src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
PPL melakukan pendampingan petani di lapangan. (Foto: RJ.Warsa) HEADLINEKALTIM.CO, SANGATTA – Ketika sektor pembangunan lainnya ambruk di tengah pandemi COVID-19, sektor pertanian yang selama ini dianaktirikan selama ini ternyata mampu bertahan. Bahkan, mampu tampil menjadi tulang punggung ekonomi dan menumbuhkan kesejahteraan petani.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kutai Timur Sugiono menyebutkan, untuk menggenjot sektor pertanian, harus dimulai dengan menguatkan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) sebagai garda terdepan.
“Kita punya masa yang suram terkait penyuluhan di tahun 2017, dimana tiada anggaran sama sekali untuk mereka. Dari 18 kecamatan di Kutim ada 5 kecamatan yang Balai Pelatihan Pertanian menyewa tempat, itupun diambil dari kantong pribadi para penyuluh setempat,” jelasnya.
Tidak saja menyisihkan uang pribadi untuk kantor, bahkan hampir rata-rata para penyuluh melakukan urunan untuk membayar tagihan air dan listrik, termasuk alat tulis kantor.
Berangkat dari pengalaman itulah, seharusnya pemerintah harus memperhatikan PPL. “Akan sia-sia kita membangun fisik semata, semisal bantuan pupuk, bibit, ternak, kalau tidak ada gurunya yang mendampingi,” tukasnya.
Llanjut dia, peran penyuluh bukan hanya sekedar guru. Mereka terus mendampingi sampai kemudian petani berhasil panen. ”Itulah mengapa saya sebut penyuluh sebagai garda terdepan di sektor pertanian. Sangat terlihat bagaimana di saat COVID-19 sektor ini adalah sektor yang menjanjikan dan menjawab penguatan ketahanan pangan,” tegas mantan PPL di Kubar ini.
Dikatakannya, perlu penguatan anggaran non teknis terkait kepentingan PPL di lapangan. Sebulan dua kali minimal PPL harus mengadakan pertemuan dengan petani di kecamatan di kantor BPP. Mereka punya tugas berat selain mendampingi dan berkeringat di lapangan bersama para petani.
“Itu merupakan tugas PPL, belum lagi semisal ada penambahan tugas dari Balai Karantina Pertanian Provinsi Kaltim datang ke Kutim. Untuk meningkatkan produksi pisang gepok sebanyak tiga kali lipat, dari biasanya. Belum lagi Distanak ditawarkan pengembangan tanaman porang untuk ekspor, itu semua gardanya ada di PPL,” ungkap Sugiono.
Sebagai informasi, Kutai Timur merupakan daerah di Kaltim yang mampu melakukan terobosan berupa ekspor komoditi pisang kepok ke Malaysia sebesar 100 ton. Semua karena pendampingan oleh PPL.
Ada juga seorang PPL yang sukses mendampingi petani dengan menjalankan Koperasi Kongbeng Bersatu, di salah satu kecamatan di pedalaman Kutim.
Koperasi ini bahkan mendapatkan penghargaan dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indionesia (GAPKI, pada ajang Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2019 lalu di Bali karena memecahkan rekor produktivitas panen buah sawit untuk level KUD se-Indonesia.
Penulis: RJ Warsa
Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya di Google News Headline Kaltim