src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Iilustrasi seseorang dengan kepribadian Otrovert /Photo by Noppadon Manadee on UnsplashHEADLINEKALTIM.CO – Selama ini, kita mengenal tiga tipe kepribadian utama: introvert, ekstrovert, dan ambivert. Namun, pada tahun 2025 muncul istilah baru bernama otrovert. Tipe kepribadian ini menjadi perhatian karena dianggap mewakili orang-orang, termasuk perempuan modern, yang merasa tidak sepenuhnya cocok dengan kategori kepribadian sebelumnya.
Dilansir dari Fimela, istilah otrovert diperkenalkan oleh psikiater asal Amerika, Dr. Rami Kaminski. Kata ini berasal dari bahasa Spanyol otro yang berarti “lain” atau “berbeda”. Sesuai namanya, otrovert menggambarkan individu yang berada di luar klasifikasi sederhana antara introvert dan ekstrovert.
Berbeda dengan introvert yang lebih suka menyendiri atau ekstrovert yang nyaman di tengah keramaian, otrovert justru berada di posisi unik. Mereka bisa menikmati pesta dengan penuh semangat, namun tak jarang memilih pulang lebih awal karena merasa lelah dengan suasana bising.
Otrovert dikenal lebih nyaman dengan interaksi dalam kelompok kecil, menyukai percakapan yang autentik, dan cenderung menghindari basa-basi yang dianggap tidak bermakna. Para peneliti menyebut mereka sebagai “outsider sosial” yang selektif dalam bersosialisasi, tanpa merasa harus mengikuti norma arus utama.
Psikolog menggambarkan otrovert sebagai “pengubah energi”—mereka mampu menikmati ledakan energi ala ekstrovert, tetapi tetap membutuhkan waktu tenang seperti introvert untuk memulihkan diri.
Beberapa ciri yang menonjol dari seorang otrovert antara lain:
Selama bertahun-tahun, perempuan sering dibebani ekspektasi sosial untuk selalu ramah, mudah berbaur, dan tampil supel. Perempuan yang lebih pendiam sering dicap jutek atau kurang percaya diri. Konsep otrovert memberi ruang aman bagi mereka yang ingin bersosialisasi dengan caranya sendiri.
Bagi perempuan modern, kepribadian otrovert hadir sebagai validasi bahwa bersosialisasi tidak harus berarti selalu tampil di depan. Mereka bisa peduli pada orang lain, tetap membangun relasi bermakna, sekaligus menjaga batas pribadi.
Penelitian menunjukkan perempuan otrovert umumnya:
Menurut para psikolog, memberi nama pada identitas ini bisa membantu banyak orang merasa lebih dipahami. Di tengah era digital yang menonjolkan perilaku ekstrovert, otrovert menjadi alternatif yang menegaskan bahwa setiap orang punya cara berbeda dalam bersosialisasi.
Bagi dunia terapi, konsep ini dapat membantu mengurangi perasaan terasing. Sementara di ruang kerja, sekolah, maupun keluarga, otrovert bisa dipandang sebagai kekuatan—bukan kelemahan—karena kehadirannya membawa perspektif baru tentang hubungan sosial.
Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya