29.3 C
Samarinda
Wednesday, July 17, 2024

Tetua Adat Bersimbah Air Mata, Ceritakan Dusun Bensamar Berusia 406 Tahun, Baru Nikmati Listrik dan Air Bersih

HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG–Jika punya waktu dan kesempatan, niatkanlah, paling tidak sekali seumur hidup mengunjungi sebuah kampung tua di Kabupaten Kutai Kartanegara. Kampung ini masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Tenggarong, Ibu Kota Kabupaten Kutai Kartanegara.

Namanya Dusun Bensamar, Kelurahan Loa Ipuh Darat. Ini kampung benar-benar panjang umur. Bayangkan. Usianya 406 tahun. Kisah dusun ini diceritakan oleh Ketua Adat Dusun Bensamar, Semain M, saat ditemui headlinekaltim.co pada Kamis 30 Mei 2024.

Semain bertutur bagaimana perjuangan masyarakat Bensamar menjalani hidup dalam serba keterbatasan. Tak tersentuh pembangunan selama puluhan tahun negeri ini merdeka dari kuasa kolonial. Compang-camping dari segi fasilitas pendidikan, infrastruktur hingga kebutuhan dasar seperti listrik dan air bersih.

Gerbang masuk Dusun Bensamar. (andri/headlinekaltim.co)

Sungguh ironis bagi sebuah kampung yang menjadi bagian wilayah kota kabupaten. Terlebih lagi, kabupaten tersebut kerap disebut sebagai kabupaten terkaya di Indonesia. Bayangkan saja. Pada pengujung tahun lalu, DPRD bersama Pemkab Kutai Kartanegara menyetujui rancangan APBD Kukar Tahun 2024 dengan nilai fantastis, Rp13.372 triliun. Besaran anggaran tersebut merupakan yang terbesar sepanjang sejarah berdirinya Kabupaten Kutai yang dimekarkan menjadi Kutai Kartanegara.

Sembari bersimbah air mata, Semain, satu-satunya tetua adat Bensamar yang masih hidup mendedahkan bagaimana warga Dusun Bensamar baru bisa menikmati jalan mulus betonisasi pada tahun 2014.

Sebelum itu, warga masih akrab dengan jalan setapak di dusun itu. Jalan dengan permukaan tanah merah. Becek saat hujan dan mengeras di musim panas. Dengan kontur jalan tersebut, butuh perjuangan untuk melintasi jarak menuju Kota Tenggarong. Derita warga dusun semakin komplit dengan tak hadirnya kebutuhan dasar seperti listrik dan air bersih. “Kalau menikmati air bersih dan listrik selama 24 jam sejak 2021,” katanya.

Pada tahun-tahun sebelumnya, lampu listrik di Dusun Bensamar hanya menyala selama 6 jam dalam semalam. Bagaimana dengan air bersih? “Untuk air minum, kami harus membeli ke kampung sebelah, di Kelurahan Maluhu,” sebut Semain, yang ditemui dalam pembukaan acara Bensamar Cultural.

Mundur ke belakang, sekitar era ‘70-an sampai dengan ‘90-an, kenang Semain, masyarakat asli dusun yang semuanya berprofesi sebagai petani, harus menguras energi dan memeras keringat jika ingin menjual hasil panen ke Kota Tenggarong. “Jalan kaki dan harus melewati bukit-bukit tinggi,” bebernya.

“Kalau kami menuju pasar, dari Bensamar menuju Stadion Rondong Demang masuk ke Gang 4 hingga sampai ke pasar Tangga Arung dengan berjalan kaki. Tembus 3 jam. Jika menggunakan perahu dayung, bisa lebih lama lagi. 4 jam,” ungkapnya.

Dulu, Sungai Bensamar masih lebar dan cukup dalam. Jadi, moda transportasi sungai menjadi salah satu pilihan utama menuju kota kecamatan. Seiring perjalanan waktu, dampak pembangunan yang tak berpihak pada lingkungan hadir di depan mata. Luasan Sungai Bensamar mengerut. Semakin dangkal pula.

Berjibaku dengan keterbatasan membuat banyak warga dusun ingin mengubah nasib. Mereka memilih meninggalkan Bensamar. Memboyong keluarga guna mencari pekerjaan dan kehidupan lebih layak.

Keluarga Semain banyak yang sudah hijrah dari Bensamar. Mukim di Kota Tenggarong. Ada juga memilih Kota Samarinda. Dia sendiri memilih menetap di dusun tua tersebut. “Susah dan senang harus dinikmati, namanya juga kampung halaman sendiri,” tegasnya.

Kini, suasana Dusun Bensamar tetap tenang. Masih sepi. Namun, Semain mengaku senang melihat banyak perubahan. Kampungnya sudah terlihat lebih maju jika dibandingkan dengan kondisi puluhan tahun silam. Hari ini, jalan kampung sudah dicor dengan kualitas bagus.

Jumlah penduduk kian bertambah. Hampir 1.000 jiwa dengan 200 lebih kepala keluarga. Sebagian merupakan eks karyawan perusahaan pertambangan Tanito Harum yang beroperasi pada tahun 1988 dan tutup pada 2018. Ada pula karyawan perusahaan perkebunan PT BDA yang bermukim di Dusun Bensamar. Pendatang banyak berasal dari suku Bugis dan Jawa.

Dusun Bensamar didiami masyarakat asli Kutai. Selaku kepala adat, Semain tidak khawatir dengan semakin banyak pendatang mukim di Dusun Bensamar. “Semakin banyak orang, maka di situ lah ada rezeki kita. Yang penting suku-suku yang ada di Bensamar hidup rukun tertib dan damai, akan membawa Bensamar semakin maju di usia ke 406 tahun,” katanya.

Semain, kini 68 tahun, membuat peta wilayah Dusun Bensamar yang dijadikan rujukan bagi instansi pemerintahan. Padahal, pendidikan terakhir Semain hanya sampai kelas 3 SD, sebuah sekolah partikelir yang didirikan Kodim saat masih era Kabupaten Kutai. Guru-gurunya kala itu adalah personel Koramil Tenggarong.

“Peta yang saya buat, menjelaskan alur sungai Bensamar menuju sungai Mahakam serta jalan Bensamar yang menghubungkan kampung lain di Tenggarong dan sekitarnya,” tutupnya.(Andri)

- Advertisement -

LIHAT JUGA

- Advertisement -

TERBARU

POPULER