src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Dari Bangun Pukul 04.00 hingga Apel Malam, Begini Rutinitas Siswi Sekolah Rakyat Samarinda

Dari Bangun Pukul 04.00 hingga Apel Malam, Begini Rutinitas Siswi Sekolah Rakyat Samarinda

waktu baca 4 menit
Sabtu, 31 Okt 2026 18:38 9 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Kehidupan para siswi di asrama Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) Terintegrasi 2 Samarinda berlangsung dengan rutinitas yang terjadwal sejak pagi hingga malam. Mulai dari bangun sebelum subuh, merapikan tempat tidur, mengikuti kegiatan belajar, hingga apel malam menjadi bagian dari keseharian mereka selama tinggal di asrama.

Wali Asrama SRMP Terintegrasi 2 Samarinda, Jamila, mengatakan saat ini terdapat 84 siswi putri yang tinggal di asrama dengan kapasitas keseluruhan mencapai 128 orang. Berbagai kegiatan telah disusun untuk membentuk kebiasaan disiplin sekaligus melatih kemandirian siswa dalam menjalani kehidupan bersama.

Aktivitas dimulai sekitar pukul 04.00 WITA. Setelah bangun tidur, para siswi dibiasakan merapikan tempat tidur dan mandi sebelum melaksanakan salat subuh. Kegiatan ibadah juga melibatkan siswa secara langsung melalui bidang kerohanian yang dibentuk di lingkungan asrama.

Dalam pelaksanaannya, para siswi mendapat giliran untuk menjadi imam maupun petugas ikamah. Setelah salat subuh, mereka melanjutkan kegiatan dengan membersihkan kamar sesuai jadwal piket, kemudian mempersiapkan diri untuk sarapan.

Sebelum makan pagi sekitar pukul 06.00 WITA, wali asrama melakukan baris dan penghitungan jumlah siswa. Pendataan tersebut dilakukan untuk mengetahui jumlah siswa yang hadir, sedang sakit di asrama, maupun yang sedang pulang atau izin.

Setelah sarapan, para siswi diantar menuju sekolah dan disambut oleh guru piket. Proses pembelajaran berlangsung hingga siang hari. Mereka kemudian kembali ke asrama untuk melaksanakan salat dan makan siang sebelum melanjutkan kegiatan belajar di sekolah.

Jam pulang sekolah berbeda antara siswa kelas VII dan VIII. Siswa kelas VII umumnya kembali sekitar pukul 14.30 WITA, sedangkan kelas VIII sekitar pukul 15.00 WITA. Setelah itu, mereka melaksanakan salat asar bersama dan mendapat waktu untuk beristirahat serta mengurus kebutuhan pribadi.

Jamila menjelaskan, waktu luang tersebut dimanfaatkan siswa untuk berbagai kegiatan sederhana, seperti melipat pakaian, mengambil jemuran, mandi, hingga mencuci. Mereka juga diberikan kesempatan bermain hingga pukul 18.00 WITA, kecuali pada hari ketika terdapat kegiatan ekstrakurikuler sore.

“Kalau setelah salat Asar itu ada kegiatan free and easy. Macam-macam, bisa bercengkerama di dalam kamar sambil melipat pakaian, mengambil pakaian yang sudah dijemur, mandi, mencuci dan sebagainya,” jelas Jamila belum lama ini.

Memasuki malam hari, kegiatan kembali berjalan sesuai jadwal. Setelah makan malam dan melaksanakan salat magrib serta isya, para siswi mengikuti kegiatan belajar bersama wali asuh masing-masing. Rangkaian aktivitas kemudian ditutup dengan apel malam untuk memeriksa keberadaan seluruh siswa, termasuk mereka yang sedang sakit atau pulang.

Selain pengaturan aktivitas harian, pihak asrama juga menyediakan sejumlah fasilitas penunjang. Di dalam gedung terdapat enam kamar tidur yang terbagi di lantai bawah dan atas. Dua di antaranya merupakan kamar berkapasitas besar, masing-masing dapat menampung sekitar 20 siswa, sementara terdapat pula kamar dengan kapasitas 16 siswa.

Setiap kamar dilengkapi lemari pakaian, kipas angin, serta meja belajar yang digunakan untuk menunjang kebutuhan siswa. Fasilitas lainnya meliputi ruang laundry serta toilet dan kamar mandi yang tersebar di dalam gedung asrama.

Meski berbagai kegiatan telah diatur, pendampingan siswa tetap memiliki tantangan tersendiri. Jamila menyebut pembentukan kedisiplinan dan kemandirian menjadi salah satu pekerjaan yang terus dilakukan wali asrama. Kebiasaan seperti memasang seprai, menjaga kebersihan kamar, hingga mengenakan seragam sesuai jadwal masih perlu dibangun secara bertahap.

Tantangan lainnya berkaitan dengan pengelolaan emosi dan perbedaan karakter siswa. Latar belakang yang beragam membuat setiap anak memiliki cara berkomunikasi dan menyelesaikan persoalan yang berbeda. Untuk menghadapinya, pihak asrama mengadakan kegiatan berbagi cerita dalam kelompok maupun konseling secara individu.

“Yang pertama itu mungkin membangun bentuk kedisiplinan, keseharian, kemandirian. Kemudian yang kedua pengelolaan emosi dalam bentuk pengambilan keputusan, karena mereka dari latar belakang yang berbeda-beda,” ungkap dia.

Rutinitas siswa juga tidak sepenuhnya sama ketika memasuki hari libur. Kegiatan yang biasanya berlangsung padat diberikan waktu lebih longgar. Setelah salat subuh, misalnya, siswa diperbolehkan kembali tidur sekitar 30 menit sebelum mengikuti kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan asrama.

Sejumlah kegiatan lain turut disiapkan untuk mengisi waktu libur, mulai dari menonton bersama hingga kegiatan keterampilan seperti memasak dan menjahit pakaian yang robek. Seluruh kegiatan tersebut berada dalam pendampingan wali asuh dan wali asrama.

Di luar kegiatan harian, siswa juga mengikuti ekstrakurikuler yang berlangsung Senin hingga Jumat. Pilihannya meliputi pencak silat, paduan suara, tari, menggambar, serta mendongeng dan lain-lain. Kegiatan ini menjadi bagian dari aktivitas pengembangan kemampuan dan minat siswa di luar pembelajaran sekolah.

Sementara itu, kesempatan bertemu keluarga telah dijadwalkan setiap bulan, tepatnya pada pekan terakhir. Dalam pertemuan tersebut, siswa tidak hanya bertemu keluarga, tetapi juga dapat menampilkan berbagai kreasi yang telah mereka persiapkan, seperti tarian, pembacaan puisi, dan menyanyi.

Jamila mengatakan jadwal kunjungan dapat menyesuaikan dengan agenda kegiatan sekolah dan ekstrakurikuler. Pada pelaksanaan sebelumnya, pertemuan keluarga digelar pada 25 Oktober 2026.

“Jadi satu minggu akhir di akhir bulan. Kalau kemarin kena di tanggal 25, hari Minggu. Karena hari Sabtu itu masih ada kegiatan ekstrakurikuler,” pungkas Jamila. (Retno)

LAINNYA
x