23.9 C
Samarinda
Sunday, May 16, 2021

Warga Mual-Mual, Ratusan Kilo Ikan Keramba Siap Jual Mati

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Tumpahan minyak diduga Cruide Palm Oil (CPO) di perairan Sungai Mahakam pascatenggelamnya kapal jenis Self Propelled Oil Barge (SPOB) Mulya Mandiri di perairan Sungai Mahakam berdampak terhadap nelayan keramba dan warga. Kapal diketahui tenggelam pada Sabtu 10 April 2021 pagi.

Dari pantauan media ini, tumpahan minyak terbawa arus air sungai hingga puluhan kilometer dari lokasi tenggelamnya kapal. Air Sungai Mahakam yang kecoklatan bercampur warna oranye. Bau tumpahan minyak itu sangat menyengat. Membuat perut terasa mual.

Di dermaga lama pasar induk Palaran Jalan HB Suparno, Kelurahan Rawa Makmur, Palaran, tumpahan minyak masuk ke keramba-keramba ikan milik warga. Akibatnya ratusan ikan ikan siap jual mati.

Salah seorang warga pemilik keramba ikan mas dan nila, Muhammad Radis (34), warga Jalan HB Suparno, mengatakan, akibat tumpahan minyak, dia merugi ratusan juta rupiah. Pasalnya, sedikitnya 100 kilogram ikan miliknya siap jual, mati mendadak.

Terlebih lagi, masih banyak ikan yang masih hidup dalam kondisi “mabuk” akibat air bercampur minyak. “Ikan yang mati sekitar 1 kuintal. Terpaksa dibuang, tidak berani dikonsumsi. Ini juga masih banyak yang mabuk akibat tumpahan minyak yang masuk ke keramba. Padahal ikan-ikan ini siap jual,” keluhnya.

Wakil Ketua RT  30 Kelurahan Rawa Makmur, Capri mengatakan, sejak pagi ia melihat ada tumpahan minyak CPO di tepi sungai tak jauh dari rumahnya. Dirinya pun sempat heran dari mana sumber tumpahan minyak tersebut.

Dia akhirnya mendapat informasi dari warga lain bahwa ada kapal pengangkut minyak tenggelam di bawah Jembatan Mahkota 2. Menurutnya, ini adalah kejadian pertama. Dampaknya, 50 kepala keluarga (KK) jadi korban. Lantaran kebiasaan warga memanfaatkan air sungai untuk keperluan MCK tak bisa lagi dilakukan.

Baca Juga  Tolak UU Ciptaker, Aliansi Mahasiswa dan Buruh Bertekad Duduki Karang Paci

“Katanya minyak CPO, heran lah kita. Apalagi masyarakat di sini tidak bisa mengambil air, kan pakai Alkon, naik dia (minyak). Selama ini pakai air sungai untuk MCK. Ini sudah nggak bisa diambil air lagi, sudah tercampur dia. Baru sekali ini,” ujarnya.

Baca Juga  Dibantu Pakar Unhas, Pesawat Rakitan Pemuda Asal Pinrang Ditarget Uji Terbang 2021

Warga lainnya, Andi Heriyati (40), rumahnya tepat berada di tepi sungai Mahakam di Jalan HB Suparno, Palaran, mengeluh dampak tumpahan minyak tersebut. Ia merasakan bau menyengat hingga membuatnya mual dan muntah. Tumpahan minyak diduga CPO menyerbu kolong rumahnya.

Ia berharap, pihak terkait segera mengatasi masalah tersebut. “Pertama bau aroma menyengat, terus kami tidak bisa mengambil air setiap hari untuk mencuci, masak, takut pengaruh untuk anak-anak kami. Takut bahaya. Baunya bikin mual, aromanya kuat. Apalagi kami hari-hari di dapur jadi baunya itu seperti selalu mau muntah,” ujarnya.

“Keseharian kami di sini menggunakan air ini. Tapi karena sudah ada air meneral kami tidak pakai itu, tapi untuk cuci-cuci makanan masih,” sambung dia.

Koordinator BPBD Samarinda untuk wilayah Samarinda Seberang-Palaran Sujial mengatakan, pihaknya bersama dengan unsur gabungan relawan, Dinas Kehutanan, KSOP Samarinda, Basarnas Samarinda dan salah satu perusahaan yang ada di kawasan Palaran berupaya melakukan pembersihan tumpahan minyak di tepi sungai Mahakam dengan cara melakukan penyedotan.

“Sekitar pukul 15.30 WITA, kami bersama tim gabungan melakukan pembersihan tumpahan minyak CPO dari kapal tenggelam yaitu kapal SPOB Mulya Mandiri 07. Pembersihan dilakukan di pelabuhaan atau dermaga pasar Palaran,” ujarnya pada headlinekaltim.co.

Penulis: Ningsih

Editor: MH Amal

Komentar

- Advertisement -spot_img

LIHAT JUGA

- Advertisement -spot_img

TERBARU

spot_img
Komentar