src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Limbah Sawit Diubah Jadi Bata Ringan, Dua Pemuda Desa Muai Curi Perhatian Sri Muryani

Limbah Sawit Diubah Jadi Bata Ringan, Dua Pemuda Desa Muai Curi Perhatian Sri Muryani

waktu baca 2 menit
Kamis, 19 Feb 2026 22:30 206 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG – Anggota DPRD Kukar Daerah pemilihan Kecamatan Hulu, Sri Muryani kagum dengan inisiatif pemuda Desa Muai Kecamatan Kembang Janggut yang membuat bata ringan dari bahan baku limbah sawit. “Pemuda tersebut, sedang konsentrasi membuat pabrik bata ringan skala kecil,” ucap Sri, Kamis 19 Februari 2026.

Saat melihat pabrik secara langsung, Sri melihat limbah pelepah sawit dikeringkan dan dibakar. Limbah ini jika dibiarkan akan membusuk dan mengeluarkan bau tidak sedap. Namun, dengan pengoolahan tepat menjad sumber pendapatan.

Limbah tesebut dicampur dengan semen sebagai perekat dan dicetak dalam bentuk bata ringan. “Digarap dua pemuda Desa Muai,” ucap politisi Golkar ini.Anggota DPRD Kukar Sri Muryani, saat meninjau pembuatan bata ringan limbah kelapa sawit di Desa Muai Kembang Janggut.(Sumber : Ist/Sri Muryani)

Sayangnya, produksi bata ringan itu belum bisa diproduksi secara massal karena belum teruji kelayakan dan ketahanan sebagai bahan bangunan publik. Untuk mengurus proses sertifikat kelayakan butuh dana yang tidak sedikit. “Diperkirakan butuh dana sekitar Rp 80 juta,” rincinya.

Untuk menguji secara sederhana, bata ringan bahan limbah sawit tetap diproduksi tapi dipakai untuk membangun pabrik sendiri. Selama ini, kostruksi masih aman. Pabrik kecil tersebut bisa melakukan produksi bata ringan secara massal mengingat bahan bakunya berlimpah di daerah sana.

“Saya berharap, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa(DPMD) bisa lakukan pendampingan, mengingat ada penilaian Teknologi Tepat Guna(TTG) oleh dinas tersebut ke masyarakat desa,” ucapnya.

Sri sangat yakin dan optimis, jika sertifikat uji kelayakan terbit, maka pabrik tersebut akan semakin besar dan memberikan dampak besar ke masyarakat sekitarnya. Kedua pemuda tersebut sudah membangun pabrik skala kecil beserta alatnya dengan biaya sekitar hampir Rp 50 juta.

“Jika pabrik besar, maka semakin banyak merekrut tenaga kerja. Ini sederhana tapi kreatifnya luar biasa,” jelasnya.(Andri)

 

WhatsApp
Berita Terkini, Ikuti Saluran WhatsApp headlinekaltim.co

Gabung

LAINNYA
x