src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Bontang Siap Jadi Sentra Pengalengan Ikan Nasional, Dorong Hilirisasi dan Ekonomi Pesisir

Bontang Siap Jadi Sentra Pengalengan Ikan Nasional, Dorong Hilirisasi dan Ekonomi Pesisir

4 minutes reading
Monday, 21 Apr 2025 14:43 509 gleadis

HEADLINEKALTIM.CO, BONTANG – Pemerintah Kota Bontang, Kalimantan Timur, menggebrak dengan rencana besar mengembangkan industri manufaktur pengalengan ikan, menyasar komoditas laut unggulan seperti cakalang, tongkol, dan tuna. Langkah ini menjadi bagian dari strategi hilirisasi sektor perikanan, sebagai upaya diversifikasi ekonomi berbasis sumber daya lokal, sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil laut dari kawasan pesisir timur Pulau Kalimantan.

Rencana pengembangan industri ini tak muncul secara tiba-tiba. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bontang, Muhammad Aspiannur, menjelaskan bahwa inisiatif ini telah melalui proses kajian pemetaan potensi dan peluang investasi, yang digarap Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur sepanjang tahun 2024 menggunakan pendekatan SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats).

“Sudah dilakukan kajian penyusunan pemetaan potensi dan peluang investasi Kota Bontang yang dilakukan Provinsi Kalimantan Timur pada 2024 dengan menggunakan pendekatan SWOT,” ujarnya saat ditemui di Bontang, Ahad (20/4).

Kota Bontang memang dikenal sebagai salah satu lumbung perikanan tangkap di Kalimantan Timur. Hasil laut seperti cakalang, tongkol, dan tuna banyak ditangkap nelayan lokal dan menjadi komoditas unggulan. Namun, keberlanjutan industri pengalengan ini tak hanya bergantung pada kuantitas bahan baku yang tersedia saat ini.

Aspiannur menekankan pentingnya menjaga konsistensi pasokan bahan baku dalam jangka panjang—bukan sekadar tahunan, tetapi hingga puluhan bahkan ratusan tahun ke depan. Maka dari itu, kajian juga mencakup strategi kelestarian sumber daya perikanan.

“Kami tak hanya berpikir soal produksi saat ini, tapi juga memastikan anak cucu nanti tetap bisa menikmati laut yang kaya dan berkelanjutan,” tegasnya.

Dalam kajian tersebut, turut dibahas kebutuhan sarana dan prasarana pendukung yang krusial untuk menunjang kawasan industri pengalengan ikan, mulai dari lahan industri, akses jalan, hingga kelistrikan dan suplai air. Salah satu lokasi strategis yang sedang disiapkan adalah kawasan Bontang Lestari, yang ke depannya akan memiliki pelabuhan laut sendiri.

Selain itu, aspek sosial juga menjadi bagian integral dalam desain pengembangan ini. Industri pengalengan ikan dinilai memiliki potensi besar dalam menyerap tenaga kerja lokal, terutama dari kawasan pesisir yang selama ini sangat bergantung pada sektor tangkap tradisional.

“Kami ingin agar masyarakat pesisir tak hanya menjadi nelayan, tapi juga bisa masuk ke industri pengolahan. Ini bentuk transformasi ekonomi yang lebih inklusif,” kata Aspiannur.

Meski bahan baku ikan melimpah, industri pengalengan masih menghadapi tantangan pada komponen non-lokal, terutama tinplate (kaleng logam) yang hingga kini masih harus diimpor. Ketergantungan pada bahan impor ini menjadikan biaya produksi tinggi karena harus membayar bea masuk.

“Tantangan internal kami salah satunya adalah tinplate, yang masih bergantung pada impor. Ini menjadi catatan penting dalam penghitungan biaya produksi,” jelasnya.

Untuk mengatasinya, pemerintah membuka peluang kolaborasi dengan sektor swasta dan perguruan tinggi guna mengembangkan teknologi alternatif, serta melakukan riset terhadap bahan substitusi lokal yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Aspiannur menyebut bahwa pasar untuk produk olahan laut dari Bontang tidak hanya menjanjikan di dalam negeri, tapi juga untuk ekspor internasional. Negara-negara di kawasan Asia Timur, Timur Tengah, dan bahkan Eropa menjadi target distribusi produk-produk pengalengan dengan standar mutu tinggi.

Tak hanya itu, industri pengalengan ini juga akan menumbuhkan industri penopang, seperti industri kemasan, logistik dingin, hingga sektor pendukung lainnya yang menciptakan ekosistem industri yang lebih kuat dan berdampak luas.

“Pengembangan ini bukan hanya tentang membangun pabrik, tapi menciptakan ekosistem industri yang efisien, inklusif, dan ramah lingkungan,” ujarnya.

Pemerintah Kota Bontang juga memasukkan program mitigasi dampak sosial dan lingkungan sebagai komponen wajib dalam pengembangan kawasan industri ini. Pengelolaan limbah produksi, pengendalian emisi, serta penerapan prinsip perikanan berkelanjutan akan menjadi standar operasional yang diterapkan sejak tahap perencanaan.

“Kami belajar dari banyak daerah lain. Industri bisa berkembang pesat, tapi kalau limbahnya tidak dikendalikan, maka masyarakat dan lingkungan akan jadi korban. Itu yang ingin kami hindari,” ucap Aspiannur.

Menariknya, tak hanya fokus pada ikan tangkap, Pemerintah Kota Bontang juga membuka potensi budidaya laut seperti rumput laut, yang bisa diolah menjadi karagenan, bahan baku penting untuk industri farmasi dan kosmetik.

“Rumput laut ini permintaannya tinggi, dan bisa diproses menjadi produk bernilai tambah tinggi. Apalagi kita punya kawasan pesisir luas dan laut yang tenang,” kata Aspiannur.

Artikel Asli baca di antaranews.com

 

Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya di Google News Headline Kaltim

LAINNYA
x