src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Ahmad Ridani. (istimewa)HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Pemerintah Indonesia telah memastikan tidak memberangkatkan jamaah dalam pelaksanaan Ibadah Haji Tahun 2021 ini. Keputusan tersebut disampaikan melalui Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas.
Kepala Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umroh Kanwil Kemenag Kaltim Ahmad Ridani mengatakan, keputusan pemerintah tersebut adalah langkah yang sangat baik pada saat ini.
Mengingat, Indonesia masih menghadapi pandemi COVID-19. “Karena itu keputusan pemerintah, tentu kita mendukung keputusan itu. Karena itu yang paling bijaksana, sesuai kondisi pandemi yang belum terkendali, baik bagi pemerintah maupun pemerintah Arab Saudi,” ucapnya saat dihubungi headlinekaltim.co.
Dia meyakini, sebelum pemerintah mengambil keputusan untuk tidak melakukan pemberangkatan jamaah haji, tentu telah melalui banyak pertimbangan dan melibatkan berbagai instansi terkait, termasuk dengan lembaga atau organisasi keagamaan di Indonesia.
“Pemerintah tentu dengan persetujuan DPR, juga dengan instansi terkait. Termasuk Majelis Ulama Indonesia, NU, Muhammadiyah dan sebagainya. Kami mendukung kebijakan pemerintah dalam rangka memberikan keamanan bagi masyarakat kita agar terhindar dari paparan COVID-19. Kaltim otomatis mendukung kebijakan ini,” ujarnya.
Kata dia, hingga saat ini, Pemerintah Indonesia belum menerima statement apapun dari Pemerintah Saudi Arabia. Jadi, situasi ini tidak bisa dipaksakan. Terlebih dengan jarak waktu yang singkat.
“Waktu yang semakin dekat dengan musim haji ini tidak mungkin lah kita melakukan persiapan, karena mepet. Saudi Arabia belum berikan kuota haji, bagaimana mungkin kita menyiapkan orang, berapa jumlahnya yang mau diberangkatkan. Karena tidak jelas seperti itu,” katanya.
Mengenai kuota normal pemberangkatan haji, tambahnya, normalnya sebanyak 2.586 calon haji. Namun, jumlah tersebut adalah kuota jamaah haji untuk pemberangkatan tahun 2020 lalu.
“Kuota normal 2.586 jamaah yang mestinya berangkat 2020 kemarin, akhirnya tertunda mundur 2021. Ini otomatis mundur lagi tahun 2022 nanti. Mudah-mudahan tahun depan tetap bisa diselenggarakan,” tukasnya lagi.
Dia juga membantah pembatalan pemberangkatkan jamaah haji tahun ini karena vaksinasi COVID-19. “Sampai saat ini tidak ada statement dari Saudi Arabia karena kalau vaksin kita sudah diakui oleh WHO. Artinya Badan Kesehatan Dunia sudah mengakui vaksin yang kita gunakan. Tapi ini karena tidak munculnya kuota, jadi tidak ada hubungannya dengan vaksin,” tegasnya.
“Yang kami dengar dari pemerintah bahwa karena kondisi pandemi belum terkendali, apalagi jika dilaksanakan, jamaah haji akan mengalami kendala terkait protokol kesehatan. Karena Masjidil Haram juga dibatasi, sampai sana harus karantina. Saat salat di Madinah, tidak mungkin melaksanakan salat Arbain karena waktu singkat. Sehingga kalau dipaksakan berangkat, jamaah tidak akan puas beribadah di sana,” terang Ahmad Ridani.
Kepada calon haji Kaltim, dia meminta agar bersabar. “Masyarakat harus bersabar karena namanya haji adalah panggilan Allah, tapi tidak mengurangi nilai ibadahnya dia sudah berniat berangkat haji. Masalahnya sampai tidak sampai adalah takdir, penyebabnya macam-macam, salah satunya pandemi ini. Setahun ke depan dimanfaatkan untuk menambah wawasan dan pengetahuan manasik haji sehingga makin matang ibadahnya,” tutupnya.
Penulis : Ningsih
Editor: MH Amal