Beranda BERITA Tragedi Cinta Segitiga, Bapak dan Anak di Muara Kaman Kompak Membunuh

Tragedi Cinta Segitiga, Bapak dan Anak di Muara Kaman Kompak Membunuh

Polres Kukar membeber barang bukti dan tersangka kasus pembunuhan di Muara Kaman. (foto: Andri/headlinekaltim.co)

HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG-Tragedi cinta segitiga berdarah terjadi di Kecamatan Muara Kaman, Kutai Kartanegara. Dua tersangka, merupakan bapak dan anak, ditangkap karena pengeroyokan berujung kematian korban bernama Hafis Azhar. Lokasi pembunuhan di mes PT Teguh Jayaprima Abadi pada 11 Januari 2021.

“Kita telah menangkap Afdal Ariskal bin Syamsul Bahri beserta Bapaknya Syamsul Bahri, karena terbukti lakukan pembunuhan berencana terhadap Hafis,” jelas Kapolres Kukar AKBP Irwan Masulin Ginting, yang didampingi Kasat Reskrim AKP Herman Sopian, saat jumpa pers, Selasa 19 Januari 2021, di Mapolres Kukar.

Kapolres menambahkan, kedua tersangka sempat melarikan diri ke hutan. Namun, akhirnya menyerahkan diri di mes karyawan perusahaan di Desa Sabin Tulung pada 13 Januari 2021. “Kedua tersangka terancam 12 tahun penjara,” ucap Kapolres.

AKP Herman menceritakan kronologi pembunuhan yang menimpah Hafis. Diawali saat korban melaksanakan janji temu dengan seorang perempuan di mes perusahaan. Pertemuan tersebut membuat Afdal cemburu. Dia mengirim pesan WhatApp kepada Hafis untuk segera meninggalkan mes dan menjauhi perempuan tersebut yang disebut sebagai pacarnya. “Dia minta menjauhi pacarnya, malah Hafis mengancam akan mengeroyok Afdal,” urainya.

Advertisement

Mendapat ancaman dari Hafis, Afdal menyimpan dendam. Dia pun melaporkan apa yang dialaminya kepada sang ayah, Syamsul Bahri. Rupanya, sang bapaknya tak terima. Justru, pria ini menyarankan agar anaknya mengeroyok Hafis lebih dulu. Bukan mengarahkan agar masalah diselesaikan dengan jalan kekeluargaan dan kepala dingin.

Baca Juga  Hari Pertama Masuk Kantor, Ketua Baru PN Sangatta Bertemu Jurnalis

“Akhirnya mereka membawa lima kawannya, yang kita tetapkan sebagai saksi. Kami sayangkan, bapaknya malah mendukung perbuatan jahat tersebut, dan membawa sajam jenis badik untuk menusuk Hafis, ” jelasnya.

Herman menambahkan, korban Hafis sempat dibawa ke RSUD Dayaku Raja Kota Bangun, dan sempat menceritakan kejadian yang dialaminya. Korban sempat menyebutkan satu per satu pelaku yang ikut upaya pengeroyokan sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.

Afdal mengaku perbuatannya didorong rasa cemburu karena pacarnya didekati korban. “Saya minta maaf dan menyesal, apa yang sudah saya perbuat, ” ucap Afdal yang masih berumur 21 tahun tersebut.

Penulis: Andri

Editor: MH Amal

Komentar