src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Penggambaran seseorang yang merasakan kecemasan sosial karena ‘Flexing’ (Foto: Freepik)HEADLINEKALTIM.CO – Masyarakat kini semakin sering melakukan flexing di media sosial, yaitu kebiasaan pamer kekayaan atau pencapaian secara sengaja. Meski terlihat sepele, flexing ternyata bisa berdampak buruk pada kesehatan mental.
Dilansir dari RRI, flexing dapat memicu rasa tidak aman, memperburuk kecemasan sosial, hingga meningkatkan risiko depresi. Berikut beberapa dampak negatif flexing terhadap kesehatan mental.
Melihat unggahan pamer kekayaan bisa menimbulkan rasa rendah diri. Paparan berlebihan membuat seseorang merasa kurang puas dengan hidupnya, sehingga memicu stres dan turunnya rasa percaya diri.
Flexing mendorong tekanan untuk selalu tampil sempurna. Keinginan mendapat perhatian membuat sebagian orang cemas berlebihan, bahkan rela melakukan hal tidak sehat demi popularitas semu.
Perbandingan diri yang terus-menerus dengan orang lain bisa memperburuk kondisi psikologis. Rasa tidak berharga, kesepian, dan terasing sering kali menjadi pemicu munculnya gejala depresi.
Kesenangan dari flexing hanya bersifat sesaat. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini justru membuat seseorang merasa tidak puas dengan hidupnya sendiri.
Kebiasaan memeriksa media sosial secara berlebihan membuat banyak waktu terbuang. Fokus yang teralihkan bisa menurunkan produktivitas, baik di sekolah maupun di tempat kerja.
Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya