src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
ilustrasi. (sumber: bisnis.com)HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Pelaksanaan kegiatan vaksinasi massal yang rencananya dilaksanakan Badan Pengelola Islamic Center (BPIC) Provinsi Kaltim, Rabu 25 Agustus 2021 besok, mendadak dibatalkan. Lantaran pihak panitia menolak jenis vaksin yang diberikan yakni jenis Astra Zenecca.
Pembatalan tersebut sesuai dengan surat yang dikeluarkan oleh BPIC Kaltim tertanggal 24 Agustus 2021 yang ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda.
Seyogyanya, pelaksanaan vaksinasi massal tersebut akan dilaksanakan dalam beberapa gelombang, yakni tanggal 25 dan 26 Agustus 2021, tanggal 1 dan 2 September dan tanggal 8 hingga 9 September 2021.
Isi surat penolakan yang dilayangkan BPIC Kaltim kepada Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda terdiri dari 4 poin penting, yakni :
Dihubungi melalui sambungan telepon, Ketua Umum BPIC Kaltim, H Awang Dharma Bakti membenarkan surat penolakan dan pembatalan vaksinasi di Islamic Center besok.
Menurut dia, sebelumnya pihaknya diberikan jatah vaksin sebanyak 6 ribu dosis dengan waktu pelaksanaan vaksinasi dibagi. Namun, sehari sebelum pelaksanaan, dirinya mengaku kaget setelah menerima informasi dari stafnya bahwa vaksin yang diberikan adalah vaksin Astra Zenecca.
“Kami diberikan jatah dari Dinas Kesehatan 6 ribu orang. Kita bagi 3 tahap mulai besok. Orang sudah mendaftar dan sudah siaplah kita. Tempatnya, segala pengaturan segala macam, tinggal pelaksanaan saja. Tahu-tahu tadi saya sekitar jam 14.00 WITA habis Zuhur dapat berita dari anak buah saya di klinik. Katanya, vaksin yang diberikan tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Ternyata katanya bukan Moderna, tapi Astra Zenecca,” katanya.
“Jadi kan kami kaget, kenapa yang haram dikasihkan ke Islamic Center, padahal kita kan Islamic. Kami langsung rapat, saya telepon pak Wali Kota. Pak Andi Harun bertanya mana buktinya kalau itu haram? Saya kirimkan ke Pak Andi Harun surat dari Majelis Ulama ini. Pak Wakil Gubernur sudah saya beritahu juga. Kalau suntikan Moderna sesuai yang dijanjikan, kita tidak apa apa. Tapi kalau yang ini, jelas-jelas Majelis Ulama menyatakan ini haram. Takut dosalah kita, jadi kita menolak,” bebernya.
Media ini menanyakan apakah pihaknya telah berkoordinasi sebelumnya dengan MUI Kaltim atau Dinkes Kota Samarinda terkait jenis vaksin yang ditolak?
Awang Dharma Bakti mengaku dirinya tidak perlu berkoordinasi karena berkeyakinan pada fatwa MUI. “Tidak (koordinasi, Red) karena MUI mengatakan itu haram dan ada fatwa Majelis Ulama ada sama kami semua,” tegasnya.
Terkait masyarakat yang telah terdaftar untuk mengikuti vaksinasi tersebut, lanjut dia, panitia telah berupaya menghubungi melalui telepon. “Kita telepon semua dan alasan kita ditunda karena ada masalah itu. Saya juga minta diumumkan di masjid, di TV juga kita dan semua media. Saya juga sudah sampaikan pada Pak Wali Kota dan pak Wagub sudah. Saya sudah pikir dengan jelas tadi. Surat juga sudah ditemukan pada Kapolresta dan segala macam,” terangnya.
Surat penolakan telah disampaikan ke masing-masing instansi terkait untuk pemberitahuan, termasuk Dinas Kesehatan kota Samarinda. “Belum ada jawaban, kami sudah bersurat pada mereka (Dinas Kesehatan), terserah mereka. Kalau mereka mau mengganti dengan Moderna tidak ada masalah. Kita minta waktu sehari lah tertunda , jangan sampai mereka datang tapi tidak tahu. Makanya diinformasikan dari semuanya. Surat dikirim ke Dinkes Kota Samarinda jam 14.30 Wita karena saya baru tahu juga,” katanya.
Kepala Dinas Kesehatan kota Samarinda dr Ismed Kusasih yang dihubungi media ini mengatakan, saat ini jatah vaksin yang ada hanya Astra Zenecca. Apakah Dinkes akan mengganti jenis vaksin yang ditolak Islamic Center? “Yang ada Cuma itu,” tegasnya lagi.
Terkait dengan hukum keharaman vaksin, dirinya mengembalikan sepenuhnya kepada pihak Islamic Center. Namun, pihaknya akan berupaya untuk mencarikan stok vaksin lainnya. “Kita ini kan dapatnya Astra, ya Astra. Pokoknya gini, Islamic Center tidak mau masuk wilayah itu ya, kita ini hanya menjalankan yang sudah diperintahkan oleh Kementrian. Kementrian ngasih Astra, Sinovac ya Sinovac. Kalau misalnya dari Islamic itu alasannya itu, ya silakan. Nanti kita carikan solusi, mudah-mudahan ada di tempat lain,” tutupnya.
Penulis: Ningsih
Editor: MH Amal