src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Serapan Bulog Melonjak 700 Persen, Indonesia Buka Peluang Ekspor Beras ke Negara Sahabat

Serapan Bulog Melonjak 700 Persen, Indonesia Buka Peluang Ekspor Beras ke Negara Sahabat

waktu baca 3 menit
Rabu, 4 Feb 2026 14:40 173 Anjhu Anggia

HEADLINEKALTIM.CO, JAKARTA – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan Indonesia memiliki peluang membantu negara sahabat yang membutuhkan pasokan beras. Hal ini ditopang oleh serapan beras Bulog, stok beras nasional, produksi beras 2026, ketahanan pangan nasional, serta peluang ekspor beras Indonesia yang kian menguat pada awal 2026.

Dilansir dari RRI, lonjakan serapan beras Perum Bulog menjadi indikator kuatnya kapasitas produksi dan cadangan pangan nasional. Amran menilai, jika tren serapan beras Bulog tetap stabil dan berkelanjutan, Indonesia tidak hanya mampu mengamankan kebutuhan dalam negeri, tetapi juga berpotensi memasok beras ke negara sahabat.

“Kalau ini bertahan dan konstan, insya Allah kita bisa menyuplai negara sahabat. Terutama yang membutuhkan beras,” ujar Amran di Jakarta, Rabu, 4 Februari 2026.

Data Bapanas mencatat serapan setara beras dari produksi dalam negeri mencapai sekitar 112 ribu ton. Angka ini melonjak lebih dari 700 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, ketika realisasi serapan beras Bulog masih berada di kisaran 14 ribu ton. Capaian tersebut menjadi yang tertinggi pada awal tahun dalam lima tahun terakhir.

Amran menegaskan peningkatan serapan merupakan hasil kebijakan pemerintah yang berpihak pada petani. Negara hadir langsung menyerap hasil panen guna menjaga stabilitas harga gabah sekaligus memperkuat stok beras nasional.

Langkah tersebut juga diarahkan untuk memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog sebagai instrumen utama dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Dengan cadangan yang kuat, pemerintah memiliki ruang lebih besar untuk mengantisipasi gejolak pangan.

Peningkatan serapan beras Bulog sejalan dengan proyeksi produksi beras 2026 yang terus membaik. Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi beras nasional pada periode Januari–Maret 2026 mencapai 10,16 juta ton, naik sekitar 1,39 juta ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut semakin memperkuat keyakinan pemerintah terhadap ketahanan pangan nasional. Untuk mendukung percepatan produksi dan serapan, pemerintah menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga kementerian dan lembaga terkait penugasan BUMN pangan dalam penyelenggaraan Cadangan Pangan Pemerintah 2026.

Salah satu mandat utama dalam kebijakan itu adalah pengadaan cadangan beras sebesar 4 juta ton, dengan prioritas pembelian hasil produksi dalam negeri. Kebijakan ini dinilai strategis dalam menjaga keseimbangan antara produksi, serapan, dan harga.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan komitmen perusahaan menjalankan mandat tersebut. Bulog terus memaksimalkan penyerapan gabah kering panen dari petani.

“Per 2 Februari 2026, realisasi pengadaan dalam negeri mencapai 112.032 ton setara beras,” kata Rizal. Bulog juga mengoptimalkan tim jemput pangan dengan dukungan TNI, Polri, serta penyuluh pertanian untuk memastikan serapan sesuai usia panen.

Sementara itu, harga gabah di tingkat petani terpantau stabil dan menguntungkan. Rata-rata harga gabah kering panen berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Pemerintah menilai kondisi ini mencerminkan keseimbangan yang sehat, sehingga Indonesia mulai memiliki ruang strategis memperluas peran melalui ekspor beras Indonesia ke kawasan regional.

 

WhatsApp
Berita Terkini, Ikuti Saluran WhatsApp headlinekaltim.co

Gabung

LAINNYA
x