src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Resep Menulis Penyair cum Dosen FIB Unmul Dahri Dahlan, Terbitkan Buku Puisi "Hal-Hal yang Pergi" dan "Kau Sedingin Pelabuhan"

Resep Menulis Penyair cum Dosen FIB Unmul Dahri Dahlan, Terbitkan Buku Puisi “Hal-Hal yang Pergi” dan “Kau Sedingin Pelabuhan”

10 minutes reading
Monday, 17 Feb 2025 16:54 509 huldi amal

SASTRA memiliki keistimewaan tersendiri. Tidak semua orang mampu menulis dengan cara yang estetik, penuh metafora dan makna mendalam. Seperti halnya puisi, ditulis dengan menggunakan bahasa dan diksi indah.

Sosok Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Mulawarman Dahri Dahlan adalah salah satu penyair yang karyanya semakin diperbincangkan. Bagaimana dia menyampaikan alur perasaan dan pikirannya hingga kini menerbitkan buku kumpulan puisi sendiri?

Dahri makin aktif menjadi pembicara pada kegiatan-kegiatan literasi maupun sastra baik lokal dan nasional. Selain memiliki kesibukan sebagai dosen sastra, Dahri juga terus menunjukkan eksistensi kepenulisannya di koran-koran nasional.

Diskusi buku Dahri Dahlan di Jakarta tahun 2024. (Foto: Istimewa)

Buku kumpulan puisi pertamanya berjudul Hal-Hal yang Pergi. Cetakan pertama terbit pada tahun 2018 dan cetakan kedua terbit tahun 2022. Terdapat 39 puisi di buku tersebut. Menurutnya, cetakan kedua pada buku puisi ini sangat spesial buat dirinya. Sebab, salah satu penyair tenar di Indonesia, mendiang Joko Pinurbo, turut memberikan kata pengantar.

Dahri menuturkan, pengantar dari penyair senior yang karib disapa Jok Pin itu sangat berharga sekali. Selain itu, sampul pada buku puisi tersebut juga diganti menggunakan lukisan dari hasil goresan tangannya sendiri. “Cetakan kedua ini spesial, karena sampul buku ini pakai lukisan saya. Waktu itu saya lukis menggunakan krayon,” ungkapnya.

Karya puisinya bahkan pernah didiskusikan di Komunitas Kata Kerja di Makassar via diskusi Daring Zoom Meeting saat Joko Pinurbo masih hidup. Dahri merasa berdebar-debar saat itu. Namun, diskusi berlangung hangat dan seru. “Karya saya Hal-Hal yang Pergi ini masterpiece menurut Joko Pinurbo. Puisi saya yang tentang hari tua itu menurutnya bisa menuliskan cukup bagus tentang hari tua, walaupun saya masih muda,” jelasnya.

“Sajak pertama dalam antologi ini, Rumahmu Sepi Abadi, membuat saya termangu. Meskipun digubah oleh seorang penulis muda usia, sajak tersebut telah berhasil memberikan gambaran yang ‘indah’ tentang apa yang akan dialami oleh seseorang di hari tuanya. Perpaduan antara kelenturan imajinasi dan penghayatan hidup yang intens memang bisa membuat seorang penulis mampu menembus waktu,” begitu kutipan kata pengantar mendiang Joko Pinurbo pada cetakan kedua Hal-Hal yang Pergi tahun 2022.

Dahri mengaku, awalnya dia hanya menulis puisi apa saja. Tidak ada target untuk menerbitkan. Ia mulai menulis puisi tersebut sejak tahun 2009 saat masih kuliah di Makassar. Setelah menyelesaikan 39 puisi, beberapa teman-temannya pun memberikan saran kepada Dahri untuk menerbitkan buku kumpulan puisi.

“Kebetulan saat itu ada penerbit baru di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat. Jadi secara idealis saya bilang, mau tidak terbitkan buku puisi saya, kemudian mereka mau,” tuturnya.

Sebagai kategori penerbit baru, dia pun berniat berpartisipasi untuk memajukan literasi daerah dengan mengirimkan naskah. Akhirnya buku puisi ini terbit dan diluncurkan tahun 2018 di Samarinda, Kalimantan Timur. Sekitar 12 tahun Dahri menyiapkan itu semua.

Menurutnya, buku puisi Hal-Hal yang Pergi inilah yang paling layak terbit dan diterima. “Alhamdulillah bukunya laris. Tapi jangan bayangkan bukunya laris seperti di penerbit besar. Waktu itu bukunya laris di komunitas-komunitas di Polman dan Samarinda,” ucapnya.

Menulis puisi memang bukan sesuatu hal yang mudah. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Ini juga bisa menjelaskan kenapa dirinya bisa lama menyelesaikan puisinya dan sekaligus menunjukkan kekurangannya. “Jangan-jangan selama ini saya yang malas nulis,” bebernya.

Pria yang lahir di Pambusuang, Sulawesi Barat ini menuturkan bahwa untuk buku puisi pertama, dia memang tidak punya target. Jika memang ada ilham atau dapat satu kalimat pendek, maka ia akan langsung mencatatnya di notes atau gawai. Saat tiba di rumah, Dahri akan membuka laptop untuk melanjutkan puisinya.

“Kalau dapat satu paragraf nanti disimpan dulu, karena hampir tidak ada puisi yang langsung jadi. Kecuali beberapa puisi yang pendek-pendek mungkin,” paparnya.

TEROBSESI MENERBITKAN BUKU KUMPULAN CERPEN

Menurutnya, untuk inspirasi tentu saja dengan banyak membaca. Sebetulnya, Dahri punya obsesi menerbitkan buku kumpulan cerpen. Namun, tidak ada penerbit yang menerima naskah kumpulan cerpennya. Karya-karyanya hanya terbit di koran-koran lokal. “Saat itu belum ada yang terbit di koran-koran besar. Ini baru beberapa tahun yang lalu, cerpen saya ‘nongol’ di Kompas.id,” jelasnya.

Sebelumnya, Dahri dikenal teman-temannya itu suka menulis cerpen, esai, dan kritik-kritik sastra yang dimuat di koran-koran lokal. Justru, tulisan pertamanya di koran Makassar mengulas sebuah cerpen yang dimuat di koran yang sama. “Jadi ada teman saya bilang, ternyata Dahri nulis puisi yah?” ucapnya sambil tertawa.

Dia menyebut, tidak ada pesan yang spesifik untuk pembaca. Mereka bebas saja menafsir. Tidak ada hal muluk-muluk yang dia tawarkan. Seperti puisi yang berjudul Di Sini. “Itu puisi pertama yang saya tahu betul, ditulis tahun 2016. Saya buat setelah saya di Samarinda, Kalimantan Timur,” ungkapnya.

Puisi tersebut berkisah tentang perantau asal Pulau Sulawesi yang datang ke Kalimantan. Takjub melihat sungai yang besar. Sebab, di Sulawesi tidak ada sungai sebesar Mahakam yang dilalui kapal-kapal pengangkut batu bara. “Itu puisi pertama yang saya buat saat datang ke Kalimantan. Dan puisi yang paling mengesankan menurut saya itu Di Sini dan Rumahmu Sepi Abadi,” ujarnya.

Dahri juga kembali melahirkan karya keduanya yang berjudul Kau Sedingin Pelabuhan. Terdapat 71 puisi yang terbit tahun 2023 di penerbit Basa Basi. Ini merupakan salah satu prestasi karena buku puisinya ini betul-betul diseleksi dan diterima penerbit.

“Saya ada masukkan cerpen, tapi cerpen saya ditolak. Katanya belum bisa diterbitkan dengan alasan yang bermacam-macam. Intinya saya gagal memenuhi standar penerbit untuk cerpen. Tapi kalau puisi langsung diterima,” jelasnya.

Walaupun begitu, dirinya tetap semangat untuk terus menulis dan membuat karya. Selain itu, yang paling diharapkan Dahri adalah komentar pembaca terhadap karya-karyanya. Ia mengaku sangat membutuhkan komentar pembaca, baik itu kritik atau masukan.

“Apapun itu. Kalau pujian itu kan bonus. Saya berharap mudah-mudahan masih ada pembaca-pembaca ideal yang mengidealkan karya-karya saya dan mereka terus membacanya,” harapnya.

Dahri juga menyatakan bahwa karya-karyanya ini banyak terinspirasi dari penulis-penulis legendaris Indonesia seperti Chairil Anwar, Joko Pinurbo, W.S. Rendra, Sapardi Djoko Damono, M. Aan Mansyur, Aslan Abidin, hingga Goenawan Mohamad.

Ke depan, dirinya mengusahakan untuk mengedit tipografi di buku puisi tersebut dan menyusun ulang, namun tidak menghilangkan esensinya. “Paling saya edit kata-kata yang tidak perlu seperti kata ‘yang’, terus saya tambah beberapa puisi baru,” ujarnya.

SUKA PUISI SEJAK SMP

Sejak kecil, Dahri memang sudah menunjukkan kecerdasan linguistik. Saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia suka menulis puisi hingga mengikuti lomba menulis dan baca puisi di daerahnya. Dari situlah, dia pun tertarik mengambil jurusan sastra Indonesia. Ia bercerita bahwa awalnya tidak pernah kepikiran untuk menjadi dosen. Sampai sarjana pun ia tidak memiliki cita-cita. “Tapi saya serius belajar,” tegasnya.

Lulusan S1 Universitas Negeri Makassar Prodi Sastra Indonesia 2004-2009 ini menyebut salah satu orang yang sangat berjasa dalam perjalanan kepenulisannya. Namanya Ahyar Anwar. Penulis sekaligus dosennya di Makassar.

Pada tahun 2009, Dahri diangkat menjadi asisten dosen tersebut di kampus yang sama. Waktu itu, rekrutmen dosen masih bisa dari ijazah S1.

“Terus almarhum dosen saya ini bilang bahwa saya harus jadi dosen. Akhirnya di situlah saya mulai bermimpi. Bermimpi jadi dosen karena mimpi itu dimasukkan orang ke saya. Saya tidak pernah bermimpi sendiri,” ungkapnya.

Pria berdarah Mandar itu kemudian dihadapkan pada kegalauan soal biaya kuliah pascasarjana. Terbit peraturan baru bahwa untuk menjadi dosen minimal berijazah S2. “Bapak saya tukang kayu yang membuat perahu dan ibu saya bertenun. Walaupun begitu, saya sangat didukung oleh orang tua saya,” bebernya.

Akhirnya, Dahri melanjutkan pendidikan  magister di Universitas Diponegoro, Semarang, tahun 2011- 2014. Namun, sebelum menyelesaikan studinya, dosennya meninggal dunia. “Padahal saya dipersiapkan menjadi dosen di Makassar. Intinya saya ditekankan untuk belajar serius, akhirnya jadi akademisi dan nulis karya sastra juga,” ucapnya.

Ijazah Magister Ilmu Susastra dia sabet dengan nilai cumlaude. Masa studi 2,5 tahun. Sekitar delapan bulan setelahnya, dibuka lowongan penerimaan dosen di Universitas Mulawarman, Kalimantan Timur. Dahri pun mengikuti seluruh tahapan tes tersebut hingga akhirnya diterima pada tahun 2015.

Dahri pernah menjadi dosen terfavorit Fakultas Ilmu Budaya versi Mulawarman Festival tahun 2015. Awalnya dirinya merasa heran karena tiba-tiba masuk nominasi dan dipanggil saat pengumuman. “Sepertinya waktu itu ada kuisioner yang disiapkan panitia dan disebarkan ke fakultas. Saya gak menyangka menjadi dosen terfavorit, Padahal itu tahun pertama saya mengajar di Unmul,” jelasnya.

Dua tahun kemudian, ia diamanahkan menjabat sebagai Kepala Prodi Sastra Indonesia FIB Unmul hingga 2022. “Yang saya suka itu mengajar sastra di kelas, melakukan penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat,” terangnya.

Dahri memang dikenal oleh mahasiswanya sebagai dosen yang kreatif dan tegas. Sejak awal mengajar, dirinya menekankan agar tidak melakukan plagiarisme. Cara mengajarnya di kelas juga tidak membosankan. Selain itu, Ia terus mengingatkan mahasiswanya untuk rajin membaca. “Kalau mahasiswa itu saya selalu berpesan untuk rajin belajar dan membaca buku. Buku dalam bentuk apa pun, baik itu buku digital atau buku fisik. Itu hal mendasar yang harus dilakukan,” tegasnya.

Salah satu peserta cerpen terbaik Pelatihan Menulis Cerpen Tempo Institute 2020 bersama Leila S. Chudori ini pun berencana untuk melanjutkan studi S3 di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. “Saat ini saya berupaya untuk mencari beasiswa juga,” bebernya.

Dia kerap kali diundang pada acara-acara literasi dan diskusi sastra, hingga menjadi pembicara. Menurutnya, hingga saat ini, sastra masih diminati masyarakat. Apalagi sekarang jenis-jenis sastra dan tempat-tempatnya itu beragam sekali. “Sekarang ada buku yang kalau kita beli itu kumpulan quotes. Sekitar 10 tahun tahun yang lalu, zaman saya kuliah tidak ada buku semacam itu,” ujarnya.

Semenjak ada sosial media, orang-orang bisa membuat quotes, fiksi mini, membaca puisi di Tik-Tok, dan lainnya. Apalagi sekarang ada penerbitan indie. Penerbitan alternatif secara mandiri. Sekarang juga banyak lomba-lomba dan beragam festival literasi dan sastra. “Ada juga orang bisa urunan untuk menerbitkan buku bersama. Sudah terlalu banyak pilihan dan itu membuat sastra semakin diminati juga sebenarnya,” ungkapnya.

Jika diperhatikan di Gramedia, selalu banyak buku yang bertambah setiap hari. Termasuk buku-buku sastra. Walaupun sekarang zaman digitalisasi, buku masih tetap dicetak. Dahri menyebutkan bahwa dia memiliki banyak buku digital atau PDF, tetapi kurang suka membaca lewat gawai.

“Bahkan sekarang orang membeli buku bekas. Itu kan menarik. Kalau kita menyebutkan Yogyakarta sebagai pusat penerbitan, ada banyak penerbit baru yang fokus ke sastra,” ucapnya.

Seiring berjalannya waktu, kemampuannya dalam menulis terus terasah. Membaca dan menulis sudah menjadi kegiatan wajib yang dilakukannya tiap hari. Untuk bulan ini saja ada sekitar 4 buku yang dibacanya, terdiri dari buku terjemahan, buku puisi, dan masih banyak lagi. “Ada juga buku yang tidak selesai dibaca, tapi saya rajin membaca. Karena membaca kan tidak mesti menyelesaikan. Bisa saja dalam satu bulan saya baca 3 sampai 5 buku tapi belum ada yang selesai,” terangnya.

Pada tahun 2019, Dahri mendapatkan projek residensi penulis dengan menulis cerita berlatar belakang lokalitas yang diilustrasikan studio komik.  Setelah itu jadi, ternyata teater koma di Jakarta tertarik dengan karyanya, kemudian dialihwahanakan menjadi sandiwara berseri di spotify. “Projek itu ditulis dan diproduksi untuk Museum Nasional Indonesia,” bebernya.

Sebagai penulis tentu akan merasa berprestasi kalau tulisannya dimuat di media, baik media lokal maupun nasional. Beberapa karya puisi Dahri terbit di Jawa Post, cerpennya pernah masuk di Kompas.id, dan catatan perjalanannya dimuat di Media Indonesia.

Ketua Divisi di Dewan Kesenian Daerah Kaltim sejak 2016 ini menyampaikan, di  Media Indonesia punya kolom khusus untuk asosiasi tradisi lisan seluruh Indonesia. Artinya, yang bisa kirim tulisan catatan perjalanan ini khusus pengurus atau anggota asosiasi tersebut. Dahri mulai bergabung dan menulis catatan perjalanan ini sejak tahun 2021 hingga sekarang.

“Saya termasuk yang di Kaltim, jadi saya bisa kirim. Kalau redaksi suka, itu dimuat. Ini sebagai bentuk pengabdian ke masyarakat,” tuturnya.

Saat ini, dirinya sedang mempersiapkan karya selanjutnya, terutama puisi. Selain itu, ia juga sedang menulis novel. Bahkan, sudah ada draf awalnya, tapi yang lebih intens itu puisi. Kata dia, begitu muncul dalam keadaan apa pun langsung ditulis satu dua kalimat di gawai atau buku catatan. “Memang saya tidak ada target, karena saya betul-betul menikmati semua prosesnya,” demikian Dahri. (Riska)

banner pemkab berau baru
LAINNYA
x