src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Waspada! Endometriosis di Otak Picu Sakit Kepala dan Kejang Saat Haid, Ini 7 Fakta Pentingnya

Waspada! Endometriosis di Otak Picu Sakit Kepala dan Kejang Saat Haid, Ini 7 Fakta Pentingnya

3 minutes reading
Wednesday, 17 Dec 2025 14:35 54 gleadis

HEADLINEKALTIM.CO – Endometriosis selama ini dikenal sebagai penyakit yang menyerang area panggul. Namun, dalam kasus yang sangat jarang, jaringan mirip lapisan rahim ternyata bisa tumbuh di organ lain, termasuk otak. Kondisi inilah yang dikenal sebagai endometriosis di otak, salah satu bentuk endometriosis paling tidak biasa.

Dilansir dari CNN Indonesia, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan RS Eka Hospital PIK, Hardi Susanto, menjelaskan bahwa endometriosis di otak memang jarang terjadi, tetapi secara medis nyata dan pernah ditemukan dalam praktik klinis.

“Endometriosis bisa menjalar ke mana-mana di seluruh tubuh, termasuk ke otak. Meski menyebar seperti kanker, endometriosis bukan sel ganas,” ujar Hardi Susanto.

Hardi menerangkan, endometriosis memiliki kemampuan menyebar ke berbagai bagian tubuh. Meski pola penyebarannya menyerupai kanker, penyakit ini bukanlah sel ganas. Perbedaan mendasar tersebut penting dipahami agar masyarakat tidak salah kaprah.

Endometriosis sendiri adalah kondisi ketika jaringan mirip endometrium tumbuh di luar rahim. Umumnya, jaringan ini ditemukan di ovarium, usus, kandung kemih, atau rongga perut. Namun pada kasus tertentu, jaringan tersebut bisa menjalar ke organ yang jauh dari rahim, termasuk paru-paru hingga otak.

Pada endometriosis di otak, jaringan endometriosis tetap merespons hormon estrogen. Setiap siklus menstruasi, jaringan tersebut dapat menebal dan memicu perdarahan mikro di otak. Kondisi inilah yang kemudian menimbulkan gangguan neurologis dan keluhan saraf yang khas.

Gejala endometriosis di otak kerap luput dari perhatian karena mirip dengan gangguan saraf umum. Padahal, ciri utamanya adalah pola keluhan yang muncul atau memburuk saat menstruasi. Pola siklik inilah yang menjadi petunjuk penting bagi dokter dalam menegakkan diagnosis.

Beberapa gejala yang sering dikaitkan dengan endometriosis di otak antara lain sakit kepala hebat atau migrain yang muncul menjelang atau saat haid. Selain itu, pasien juga bisa mengalami kejang berulang yang menyerupai epilepsi.

Dalam kondisi tertentu, endometriosis di otak juga dapat memicu gangguan saraf lain seperti penurunan kesadaran atau perubahan fungsi neurologis. Karena gejalanya tidak spesifik, banyak kasus yang awalnya salah didiagnosis.

Hardi menegaskan, keluhan sakit kepala atau kejang yang selalu berhubungan dengan siklus haid tidak boleh dianggap remeh. Pola tersebut seharusnya menjadi tanda peringatan dini akan kemungkinan endometriosis di otak.

“Jika ada sakit kepala atau kejang yang selalu berkaitan dengan siklus haid, itu perlu dicurigai,” kata Hardi.

Meski dapat menyebar ke berbagai organ, Hardi kembali menekankan bahwa endometriosis berbeda dengan kanker. Penyakit ini sangat bergantung pada hormon estrogen, sehingga gejalanya cenderung hilang timbul.

Menariknya, keluhan endometriosis di otak umumnya akan berkurang secara signifikan setelah menopause, ketika produksi hormon estrogen menurun drastis. Inilah yang membedakannya dengan penyakit ganas.

Faktor risiko endometriosis, termasuk endometriosis di otak, salah satunya adalah menstruasi di usia yang sangat dini. Selain itu, tanda awal yang sering muncul adalah nyeri haid berat yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

Nyeri haid ekstrem hingga membuat penderita tidak bisa bersekolah atau bekerja patut dicurigai sebagai gejala endometriosis. Jika tidak ditangani, endometriosis berpotensi berkembang menjadi bentuk yang lebih kompleks seperti endometriosis di otak.

Diagnosis endometriosis di otak tidak bisa dilakukan sembarangan. Dokter akan menilai pola gejala, riwayat menstruasi, serta melakukan pemeriksaan penunjang seperti MRI untuk memastikan adanya lesi di otak.

Penanganan endometriosis di otak bergantung pada kondisi pasien. Terapi dapat berupa obat pereda nyeri, terapi hormon untuk menekan estrogen, hingga tindakan operasi pada kasus tertentu dengan pertimbangan medis ketat.

 

WhatsApp
Berita Terkini, Ikuti Saluran WhatsApp headlinekaltim.co

Gabung

banner pemkab berau baru
LAINNYA
x