src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Komisi lll DPRD Samarinda Sidak Proyek Pembangunan Terowongan

Komisi lll DPRD Samarinda Sidak Proyek Pembangunan Terowongan

3 minutes reading
Monday, 14 Jul 2025 23:17 306 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Komisi III DPRD Kota Samarinda melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi proyek pembangunan Terowongan Samarinda pada Senin 14 Juli 2025. Sidak dilakukan untuk menindaklanjuti laporan masyarakat sekaligus mengawasi progres penanganan pasca-insiden awal tahun lalu.

Sorotan ini memicu kekhawatiran terhadap keselamatan dan kualitas pelaksanaan proyek, terutama karena sebelumnya longsor besar juga sempat terjadi pada awal tahun 2025.

Ketua Komisi lll DPRD Kota Samarinda, Deni Hakim Anwar mengatakan adanya kelalaian dari pihak kontraktor. “Kami tidak menyalahkan Pemerintah Kota Samarinda. Namun, kami ingin memberikan koreksi dan masukan kepada pihak kontraktor pelaksana, khususnya dalam perencanaan.” katanya.

Pihaknya mendapati dokumen perencanaan yang tanpa kajian atau identifikasi terhadap titik-titik yang berpotensi longsor. Akibatnya, longsor pun terjadi di area inlet. “Oleh sebab itu, kami meminta agar konsultan perencana dihadirkan. Kami ingin mendapatkan kejelasan secara menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang. Ini baru kejadian pertama, dan kami berharap ini juga yang terakhir,” ungkapnya.

Lanjut ia menekankan bahwa evaluasi tidak boleh hanya pada aspek penanganan, tetapi juga pada penyebab utamanya. “Tadi dijelaskan bahwa mereka tidak mendeteksi adanya kandungan air atau endapan yang berpotensi memicu longsor. Hal inilah yang menjadi catatan penting dalam penjelasan dari site engineer, Mas Prasetio,” bebernya.

Poin penting lainnya adalah terkait penggunaan anggaran. Pihaknya berharap dana yang telah dialokasikan untuk proyek ini digunakan secara optimal dan bertanggung jawab. Anggaran untuk pembangunan terowongan ini sangat besar. Bahkan, ada wacana penambahan anggaran dalam APBD Perubahan sebesar Rp39 miliar untuk penanganan longsor.

“Kami tidak ingin setelah penambahan Rp39 miliar ini, masih muncul kejadian yang tidak diprediksi sebelumnya. Oleh karena itu, kami meminta agar kontraktor hadir kembali minggu depan untuk memberikan penjelasan secara detail,” ucapnya

DPRD ingin memastikan bahwa perencanaan dilakukan secara matang, menyeluruh, dan memperhatikan seluruh aspek teknis—termasuk regrading, rock bolt, ground anchor, dan lain-lain. Semuanya harus dirinci dengan jelas agar kejadian tidak terulang.

“Dari sisi outlet, kami juga sudah masuk dan melihat langsung kondisi di lapangan. Secara keseluruhan, progres pekerjaan sudah mencapai sekitar 98 persen. Namun, ada catatan penting terkait sistem blower. Saat ini, baru terpasang dua unit blower, padahal seharusnya ada enam unit, sesuai dengan informasi sebelumnya,” ungkapnya.

Ia mengatakan bahwa kemungkinan besar kekurangan blower ini disebabkan oleh adanya penambahan panjang terowongan sejauh 72 meter. Dengan penambahan tersebut, dibutuhkan tambahan dua blower lagi sehingga total menjadi 10 unit.

Ini juga menjadi perhatian dewan dan akan ditindaklanjuti saat perencana dan konsultan hadir menjelaskan secara teknis. “Salah satu hal paling krusial yang kami soroti adalah kondisi dinding terowongan yang sangat curam, hampir vertikal. Ini dianggap menjadi salah satu penyebab longsoran. Maka dari itu, ke depan akan dilakukan perubahan desain agar lebih landai demi faktor keamanan,”jelasmya

Di sisi atas terowongan pun ada beberapa potensi longsor yang sudah ditangani, tetapi kejadian longsor ternyata masih terjadi. “Kami akan terus mengawal proyek ini agar pelaksanaannya sesuai dengan harapan dan standar yang berlaku,” pungkasnya. (msd)

 

Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya

LAINNYA
x