src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Plt Kadisdikbud Kukar Icksanuddin Noor (foto: Andri/headlinekaltim.co) HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG –Ratusan sekolah di Kutai Kartanegara (Kukar) dipastikan batal menggelar kegiatan belajar mengajar tatap muka (KBM-TM) di semester genap 2020-2021.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar sudah mengeluarkan surat terkait KBM-TM ditinjau ulang atau penundaan sampai ada pemberitahuan lebih lanjut.
“Sekolah dari tingkat PAUD, TK, SD dan SMP yang ngajukan permohonan KBM-TM mencapai 100 lebih sekolah, ini harus ditunda, mengingat kurva kenaikan positif COVID-19 sangat tinggi di Kukar,” ucap Plt Kadisdikbud Kukar Icksanuddin Noor, Kamis 31 Desember 2020 malam, kepada Headlinekaltim.co.
Mantan Sekretaris Dispenda Kukar ini menambahkan, berdasarkan permohonan yang masuk ke Disdikbud, rata-rata sekolah siap mengadakan pembelajaran tatap muka dengan syarat yang harus dilengkapi, seperti menyiapkan sarana standar protokol kesehatan di sekolah.
“Sekolah sudah menyatakan siap melaksanakan protokol pencegahan COVID-19. Dan sebagian besar berdasarkan surat pernyataan orang tua, menginginkan sekolah tatap muka lebih banyak yang setuju,” jelasnya.
Menurut Icksan, Disdikbud harus menunda KBM-TM karena tidak ingin ada kluster baru COVID-19 dengan sebutan kluster pembelajaran baru atau sekolah. Ia meminta kepada orang tua untuk sabar dan faham dengan kondisi pandemi COVID-19 saat ini di Kukar.
“Jika memang kurva yang positif semakin menurun, maka akan dilakukan simulasi KBM-TM dibeberapa sekolah,” pungkasnya.
Keputusan menunda pembelajaran tatap muka, membuat sedih salah satu pedagang yang kerap berjualan di sekolah.
Uprianto yang sudah berjualan mainan dan pentol ini selama hampir 20 tahun, mulanya sangat senang saat mendengar sekolah akan kembali aktif kembali per Januari 2021. Namun, apa daya sekolah tatap muka harus ditunda lagi sampai waktu yang belum ditentukan.
“Kayak apa lagi, terima saja namanya keputusan pemerintah demi melindungi siswanya, ” ucap Prianto.
Pedagang asal Lamongan Jatim tersebut, pernah merasakan kepayahan saat awal pandemi Maret 2020. Dirinya selama tiga bulan tidak berjualan dan tidak ada pemasukan, serta hanya menguras tabungannya saja demi kebutuhan sehari-hari.
“Sebelum Corona, saya berjualan ke sekolah-sekolah yang ada di Tenggarong, untungnya lumayan. Sejak ada Corona, pendapatan jualan menurun drastis, ” keluhnya.
Penulis: Andri
Editor: Amin
Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya di Google News Headline Kaltim