src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Kondisi jalur poros Samarinda-Balikpapan Kilometer 28 yang rusak parah akibat longsor, kini dilakukan penanganan darurat oleh BBPJN Kaltim agar bisa dilintasi kendaraan meski satu lajur. (Antara Kaltim/HO-BBPJN Kaltim)HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG – Longsor yang terjadi di Jalan Soekarno-Hatta Kilometer 28, Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, kini memasuki fase darurat. Sebanyak 21 rumah terdampak longsor, 88 jiwa mengungsi, jalur nasional poros Samarinda-Balikpapan ambles, dan potensi bencana susulan masih mengintai karena pergerakan tanah belum berhenti. Lima
Kepala Desa Batuah, Abdul Rasyid, saat ditemui Rabu (21/5/2025) di Samarinda mengungkapkan bahwa jumlah korban kemungkinan bertambah. “Dari 21 rumah terdampak itu melibatkan 28 Kepala Keluarga (KK) dengan total 88 jiwa. Jumlah ini diperkirakan bakal terus bertambah mengingat pergerakan tanah masih terjadi di lokasi tersebut,” katanya.
Jalan Soekarno-Hatta yang menghubungkan dua kota penting di Kalimantan Timur—Samarinda dan Balikpapan—merupakan nadi ekonomi dan logistik. Longsor di KM 28 mengancam kelancaran transportasi serta mobilitas ribuan kendaraan setiap harinya.
Kerusakan jalan cukup signifikan. Menurut laporan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Kalimantan Timur, sebagian jalan ambles dan hanya satu jalur yang masih bisa dilalui kendaraan, itupun dengan sistem buka-tutup yang diawasi ketat petugas lapangan.
BBPJN Kaltim langsung melakukan langkah-langkah penanganan darurat. Kepala Bagian Umum dan Tata Usaha BBPJN Kaltim, Budi Faizal, mengatakan bahwa langkah awal yang diambil adalah memperkuat struktur tebing dengan cerocok untuk mencegah longsoran susulan.
“Kita juga sudah memasang rambu-rambu lalu lintas serta melakukan normalisasi filtrasi rembesan air menggunakan bak kontrol yang dialirkan dengan pipa. Saat ini kondisi bisa dilalui kendaraan, tapi hanya satu arah dan dengan pengawasan,” jelas Budi.
Namun, proses ini tidak berjalan tanpa hambatan. BBPJN menghadapi kendala teknis dan non-teknis. Salah satunya adalah permintaan warga untuk akses ke rumah mereka yang rusak agar bisa menyelamatkan barang-barang penting. Di sisi lain, pembersihan lahan untuk rencana alih trase jalan juga membutuhkan penebangan pohon dan pemindahan tiang listrik oleh PLN.
Langkah lebih lanjut berupa investigasi geoteknik akan dilakukan Kamis (22/5/2025). BBPJN Kaltim bekerja sama dengan Satuan Kerja Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional (P2JN) untuk melaksanakan boring test guna mengetahui kondisi tanah lebih dalam. Hasil uji ini menjadi dasar penting dalam merancang rekonstruksi jalan jangka panjang.
Rencana jangka panjang BBPJN adalah merelokasi jalur yang terdampak. Namun, proses ini menunggu dokumen resmi kebencanaan dari Bupati Kutai Kartanegara dan penyelesaian pemindahan tiang listrik oleh PLN.
“Kalau tiang listrik sudah dipindah, kita bisa relokasi sehingga bisa masuk jadi dua jalur,” ujar Budi Faizal. Alternatif ini dianggap solusi paling aman dan berkelanjutan karena medan lokasi sangat rawan terjadi longsor ulang.
Di sisi lain, Dinas Sosial Kalimantan Timur melalui Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial, Achmad Rasyidi, memastikan bahwa bantuan logistik telah disalurkan kepada para korban yang terdampak.
“Para korban yang mendapatkan bantuan sudah kami catat berdasarkan laporan Dinsos kabupaten setempat. Logistik itu sudah kami siapkan sebelumnya di setiap kabupaten untuk jaga-jaga manakala ada bencana,” ungkap Rasyidi.
Bantuan tersebut meliputi makanan siap saji, perlengkapan tidur, kebutuhan bayi, dan tenda darurat. Warga terdampak saat ini sebagian besar tinggal di posko pengungsian yang didirikan di sekitar lokasi aman dan dikoordinir oleh pemerintah desa dan relawan setempat.
Artikel Asli baca di antaranews.com
Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya