src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Ilustrasi. Dua ribu lebih ibu hamil di Indonesia terkena HIV sepanjang 2025. (iStockphoto/Gam1983)
HEADLINEKALTIM.CO – Kasus ibu hamil HIV, terapi ARV, penularan ibu ke anak, profilaksis bayi, dan kelompok rentan kembali jadi sorotan setelah Kementerian Kesehatan melaporkan 2.264 temuan baru sepanjang 2025. Situasi ini menegaskan bahwa penanganan ibu hamil HIV harus diperkuat agar risiko penularan tidak terus berlanjut.
Dilansir dari CNN Indonesia, Kementerian Kesehatan RI mencatat 2.264 kasus baru ibu hamil HIV dalam periode Januari hingga September 2025. Angka tersebut diperoleh dari pemeriksaan terhadap 2.482.837 ibu hamil, dengan persentase positif sekitar 0,09 persen. Meski jumlahnya cukup besar, laporan menunjukkan bahwa baru 68 persen dari para ibu hamil HIV tersebut yang memulai terapi antiretroviral (ARV), padahal terapi ini menjadi langkah krusial untuk mencegah penularan ke bayi.
Dalam tiga tahun terakhir, penularan HIV dari ibu ke anak memang menunjukkan tren penurunan, tetapi masih belum berada pada tingkat yang aman. Pada 2023 tercatat 137 bayi tertular, kemudian turun menjadi 132 bayi pada 2024, dan kembali menurun menjadi 88 bayi pada 2025. Data ini mengindikasikan bahwa intervensi terhadap ibu hamil HIV belum sepenuhnya optimal, meskipun ada perbaikan dalam cakupan layanan.
“Peningkatan signifikan cakupan profilaksis bayi membuat gap antara jumlah ibu hamil HIV positif dan bayi yang mendapat profilaksis semakin kecil. Sejak 2023 positivity rate pada bayi lahir dari ibu ODHIV menurun,” ujar Ketua Tim Kerja HIV-AIDS Kemenkes, Tiersa Vera Junita M dikutip dari Detikhealth.
Dalam laporan yang sama, Kemenkes menegaskan bahwa anak ODHIV masih menjadi salah satu penyumbang kasus HIV tertinggi di Indonesia, dengan positivity rate mencapai 17 persen. Selain kelompok ibu hamil HIV, ada sejumlah kelompok yang turut berkontribusi besar terhadap tingginya kasus.
Kelompok pertama adalah pasangan ODHIV, termasuk ibu rumah tangga yang tertular dari suaminya. Dari 9.709 tes yang dilakukan, ditemukan 3.339 kasus, atau positivity rate mencapai 34 persen. Kelompok kedua adalah pelanggan pekerja seks, dengan 4.471 kasus dari 22.454 tes atau positivity rate 20 persen. Sementara itu, anak ODHIV berada di posisi ketiga dengan 728 kasus dari 4.254 tes.
Melihat tingginya risiko penularan di berbagai kelompok rentan, Kemenkes menekankan pentingnya deteksi dini pada ibu hamil HIV, pemberian profilaksis bayi, serta perluasan akses terapi ARV. Upaya ini diharapkan mampu mempercepat penurunan kasus sekaligus memutus rantai penyebaran HIV, terutama pada kelompok berisiko seperti ibu hamil, pasangan ODHIV, dan anak.