src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">


HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau, Lamlay Sarie, menyampaikan, penanganan kejadian luar biasa (KLB) Difteri dilakukan dengan pemberian vaksin terkhusus daerah yang terkonfirmasi positif Difteri.
Berdasarkan pemeriksaan sampel suspek Difteri yang dilakukan di Laboratorium Kesehatan Provinsi Kalimanatan Timur terdapat 4 kasus terkonfirmasi positif Difteri di Kabupaten Berau.
Diantara keempat kasus tersebut 2 kasus ditemukan pada akhir tahun 2023 dan 2 kasus lainnya ditemukan pada tahun 2024. “Dari kasus yang terkonfirmasi positif 3 diantaranya meninggal dunia,” ungkapnya.
Berdasarkan hal tersebut telah ditetapkan SK Bupati Berau Nomor: 23 Tahun 2024 Tentang Penetapan Status Kejadian Luar Biasa (KLB) Penyakit Difteri.
“Wilayah ditemukannya kasus Difteri adalah di Kecamatan Teluk Bayur, Kecamatan Pulau Derawan, Kecamatan Kelay, dan Kecamatan Gunung Tabur,” ucapnya.
Dikatakannya, sebagai tindak lanjut penanggulangan KLB Difteri di Kabupaten Berau telah dilakukan Outbreak Respon Imunization (ORI) di wilayah terbatas sesuai lokasi ditemukannya kasus sejak penemuan kasus.
“Kalau kita lihat dari kasus-kasus yang meninggal itu memang semua tidak ada yang pernah mendapatkan imunisasi, jadi ini merupakan salah satu titik penekanan bagi kami di kabupaten bahwa program imunisasi terutama untuk bayi balita kemudian vaksin itu memang kita upayakan pencapaiannya 100 persen,” ucapnya.
Untuk itu, dihimbau kepada seluruh masyarakat Kabupaten Berau dapat melengkapi imunisasi dasar lengkap pada anak, terapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), gunakan masker jika mengalami gejala batuk dan pilek, jaga jarak fisik (physical distancing), hindari kerumunan, mengkonsumsi gizi seimbang, dan meningkatkan kewaspadaan dini terhadap penyakit difteri.
Kata dia, dengan segera melakukan pemeriksaan ke fasyankes jika mengalami salah satu gejala sakit Difteri (demam, nyeri menelan, terdapat pseudomembran putih keabuan di tenggorokan, leher membengkak, sesak nafas disertai bunyi).
“Harapannya tidak ada lagi kasus yang positif Difteri di Kabupaten Berau, sehingga masyarakat harus memperhatikan juga aspek-aspek terkait dengan pola hidup sehat,” pungkasnya (Adv/Riska).