src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Ilustrasi bekerja. Riset psikologi mengungkap bahwa individu berintelektual tinggi sering terjebak dalam proses berpikir yang terlalu dalam sehingga justru sulit untuk memulai langkah pertama dalam bekerja.(Freepik/tirachardz) HEADLINEKALTIM.CO – Hasil riset terbaru mengungkap banyak perusahaan memilih memberhentikan pekerja muda beberapa bulan setelah direkrut. Dilansir dari USA Today melalui laporan Kompas.com, survei Intelligent mengungkap enam dari 10 perusahaan memilih memecat karyawan Generasi Z atau Gen Z dalam beberapa bulan pertama masa kerja mereka.
Profesor New York University (NYU), Suzy Welch, menilai fenomena tersebut mencerminkan adanya perbedaan nilai antara pekerja muda dan kebutuhan perusahaan di dunia kerja saat ini.
Welch melakukan penelitian menggunakan alat bernama The Values Bridge untuk memetakan prioritas hidup seseorang berdasarkan nilai, minat, dan bakat. Riset tersebut melibatkan sekitar 200 ribu responden selama setahun terakhir.
Hasil penelitian menunjukkan hanya sekitar 2 persen Gen Z yang memiliki nilai-nilai yang dianggap sesuai dengan kebutuhan manajer perekrutan.
“Data menunjukkan hanya 2 persen dari Generasi Z yang memiliki nilai-nilai yang diinginkan dan dicari oleh manajer perekrutan. Dari 98 persen yang tidak memiliki nilai-nilai yang dicari oleh manajer perekrutan, hanya 2 persen yang memilikinya itu angka yang sangat besar,” kata Welch.
Menurut dia, tiga nilai utama yang paling dijunjung Gen Z adalah perawatan diri, kebebasan mengekspresikan diri secara autentik, dan keinginan membantu orang lain.
Sementara itu, perusahaan justru lebih mengutamakan pekerja yang memiliki orientasi pada prestasi, semangat untuk menang, dan fokus terhadap pekerjaan.
“Bagi para manajer perekrutan, nilai nomor satu yang mereka cari adalah prestasi, keinginan untuk menang. Nilai nomor dua yang mereka cari adalah fokus pada pekerjaan, keinginan untuk bekerja,” jelas Welch.
Ia menambahkan, perusahaan juga mencari pekerja yang memiliki semangat belajar, aktif, dan siap menjalani berbagai tantangan pekerjaan.
Menurut Welch, banyak Gen Z menilai pola kerja generasi sebelumnya tidak selalu menghasilkan kehidupan yang stabil. Karena itu, mereka lebih memprioritaskan keseimbangan hidup dan kesehatan mental dibanding mengejar karier secara agresif.
“Gen Z pada dasarnya mengatakan ‘Saya tidak suka aturan-aturan itu. Itu adalah nilai-nilai Anda dan itu tidak berjalan dengan baik untuk generasi Anda. Saya tidak akan menerimanya. Orangtua saya memiliki nilai-nilai itu dan mereka menganggur pada usia 54 tahun’,” tuturnya.
Meski begitu, Welch menegaskan dirinya tidak menganggap prinsip hidup Gen Z sebagai sesuatu yang keliru. Ia menilai pekerja muda tetap berhak mempertahankan nilai yang diyakini, meski harus memahami konsekuensi di dunia kerja.
“Jika mereka mempertahankan prinsip yang seharusnya mereka pertahankan tidak seorang pun boleh mengubahnya. Mereka harus memahami bahwa ada konsekuensinya dan tidak akan mendapatkan jenis pekerjaan yang mungkin telah dipersiapkan sesuai gelar sarjana mereka,” ujarnya.
Di sisi lain, sejumlah perusahaan disebut tengah kesulitan mencari kandidat pekerja yang sesuai dengan standar kebutuhan mereka.
Fenomena tersebut juga beriringan dengan meningkatnya angka pengangguran lulusan baru di Amerika Serikat. Berdasarkan data Federal Reserve New York pada akhir 2025, tingkat pengangguran fresh graduate mencapai 5,7 persen atau sekitar 1,5 poin lebih tinggi dibanding kelompok usia lainnya.
Perubahan struktur perusahaan dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) disebut menjadi faktor tambahan yang memengaruhi kondisi pasar kerja saat ini.
Karena itu, lulusan baru disarankan lebih terbuka terhadap berbagai peluang kerja dan tidak hanya terpaku pada jalur karier sesuai jurusan kuliah.