src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Dosen MIE University Jepang saat membeli Kohiman yang dilayani langsung oleh sang Owner Sutaman.(istimewa) HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG– Meski hanya skala produksi rumah tangga, siapa sangka bisnis Kopi Hitam Muara Kaman (Kohiman) yang digeluti pria berumur 69 tahun bernama Sutaman membuahkan hasil yang membanggakan. Produk Kohiman disenangi di salah satu kampus di Jepang dan Brazil.
Sutaman bercerita mulai menggeluti bisnis Kohiman sejak 4 tahun belakangan. Produk kopinya mulai laku keras sejak 2 tahun terakhir. Sebelum menyeriusi tanam dan bisnis kopi, Sutaman bersama istri sebagai petani sayur mayur.
Untuk memasarkan Kohiman dan bisa terkenal seperti sekarang, Sutaman memang harus berani rugi di awal-awal merintis usaha. Bahkan, pada 2 tahun pertama bisnis kopinya, dia lebih banyak menggratiskan bagi siapa saja yang mau minum kopi.
“Waktu itu masa COVID-19, Kalau ada yang datang ke rumah, saya silahkan minum kopi gratis. Kalau cocok silahkan beli, jika tidak cocok juga nggak papa,” cerita Sutaman, kepada Headlinekaltim.co, Selasa 5 Desember 2023.
Kakek dari enam cucu ini mengungkapkan, Kohiman buatannya sudah dikonsumsi oleh orang Jepang dan Brazil. Pelanggannya juga bukan kaleng-kaleng. Ada dosen dari MIE University, Jepang yang sudah mengunjungi kedai Kohiman sebanyak tiga kali dalam setahun.
Sutaman sudah mendapatkan konfirmasi dari dosen itu untuk datang lagi. “Ini dia sudah ada rencana mau ke Cipari Makmur lagi,” ucapnya.
Bukan hanya dosen. Mahasiswa MIE University sudah mencicipi Kohiman dan membelinya. Para mahasiswa sebanyak 20 orang yang didampingi mahasiswa Unmul Samarinda datang bersama mahasiswa asal Brazil ke kedai Kohiman.
Lahan yang ditanami kopi oleh Sutaman tidak luas, hanya setengah hektare. Namun, pengolahan biji kopi tetap masif karena dirinya juga menampung biji kopi dari para petani lokal.
Dirinya komitmen membeli kopi dari para petani lokal agar masyarakat juga tertarik menanam kopi.
“Kopi jenis Robusta yang saya beli dengan petani, ada kelas A, B dan C. Masyarakat pasti senang jika hasil taninya ada yang mau membeli,” ujarnya.
Menanam kopi bukan suatu hal yang baru bagi Sutaman. Pada 1997, dirinya pernah menanam beberapa pohon kopi dan membuahkan hasil. Sayang, dia kesulitan memasarkan. Peminat kopi masih kurang.
“Saya bawa hasil panen kopi ke Samarinda tidak ada mau membeli. Akhirnya saya matikan saja pohon yang ada, tapi disisakan sekitar 2 pohon untuk konsumsi sendiri dan beralih ke tanam sayuran,” ceritanya.
Dirinya bersama kelompok tani yang lain kini sedang menyiapkan perluasan tanaman kopi dengan luas lahan 5 hektare. Bakal ditanami kopi Robusta dengan bibit bersertifikat asal Jember, bantuan dari Dinas Perkebunan Kukar.
“Ini kita lagi menunggu bibitnya datang,” ucapnya.
Bagi yang mau menyicipi Kohiman di kedai kopi milik Sutaman bisa datang langsung ke Desa Cipari Makmur RT. 10 biasa disebut SP4 dengan jalur dari Tenggarong Seberang atau bisa melewati Sebulu.
“Tempat saya berjarak 2 kilometer dari kantor Desa Cipari Makmur. Kalau mau ke kedai saya, minum 1 atau 2 gelas kopi gratis, tapi jangan lupa beli kopinya, untuk kopi orisinil Rp 30 ribu per kemasan 180 gram, sedangkan kopi rasa jahe Rp 35 ribu dengan kemasan yang sama,” tuturnya.(Andri)