Beranda BUMI ETAM Kisah Lansia Eks Serdadu, Hidup di Bekas Ladang dan Berteduh di Kandang...

Kisah Lansia Eks Serdadu, Hidup di Bekas Ladang dan Berteduh di Kandang Ayam

Kisah Lansia Eks Serdadu, Hidup di Bekas Ladang dan Berteduh di Kandang Ayam - headlinekaltim.co
Dawari dan istrinya hidup di bekas ladang dengan kondisi memprihatinkan.
Advertisement

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Hidup prihatin dijalani pasangan lanjut usia, Dawari (77) dan Mardiana (55). Keduanya tinggal di tengah lahan bekas kebun warga di Jl Rimbawan Kelurahan Tanah Merah Kecamatan Samarinda Utara, Samarinda, Kaltim.

Keduanya terus bertahan meskipun hidup dalam kondisi menyedihkan.  Ketika musim hujan, pasangan ini berpindah dari pondok ke kandang ayam. “Jadi kalau itu (pondok) bocor, aku pindah sini (kandang ayam). Kalau bocor ini (kandang ayam) aku pindah di situ. Begitu kalau hujan,” ujar Dawari. Dia mengenakan kopiah dan kaos lusuh warna merah, saat ditemui, Selasa 22 September 2020 lalu.

Kisah Lansia Eks Serdadu, Hidup di Bekas Ladang dan Berteduh di Kandang Ayam
kandang ayam yang disulap jadi rumah.

Kondisi pondok yang ditempati Lansia ini berukuran 2 × 3 meter dengan dinding kayu beratap seng bekas. Ada terpal biru yang menjadi tarup tambahan. Lokasinya di dalam lahan bekas kebun yang kini menjadi hutan lebat. Menuju lokasi pondok ini, sekitar satu kilometer dari jalan utama poros Kota Samarinda- Bontang.

Advertisement

Dawari mengaku memiliki kartu BPJS Kesehatan. Pernah juga dia mendapat bantuan sembako ketika musim pandemi COVID-19. Namun, Bantuan Langsung Tunai (BLT) belum pernah dirasakannya.  “Sembako dapat, tapi bantuan uang langsung yang nggak dapat. Dari dulu sampai sekarang,” katanya.

Pria tua ini juga sangat berharap mendapat bantuan rumah layak huni. Sayangnya, dari informasi yang dihimpun, Dawari dan istrinya enggan dipindahkan ke panti sosial.

Karena itu, jangan bicara air bersih dan listrik. Tandon saja tak pernah dibantu.  Untuk mandi dan mencuci, pasangan ini mengambil air di parit yang tak jauh dari kandang ayam yang ditempatinya. “Begini pahit getirnya dunia, sudah ndak apa-apa. Namanya dunia ada susah ada enak seperti air laut pasang surut,” kata Dawari.

Untuk memenuhi nafkah, Dawari kerap bekerja membersihkan kebun dari warga yang membutuhkan jasanya. Selebihnya  dia menganggur. Kerap dia mengumpulkan botol-botol plastik bekas untuk dijual kembali. Uang yang diperoleh dipakai untuk menyambung hidup.

Pasangan lansia ini sebenarnya dikaruniai satu anak berusia 17 tahun. Kini, sang anak merantau ke Balikpapan. Warga sekitar beberapa kali membantu lansia ini dengan memberi beras dan lauk.

Rupanya, Dawari menyimpan kisah dari masa lalu. Dia pernah menjadi anggota TNI Angkatan Udara. Dawari muda pernah terlibat dalam operasi penumpasan pemberontakan gerakan DI/TII dan Permesta di Manado tahun 1957. Pada tahun 1979 ia berhenti sebagai prajurit dengan pesangon Rp 2 juta.

Penulis: Amin

Komentar
Advertisement