src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Kabid Pengarustamaan Gender dan Pemberdayaan Perempuan DP3A Kukar, Chalimatus Sa’diah.(Sumber : Andri) HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG – Kepala Bidang Pengarustamaan Gender dan Pemberdayaan Perempuan di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kukar Chalimatus Sa’diah menyebut, masih banyak perempuan kepala keluarga (PEKKA) di Kukar.
“PEKKA bukan hanya dicerai suaminya, tapi sudah menjadi tulang punggung keluarga, seperti suaminya alami penyakit permanen, atau juga suaminya bekerja tapi tidak pulang dan tidak memberi nafkah keluarga,” ucap Chalimatus Sa’diah.
PEKKA, sebutnya, berpotensi alami kerentanan ekonomi karena pendapatan rendah dan mengalami kemiskinan. Angka PEKKA cukup tinggi di Kukar. “Mencapai 48.411 jiwa pada tahun 2025,” jelasnya.
Dirinya meminta kepada masyarakat umum untuk menghilangkan sebutan janda. Lebih baik diganti dengan PEKKA karena istilah janda kini punya stigma negatif. “Kita ingin perempuan kepala keluarga lebih terhormat dan bermartabat, serta percaya diri menjalani hidup,” ungkapnya.
Guna menolong PEKKA dari kesulitan ekonomi, DP3A akan membuat program pemberdayaan perempuan agar lebih berdaya karena punya keterampilan dan usaha penopang keluarga. “Bisa saja kita beri pelatihan menjahit, kuliner hingga pemasaran digital,” ujarnya.
Dirinya memastikan akan berjuang agar PEKKA bisa masuk daftar yang layak dibantu pemerintah, seperti bantuan program keluarga harapan, hingga mendapatkan bantuan non tunai dari pemerintah. “Kita bantu juga PEKKA kemudahan modal berusaha, jangan sampai PEKKA terlibat dengan pinjaman berbunga tinggi, sangat kasihan juga sudah terkena itu,” pungkasnya.(Andri)