22.1 C
Samarinda
Wednesday, June 16, 2021

Air Bangar, Petani Keramba Merugi, Krisis Ikan Air Tawar Membayangi

HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG – Imbas air Sungai Mahakam dalam kondisi bangar, banyak ikan budi daya keramba milik warga yang mati.  Ikan yang masih hidup terpaksa diobral dengan harga  murah  oleh petani keramba.

“Banyak ikan budi daya yang mati jenis nila dan mas, tingkat kematiannya mencapai 60 persen,” kata Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kutai Kartanegara, Muslik, Kamis 10 Juni 2021.

Muslik mengatakan, petani keramba menjual murah ikan yang masih hidup agar tak mengalami kerugian yang lebih besar.

“Dijual terpaksa dengan kisaran harga Rp 20 ribu per Kg. Dengan harga serendah itu, pemilik keramba sudah alami kerugian,”  jelasnya.

Imbas air bangar, kelangkaan ikan air tawar mengancam beberapa waktu ke depan jika kondisi ini berkepanjangan.

Dia khawatir krisis ikan tawar bisa terjadi 1-3 bulan meskipun pasokan bisa tetap mengandalkan nelayan tangkap.

“Yang paling berdampak nantinya, warung makan yang rutin menyajikan makanan ikan nila dan mas yang dipasok dari pembudidaya, ini bisa kosong untuk sementara waktu,” ucapnya.

Guna mengantisipasi hal ini, kata dia, DKP akan memberikan bantuan bibit ikan sembari berharap air bangar segera normal.

“Jika curah hujan semakin tinggi, maka pergeseran air bangar akan semakin cepat,” ungkapnya.

Saat ini, petugas DKP tetap memantau kondisi air bangar, sampai menuju kondisi keasaman dan oksigen yang normal.

Berdasarkan survei dari Unmul Samarinda, untuk kondisi keasamannya wajar pada kisaran diangka 6,5-8. Namun, kondisi oksigen air memang benar-benar turun sehingga banyak ikan yang tidak mampu bertahan.

“Kita pantau terus kondisi airnya, sambil tetap mengantisipasi langkah-langkah yang harus dilakukan, agar tingkat kematian tidak semakin meluas,” tandasnya.

Penulis: Andri
Editor: MH Amal

Komentar

- Advertisement -spot_img

LIHAT JUGA

- Advertisement -spot_img

TERBARU

spot_img
Komentar