src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Ilustrasi. Minuman manis memang enak dan menyegarkan, tapi efeknya bisa bikin gagal ginjal. (Getty Images/PonyWang)HEADLINEKALTIM.CO – Kisah remaja asal Tangerang yang divonis gagal ginjal stadium 5, akibat kebiasaan minum minuman manis, kembali mengingatkan publik tentang bahaya gula berlebih. Sulistia, kini 18 tahun, telah empat tahun hidup bergantung pada hemodialisis. Cerita tentang gagal ginjal stadium 5 ini menjadi refleksi penting di tengah meningkatnya konsumsi minuman manis di kalangan anak muda.
Dilansir dari CNN Indonesia, masalah kesehatan ini berawal dari gejala yang tampak sepele. Sulistia mengaku sering mengalami tubuh membengkak, mual, muntah, dan sesak napas. Namun keluhan tersebut tidak langsung mengarah pada gagal ginjal stadium 5, melainkan sempat didiagnosis sebagai asam lambung hingga flek paru.
Ia berkisah, selama dua bulan ia bolak-balik ke klinik namun keluhannya tak kunjung membaik. Bahkan, keluarganya sempat diminta menunggu hingga hari tertentu hanya untuk menebus obat paru. Kondisinya semakin buruk hingga akhirnya ia tak sadarkan diri sebelum hari yang dijanjikan. Dari sinilah awal ia mengetahui dirinya mengidap gagal ginjal stadium 5.
Setelah dilarikan ke IGD di Tangerang, dokter memastikan fungsi ginjalnya telah menurun drastis. Karena usianya masih 14 tahun, ia dirujuk ke rumah sakit lain yang mampu menangani pasien anak dengan gagal ginjal stadium 5. Di sana, kondisinya dinyatakan kritis dan ia harus dirawat dua minggu koma di ICU.
Sulistia menyampaikan bahwa dokter menilai penyebab kerusakan ginjalnya berasal dari kebiasaan konsumsi minuman berwarna, minuman manis kemasan, serta makanan siap saji. Kebiasaan ini telah berlangsung sejak ia kecil. Selain itu, ia jarang minum air putih dan memiliki riwayat keturunan hipertensi, faktor yang memperbesar risiko gagal ginjal stadium 5.
Kini, ia menjalani cuci darah setiap Rabu dan Sabtu untuk mempertahankan fungsi tubuhnya. Dalam keseharian, ia hanya diperbolehkan minum 600 ml air per hari, karena batas cairan yang berlebih dapat memicu sesak dan membahayakan kondisi pasien gagal ginjal stadium 5.
Dokter spesialis urologi Nur Rasyid menjelaskan bahwa gejala gagal ginjal stadium 5 kerap diawali dengan rasa mual dan muntah. Hal ini disebabkan oleh tumpukan ureum, yaitu zat sisa metabolisme yang seharusnya disaring oleh ginjal. Penumpukan ini terjadi secara bertahap sehingga banyak pasien lama tidak menyadari bahwa mereka memasuki fase gagal ginjal stadium 5.
Menurutnya, banyak pasien memulai pengobatan dengan obat maag karena mengira gejala mual berasal dari gangguan lambung. Ketika obat maag tidak mempan, barulah mereka datang ke dokter. Pada fase ini, fungsi ginjal biasanya sudah rusak parah. Kesadaran mengenai tanda awal gagal ginjal stadium 5 masih rendah, sehingga banyak kasus ditemukan terlambat.
Kisah Sulistia menjadi bukti nyata bahwa kebiasaan konsumsi minuman manis harus diwaspadai. Dalam banyak kasus, minuman tinggi gula berkontribusi pada meningkatnya beban ginjal yang akhirnya mempercepat kerusakan hingga mencapai gagal ginjal stadium 5. Anak-anak dan remaja sering menjadi kelompok paling rawan karena gaya hidup yang tidak terkontrol.
Selain itu, para ahli kembali mengingatkan bahwa gagal ginjal stadium 5 tidak terjadi dalam waktu singkat. Kerusakan ginjal berlangsung perlahan dan tanpa gejala jelas pada tahap awal. Pola makan tidak sehat, kurang minum air putih, serta riwayat keluarga dapat mempercepat penurunan fungsi ginjal.