, sehingga aktivitas jual beli nyaris tidak berjalan.

Persoalan tersebut membuat Iswandi menilai perlu adanya evaluasi menyeluruh, tidak hanya dari sisi pengelolaan pasar, tetapi juga dari perencanaan tata letak dan distribusi pedagang. Komisi II, lanjutnya, berencana mengumpulkan berbagai pihak untuk duduk bersama, mulai dari pedagang, Dinas Perdagangan, Dinas Perhubungan, hingga instansi teknis lainnya. Langkah ini diharapkan bisa membuka jalan keluar dari berbagai persoalan yang saling berkaitan.

“Ke depannya kita akan duduk bersama para pedagang, dinas perdagangan, dinas perhubungan, termasuk inspektorat, untuk mencari solusi,” imbuhnya.

Iswandi menegaskan pendekatan yang dilakukan tidak akan berfokus pada saling menyalahkan, melainkan mencari solusi bersama agar aktivitas ekonomi di pasar bisa kembali bergerak. Ia juga membuka kemungkinan melibatkan Dinas PUPR untuk membahas persoalan teknis bangunan, seperti keluhan tempias air dan lainnya.

Menurutnya, kondisi saat ini tidak boleh dibiarkan berlarut, mengingat banyak masyarakat yang menggantungkan hidup di pasar tersebut. “Jadi jangan sampai kita melihat pasar ini bagus, indah secara estetik, tapi secara fungsinya sangat memprihatinkan, seperti yang kita lihat tadi,” tambahnya.

Persoalan secara menyeluruh juga turut dibedah, termasuk meninjau ulang konsep penataan kios dan sistem klaster yang diterapkan saat ini. Iswandi menekankan pentingnya kerja bersama lintas instansi agar solusi yang dihasilkan tidak parsial dan benar-benar menyentuh akar persoalan. “Nanti kita yang panggil dari Komisi II. Memang harus duduk bersama, ini harus lintas OPD, harus duduk bersama. Kita sama-sama turunkan ego nanti, ya kita cari solusi,” tandas Iswandi. (Retno)

LAINNYA
x