30.3 C
Samarinda
Saturday, May 15, 2021

ODGJ Terlama Ditampung Sejak 2017

HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG–Sampai saat ini, Dinas Sosial Kutai Kartanegara masih menampung Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) sejak tahun 2017. Ini adalah ODGJ terlama berada dalam penanganan Pemkab.

Pemkab Kukar menyediakan anggaran sebesar Rp 200 juta per tahun untuk penanganan ODGJ dan orang telantar. “Masih ada 10 ODGJ terlama yang ditampung di rumah singgah Loka Bina Karya (LBK) Timbau. Ada yang dari Kukar, Balikpapan, NTT dan Sulawesi,” ungkap Sekretaris Dinsos Kukar, Abidin, yang didampingi penanggung jawab rumah singgah LBK, Sukandar, Jumat 12 Maret 2021.

ODGJ terlama yang dirawat Dinsos memang tidak dipulangkan karena tidak diketahui asal-usulnya. Mereka kerap ditemukan di jalan. Ada juga pihak keluarga yang enggan menerima lagi ODGJ tersebut. Padahal, sudah sampai tahap tenang.

“Ada tujuh orang yang tidak diketahui asalnya. Sedangkan ada tiga orang, keluarganya tidak mau terima lagi karena takut kambuh lagi, ” ucapnya.

Sebenarnya, jika pihak keluarga mau menerima kembali, beban Dinsos sedikit berkurang. Dinsos tetap berupaya mengedukasi keluarga agar mau menerima ODGJ yang dinyatakan sembuh.

“Kita berikan edukasi, bagaimanapun ini orang bagian dari keluargamu, serta ini titipan dari Tuhan. Namun, jika keluarga tetap tidak mau terima juga, maka mau diapakan lagi,” tambah Sukandar.

Dijelaskannya, merawat ODGJ hanya butuh kesabaran serta disiplin memberikan obat. Peluang untuk ODGJ kambuh sangat kecil. Itu berbeda jika menghadapinya dengan tidak sabar. “Bisa cepat kambuh,” ujarnya.

Baca Juga  Jasad Anak Perempuan yang Tenggelam di Sei Meriam Ditemukan

Saat ini, para ODGJ diber terapi kerja. Mulai mengurus dirinya sendiri, diajarkan menanam pohon, serta aktivitas ibadah keagamaan. Terapi kerja bermamfaat agar ODGJ tidak banyak melamun.

Baca Juga  Kisah Korban Kebakaran Sebulu, Novie Panik Cari Adik, Tersisa Baju di Badan

“ODGJ dipandu salat lima waktu, walau banyak yang berantakan. Diberikan ceramah agama dari pengasuh, ” ucapnya.

Kadang terjadi perkelahian antar ODGJ yang harus dihadapi pengasuh berjumlah 4 orang. “Pernah terjadi kegaduhan, salah satu ODGJ terbayang dibunuh ayahnya, ternyata memukul temannya, akhirnya terjadi perkelahian, ” jelasnya.

Dari 10 ODGJ yang dirawat, menurut Sukandar, terdiri dari satu orang perempuan dan sembilan laki-laki. Itu sebabnya, ada satu pengasuh perempuan.

Untuk urusan honor, pengasuh ODGJ mendapatkan honor Rp 1,2 juta per bulan. Jam kerja pagi sampai sore.  “Ada juga ODGJ yang laki-laki ternyata pengen banget dimandikan sama pengasuh perempuan, ya tidak bisa. Yang laki-laki diasuh oleh pengasuh laki-laki juga, saya ikut dampingi, ” jelasnya.

Sukandar juga menyebut, pihaknya menampung Lansia penderita stroke. Keluarganya menolak merawat. “Untungnya anaknya yang di Solo mau terima, sebentar lagi akan dipulangkan ke Solo,” katanya.

Penulis: Andri

Editor: MH Amal

Komentar

- Advertisement -spot_img

LIHAT JUGA

- Advertisement -spot_img

TERBARU

spot_img
Komentar