src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Riwayat kegempaan di Tojo-Unauna dipaparkan BMKG. (ist)HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA—Dalam sehari, Senin 26 Juli 2021, warga Kabupaten Tojo-Unauna, Sulteng, panik. Dua kali gempa bumi dengan kekuatan besar ‘membuat’ bangunan seperti menari.
Gempa pertama terjadi pada pukul 11.52 WITA. Situs resmi BMKG mencatat kekuatan gempa 5,9 Magnitudo. Lokasinya 55 KM Timur Laut, Tojo-Unauna.
“Saya langsung keluar rumah. Goncangannya cukup lama. Saya lihat ada sedikit retakan di dinding rumah,” kata Zulkifli Amal, warga Desa Labuan, Kecamatan Ampana Kota, Kabupaten Tojo-Unauna.
Warga lainnya berhamburan keluar rumah begitu merasakan goncangan keras. Setelah kepanikan warga pada siang harinya, lindu susulan dengan goncangan lebih kuat terjadi pukul 20.09 WITA. 6,5 M dengan lokasi 59 KM Timur Laut. Kedalam 10 KM.
Akibat gempa, listrik padam. Memicu kepanikan massal. Di tengah kondisi gelap gulita, warga yang khawatir dengan kemungkinan tsunami berupaya mengungsi ke lokasi yang lebih tinggi.
“Semua panik. Memang dari BMKG menyebut tidak berpotensi tsunami. Tapi, kami takut juga. Soalnya ini (gempa) sudah dua kali dalam sehari. Jangan sampai (tsunami), makanya kami mengungsi,” kata warga Ampana, Kartini lewat pesan WhatsApp.
Warga mencari lokasi lebih tinggi dengan kendaraan roda dua dan roda empat. Ada juga yang berjalan kaki.
SESAR AKTIF
Dalam jumpa pers daring yang digelar BMKG, Senin 27 Juli 2021 malam, menyebutkan, kawasan gempa di Tojo-Unauna, hari ini, tergolong seismik aktif dan kompleks. Merupakan zona sesar aktif yang berada di dasar laut. Catatan kegempaannya cukup banyak sejak masa lalu. Tercatat 9 kali gempa kuat sejak 1923. Hampir semua dengan kekuatan di atas skala 6 magnitudo.
Gempa dipicu oleh sesar memanjang yang diduga terusan dari Sesar Balantak. Dua kali gempa yang terjadi merupakan pola mekanisme sesar turun. Setelah dilakukan pemutakhiran, BMKG memperbarui kekuatan gempa menjadi 6,3 magnitudo. Dipastikan gempa tidak berpotensi tsunami.
“Jenis mekanisme gempa dengan memperhatikan episenter dan hiposenter, gempa ini jenis dangkal akibat deformasi sesar lokal. Hasil mekanisme sumber gempa bumi memiliki pergerakan normal atau patahan normal akibat dari patahan normal,” kata Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati saat konferensi pers virtual, Senin malam.
Dia mengimbau agar warga yang berada dekat dengan pusat gempa untuk tetap waspada. Khususnya kepada pemerintah setempat agar memastikan dampak kerusakan gempa terhadap daerah terdekat pusat gempa seperti Ampana, Luwuk, Poso dan Morowali.
“Mohon diingatkan kepada masyarakat setempat, jika merasakan goyangan gempa, entah gempa susulan atau gempa apapun, mohon yang ada di pantai agar segera menjauh,” pesan Dwikorita. Dia juga meminta warga agar tetap tenang dan tidak panik sembari memonitor informasi resmi dari BMKG.
Penulis: MH Amal