src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Psikolog: Pola Asuh Overprotektif Hambat Anak Mandiri dan Sulit Kelola Stres di Usia Dewasa

Psikolog: Pola Asuh Overprotektif Hambat Anak Mandiri dan Sulit Kelola Stres di Usia Dewasa

2 minutes reading
Wednesday, 24 Sep 2025 12:53 173 gleadis

HEADLINEKALTIM.CO – Pola asuh orang tua berperan penting dalam membentuk kemampuan anak mengelola stres sejak dini hingga dewasa. Pola asuh overprotektif, di mana orang tua terlalu banyak melarang anak mencoba hal baru, justru dapat menghambat kemandirian, menurunkan kepercayaan diri, dan memicu kesulitan mengatasi tekanan hidup.

Dilansir dari RRI Kaltim, Psikolog Klinis Ikatan Psikolog Klinis Himpunan Psikolog (IPK HIMPSI) Kaltim, Ayunda Ramadhani, menjelaskan bahwa pola asuh keluarga menjadi salah satu faktor utama dalam membentuk kemampuan seseorang menghadapi stres. Menurutnya, sikap orang tua yang terlalu sering melarang anak mencoba aktivitas sederhana dapat berdampak buruk pada perkembangan mental.

“Seberapa lama orang bisa mengelola stressor itu tergantung pada banyak faktor, termasuk bagaimana pola asuh keluarga. Apakah kita dibesarkan pada keluarga yang mendukung proses belajar apa tidak. Misalkan kita pas kecil kan tidak bisa langsung cuci piringkan, ketika anak kecil mau bantu cuci piring seringkali orang tuanya bilang ‘Jangan! nanti pecah, jangan nanti jatuh’, terlalu banyak larangan itu sebenarnya juga berpengaruh ya. Jadi anak itu tidak berani mencoba, sehingga ketika kelak masa dewasa dalam tumbuh kembangnya bisa jadi dia jadi orang yang takut mencoba,” jelas Ayunda dalam program Tonight Corner Health Pro 2 RRI Samarinda, baru-baru ini.

Ia menambahkan, pola asuh yang minim toleransi terhadap kesalahan membuat anak kurang terlatih membangun kemandirian dan kemampuan problem solving. Konsekuensinya, ketika dewasa seseorang rentan merasa kesulitan mengelola stres, mudah menyerah, putus asa, bahkan terjebak pada overthinking serta pola pikir negatif.

Meski demikian, Ayunda menegaskan bahwa dampak pola asuh di masa kecil tidak sepenuhnya menentukan masa depan seseorang. Konsultasi dengan psikolog dapat menjadi solusi untuk mengasah keterampilan baru dalam mengelola emosi.

“Kalau merasa sulit mengelola stres di masa dewasa, pergilah ke psikolog. Kita akan bantu menemukan keterampilan yang dibutuhkan tanpa perlu terus menoleh ke belakang dan menyalahkan pola asuh orang tua. Hakikatnya manusia itu dinamis, dan yang ditekankan adalah proses belajar, bukan hasil. Proses belajar ini juga tidak instan,” ucapnya.

Selain faktor pola asuh, Ayunda menekankan bahwa lingkungan sosial, dukungan teman, serta aspek kepribadian seperti tingkat kecemasan dan rasa percaya diri juga memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengelola emosi dan menghadapi tantangan hidup.

 

Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya

banner pemkab berau baru
LAINNYA
x