src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> "Saya Baru Dapat Anak Setelah 17 Tahun Pernikahan, kok Malah Begini", Curhat Ibunda Santri Korban Pelecehan Seksual

“Saya Baru Dapat Anak Setelah 17 Tahun Pernikahan, kok Malah Begini”, Curhat Ibunda Santri Korban Pelecehan Seksual

waktu baca 2 menit
Kamis, 26 Feb 2026 13:18 67 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG – Dengan air mata bercucuran,  ibu dari salah satu korban pelecehan seksual oknum guru pondok pesantren di Bangun Rejo, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara, mengaku pasrah mendengar keputusan vonis hakim Pengadilan Negeri Tenggarong terhadap terdakwa dengan hukuman 15 tahun penjara.

‎Sang ibu berkisah anaknya merupakan semata wayang yang telah dia nantikan setelah 17 tahun pernikahan bersama suami. ‎”Saya ini baru punya anak setelah 17 tahun berumah tangga,” sebut sang ibu dengan tatapan mata sayu.

‎Dirinya bercerita, keputusan menyekolahkan buah hatinya di Ponpes IR Tenggarong Seberang karena menuruti saran dari kerabat yang mengajar di Ponpes tersebut dan sampai sekarang masih aktif sebagai pengajar. ‎”Saya masukan anak saya ke ponpes ini setelah lulus SD,” terangnya.

‎Selama lima tahun menempuh pendidikan di ponpes tersebut, dia tidak mengetahui bahwa anaknya telah mengalami pelecehan seksual berulang kali oleh oknum guru yang berperilaku seksual menyimpang.

Namun, rasa kecurigaan timbul saat anaknya pulang ke rumah di Samarinda. ‎”Pas pulang ke rumah, anak saya banyak diamnya, langsung masuk kamar, terkadang tidak salaman,” ceritanya.

‎Awalnya, dia menganggap si anak hanya mengalami kelelahan dan stres karena aktivitas di ponpes sangat padat. Barulah, setelah dugaan kasus pelecehan ini muncul di media sosial dan pemberitaan, dirinya mulai khawatir kalau anaknya termasuk korban.

‎”Ketahuan juga dari akun IG anak saya biasa terkunci. Saat tidak terkunci, saya lihat, ternyata masuk group taklim di luar Ponpes yang dipimpin pelaku,” jelasnya.

‎Setelah kasus ini mencuat, dia langsung mengeluarkan anaknya dari Ponpes tanpa pikir panjang. Meskipun sudah keluar dari ponpes, anaknya mengalami trauma luar biasa. Tidak berani keluar rumah hampir 3 bulan. Hanya diam di kamar. ‎”Keluar rumah untuk salat ke masjid saja tidak berani,” ungkapnya.

Dia bersyukur, kini anaknya sudah berani melanjutkan sekolah di salah satu ponpes di Samarinda. Anaknya minta kelas reguler karena belum pulih dari trauma.‎
‎”Makanya dia minta tidak usah berasrama lagi karena masih trauma,” jelasnya.

‎Dirinya berharap sang anak tetap punya masa depan lebih cerah dengan semangat belajar mencari ilmu pengetahuan. ‎”Tidak diduga bisa seperti ini. Maksud saya sekolahkan anak di ponpes tersebut agar dia bisa memahami agama, tahu baik dan buruk serta tidak lakukan penyimpangan, eh, malah anak saya jadi korban guru kelakuan menyimpang,” katanya sembari mengusap air mata.(Andri)

 

WhatsApp
Berita Terkini, Ikuti Saluran WhatsApp headlinekaltim.co

Gabung

LAINNYA
x