22.5 C
Samarinda
Thursday, December 9, 2021

Kisah Penggali Kubur Jenazah COVID-19, Triyono: Setiap Hari Kami Harus Menggali, Kapan Semua Ini Berhenti?

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Der mesin buldozer meraung. Bukit dengan tanah lempung berpasir, diratakan. Tampak areal pemakaman baru dipersiapkan. Aktivitas ini terus berlangsung di kawasan pemakaman Raudhatul Jannah, di Tanah Merah, Samarinda, Kaltim.

Maklum, sudah ada tiga blok pemakaman, terisi penuh. Setiap blok diisi 50 sampai 70 nisan kuburan.

“Sekarang menuju blok ke 4 (akan terisi penuh),” ujar Triyono 34 tahun, salah satu penggali kubur di pemakaman Raudhatul Jannah, saat ditemui Senin 5 Oktober 2020.

Triyono bersama 6 rekan lainnya bergantian untuk menggali kubur. Dengan alat cangkul seadanya, mereka harus bekerja mempersiapkan pemakaman ketika diminta oleh Satgas COVID-19 Samarinda.

Mulanya, bulan Maret hingga Juni 2020, ia dan rekannya tak banyak menggali tanah kuburan. Namun, memasuki Juni, Agustus hingga sekarang tahun 2020, tugasnya tak pernah berhenti. Setiap hari penggalian harus jalan.

“Ada sehari 6 kuburan yang harus disiapkan. Kami hanya stand by saja di rumah. Kalau diminta menggali kubur, baru kami kerja. Tapi, sekarang setiap hari kami menggali,” kata Triyono diamini oleh rekan yang menemaninya, Nur, 40 tahun.

Siang itu, Triyono dan Nur masih bertahan istirahat di pemakaman Raudhatul Jannah karena penggalian belum selesai. Sedangkan 5 rekannya lebih dulu pulang setelah pekerjaan galian makam sudah rampung.

Nur dan Triyono turut merasakan prihatin ketika pemakaman COVID-19 terus berlanjut setiap hari. Bukan karena pekerjaannya berat tetapi mereka tak mau peristiwa ini terus berlangsung.

“Kalau bisa berhenti, Mas (pemakaman COVID-19). Nggak ada sukanya,” kata Triyono menjawab pertanyaan wartawan soal suka duka penggali kuburan COVID-19.

Penggalian kuburan COVID-19, dikatakan Triyono, biasanya dilakukan bersama-sama rekannya. Mereka sudah biasa menghadapi cuaca panas dan hujan ketika galian kuburan mendesak disiapkan.

Lurah Tanah Merah Joko S menjelaskan pemakaman Raudhatul Jannah masih sangat luas. “Lahannya 10 hektare. Sudah sangat luas kalau mau diperbesar lagi,” katanya.

Joko menceritakan pihaknya selalu berkoordinasi dan mengajukan aspirasi masyarakat sekitar pemakaman ke Pemerintah Kota. Terutama penyemprotan disinfektan usai pemakaman COVID-19.

Masa pandemi COVID-19, dengan angka kematian cukup tinggi di Juli dan Agustus 2020, membuat masyarakat khawatir penularan virus terjadi di sekitar lokasi pemakaman.

Penulis : Amin

Komentar

LIHAT JUGA

- Advertisement -

TERBARU