Beranda Samarinda Kepala Disdamkar Tepis Isu Anggaran Petugas Penyemprotan Disinfektan

Kepala Disdamkar Tepis Isu Anggaran Petugas Penyemprotan Disinfektan

Kepala Disdamkar Tepis Isu Anggaran Petugas Penyemprotan Disinfektan - headlinekaltim.co
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Samarinda Nursan. (foto: Ningsih/headlinekaltim.co)
Advertisement

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Samarinda Nursan meluruskan kabar soal tidak adanya anggaran petugas Posko 7 Disdamkar yang bertugas melakukan penyemprotan disinfektan setiap kali selesai pemakaman jenazah COVID-19.

Diakui Nursan, sempat terjadi kesalahpahaman di internal Disdamkar terkait alokasi anggaran untuk kegiatan penyemprotan disinfektan. Saat ini, masalah tersebut sudah clear.

“Tadinya ada salah persepsi anggota, dikiranya tadi tidak ada keterkaitan dengan anggaran COVID-19. Nah, setelah kita kumpulkan dan kita jelaskan bahwa ini digabung dengan alokasi anggaran untuk kegiatan COVID-19, mereka paham, clear,” ucap Nursan.

Advertisement

Dia memastikan, anggaran tersebut masuk dalam anggaran BPBD.

“Secara detail saya tidak bisa memberikan penjelasan karena anggaran itu include dengan anggaran BPBD, bukan anggaran Damkar. Jadi Gugus Tugas mengalokasikan anggaran penyemprotan dalam anggaran BPBD. Karena Damkar itu tidak masuk 10 instansi yang menangani masalah COVID sehingga anggaran digabung. Tapi yang pasti ada, hanya belum turun saja,” papar Nursan.

Dia menambahkan, dana dari BPBD akan dibagi ke Damkar Samarinda untuk anggaran operasional. Berdasarkan SK Wali Kota, anggaran hanya akan menanggung 4 orang petugas Damkar di unit Posko 7. Walaupun sebenarnya jumlah anggota Damkar di posko tersebut sekitar 19 orang.

“Kita tidak bicara soal regu, kita ikuti sesuai SK Walikota yang sudah diterbitkan, bahwa petugas pemadam yang ditanggung hanya 4 orang, padahal aslinya disana lebih dari jumlah itu,” jelas Nursan.

Isu tak sedap lain yang menerpa Damkar Samarinda, petugas tak lagi menggunakan mobil pemadam saat melakukan penyemprotan disinfektan. Ini lantaran minim anggaran operasional mobil tangki pemadam.

Hal tersebut dibantah pula oleh Nursan. Dijelaskannya, pihaknya memang sengaja mengganti penggunaan mobil tangki pemadam dengan dengan mobil pikap yang membawa tangki atau tandon berisi cairan disinfektan sebanyak 1.200 liter.

Hal itu dilakukan untuk kesiagaan armada mobil pemadam saat terjadi kebakaran.

“Kapasitas tangki tandon sama dengan kapasitas air di mobil pemadam, sama-sama 1.200 liter. Selain itu, kami lebih mengefektifkan penggunaan kendaraan. Mobil pemadam kami siapkan jika terjadi musibah kebakaran sewaktu-waktu, mobil pikap untuk penyemprotan disinfektan,” pungkasnya.

Penulis : Ningsih

Komentar
Advertisement