23.6 C
Samarinda
Jumat, Agustus 6, 2021

Kejari Belum Terima SPDP Kasus Investasi Bodong

HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Kejaksaan Negeri (Kejari) Berau mengaku belum menerima Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) kasus investasi bodong dari penyidik Polres Berau.

Hal ini dikatakan Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejari Berau, Danang Laksono Wibowo. “Belum sampai ke saya,” ujarnya, Senin 14 Juni 2021.

Mengenai rencana pelimpahan berkas dugaan investasi bodong dengan terlapor DM (23), warga Kamar Bola, Teluk Bayur, ke Polda Kaltim, kata Danang, tentu akan menjadi perhatian tersendiri bagi Kejari. “Tentu ini akan kami kawal. Akan terus kami monitor hingga ada penetapan tersangka,” jelasnya.

Kasat Reskrim Polres Berau AKP Ferry Putra Samodra mengatakan, saat ini pihaknya masih terus mengumpulkan alat bukti untuk penetapan tersangka.

Rencananya, pelimpahan berkas akan dilakukan pekan depan ke Polda Kaltim. “Insya Allah minggu depan sudah kami kirim berkasnya,” ujarnya, Senin 14 Juni 2021.

Diharapkannya, semua proses pemeriksaan saksi hingga pengumpulan bukti bisa segera rampung sehingga bisa segera dilakukan pelimpahan berkas ke Polda Kaltim.

Dia menyebut, sejauh ini hanya ada dua orang di Berau, yang membuat laporan. Namun, jika nanti pihaknya mendapat tambahan pelapor, pihaknya akan tetap melayani walaupun kasusnya telah dilimpahkan ke Polda Kaltim.

“Silakan saja kalau nanti ada yang mengatasnamakan korban dan mau buat laporan lagi. Bisa saja di Polres Berau. Karena memang tidak ada larangan untuk membuat laporan. Kalau pun nanti buat laporan di Berau, kemungkinan berkas pemeriksaan saksi atau pelapor akan kembali dikirimkan ke Polda,” bebernya.

Diberitakan sebelumnya, kasus dugaan penipuan dengan terduga pelaku DM (23) dipastikan akan dilimpahkan ke Polda Kaltim. Salah satu faktornya adalah banyak korban dan Tempat Kejadian Perkara (TKP) yang berada di luar Berau.

Saat ini, status DM masih menjadi terlapor atau saksi. Dari bukti transaksi di 3 bank berbeda, ada total Rp 64 miliar uang yang berputar.

Dari terduga pelaku, pihaknya berhasil menyita satu unit mobil, emas, sisa uang dari investasi dan beberapa alat bukti lain. “Untuk bukti yang lain kami tidak bisa menyebutkan,” bebernya.

Berdasarkan keterangan DM, investasi arisan online itu dimulai September 2020. Kemudian, pada Mei 2021, pembayaran investasi tersendat. “Itu sebenarnya uang-uang member saja yang diputar. Ibarat gali lubang dan tutup lubang saja,” sebutnya.

Penulis: Sofi
Editor: MH Amal

Komentar

- Advertisement -spot_img

LIHAT JUGA

- Advertisement -spot_img

TERBARU

spot_img
Komentar