22.7 C
Samarinda
Minggu, April 18, 2021

Kurikulum Normal Picu Anak Putus Sekolah

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Masa pandemi COVID-19 ternyata menjadi salah satu penyebab banyaknya anak putus sekolah. Hal itu disampaikan oleh Anggota Komisi IV DPRD Kaltim Fitri Maysaroh.

Kepada awak media, dia mengatakan, persoalan anak putus sekolah di masa pandemi COVID-19 sudah berulang kali disampaikan dalam pembahasan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Dinas Pendidikan.

Berdasarkan hasil komunikasi dengan orangtua siswa, siswa, pihak sekolah dan lembaga pendidikan diketahui salah satu faktor penyebab putusnya sekolah karena siswa merasa jenuh dan terbebani dengan kurikulum yang diterapkan. Pasalnya, kurikulum masih mengacu pada kurikulum normal bukan kurikulum pandemi.

“Saya sudah berkali-kali menyampaikan dalam RDP tentang pendidikan. Yang kita harus lakukan adalah merubah kurikulum yang ada dengan kurikulum pandemi. Beberapa kali sudah saya sampaikan kepada Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/kota. Saya sudah mengajak, ayo kita sama-sama mencoba membuat kurikulum pandemi,” bebernya.

Fitri Maysaroh menilai, kurikulum yang diterapkan saat ini tidak sesuai dengan fakta yang terjadi, sehingga menyebabkan siswa terbebani. Bukan hanya siswa, tetapi juga orangtua siswa yang harus berperan ganda, menjadi orangtua sekaligus guru.

“Kita tidak tahu kapan pandemi berakhir. Selama ini, kurikulum yang ada dipaksakan untuk dilaksanakan di masa pandemi, dengan harapan kalau pandemi berakhir bisa kembali ke kurikulum normal dan tatap muka,” ujarnya.

Perkiraan Januari 2021 bisa berjalan sekolah tatap muka, lepas dari prediksi dan akan semakin lama para siswa, orang tua dan guru kembali tetap memakai kurikulum nasional melalui pembelajaran virtual daring.

“Sejak November lalu kita siap-siap tatap muka, ternyata Desember naik, digadang lagi Januari, faktanya meningkat lagi. Hal seperti ini bisa jadi terus berlanjut, karena ada pakar yang memprediksi pandemi bisa terjadi 5 tahun atau lebih,” kata Fitri.

Situasi yang terus dilakukan pembelajaran virtual daring ini, Fitri meminta pemerintah agar tanggap dengan merubah kurikulum nasional dengan kurikulum yang sesuai dengan masa pandemi.

“Artinya kalau ini terjadi, bagaimana merubah kurikulum normal dengan kurikulum pandemi. Banyak anak putus sekolah karena masih diterapkan kurikulum lama. Kurikulum normal membuat anak stres, harus capai target. Dan ini bukan beban murid saja, tapi beban orangtua dan guru, juga beban dinas,” pungkasnya (Advetorial)

Penulis : Ningsih

Editor: Amin

Komentar

- Advertisement -spot_img

LIHAT JUGA

- Advertisement -spot_img

TERBARU

spot_img
Komentar