Beranda Kuliner Keluar dari Jerat Pandemi, Ayam Serondeng Buka 3 Cabang di Luar Daerah

Keluar dari Jerat Pandemi, Ayam Serondeng Buka 3 Cabang di Luar Daerah

Ayam Serondeng - umkm sektor kuliner
Advertisement

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Berbagai upaya dilakukan para pelaku UMKM sektor kuliner untuk tetap bertahan di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang.

Pasalnya, sejak diberlakukannya kebijakan pembatasan sosial hingga penerapan protokol kesehatan nan ketat, omzet penjualan menurun drastis.

Muhammad Fadil, seorang pelaku UMKM yang turut merasakan dampak itu. Pemilik jenama Ayam Serondeng, ini pun berusaha keluar dari jerat pandemi.

Advertisement

Caranya memang berani. Dia memanfaatkan masa pandemi Covid-19 dengan membuka 3 cabang usaha. Diantaranya di Jalan Gelatik No 21 Samarinda, Tenggarong dan Bontang.
“Buka cabang ini juga satu strategi saya untuk menghadapi pandemi,” katanya.

Dikatakan lelaki 28 tahun ini, menu andalannya adalah ayam serondeng. Rahasia sukses usaha kulinernya terletak pada sambal.

“Menu andalan kami ayam serondeng. Tapi walau namanya serondeng, tidak menggunakan kelapa sebagai serondengnya, melainkan rempah-rempah. Tapi yang khas di warung kami terletak pada sambalnya, beda dengan sambal di warung lain,” akunya.

Diakui Fadil, sebenarnya ia tidak memiliki dasar ilmu sebagai juru masak. Dia belajar otodidak dari berbagai kanal memasak di YouTube.

Berbagai varian menu telah dibuatnya setelah ‘mencuri’ ilmu dari para chef yang bekerja di beberapa restoran besar.

“Kawan saya banyak koki sukses, saya banyak belajar juga dari mereka. Dari sana saya bikin inovasi masakan, dan ternyata bisa diterima,” lanjutnya.

Pangsa pasar warung Ayam Serondeng sendiri mayoritas kalangan mahasiswa. Harga yang ditawarkan pun terbilang murah meriah, mulai dari Rp 8.000 sampai Rp 30.000, tergantung pilihan menunya.

Diakuinya, pukulan pertama pandemi Covid-19 pada bulan Maret lalu membuat usaha kulinernya nyaris bertekuk lutut.

“”Sehari sebelum diberlakukan penutupan area kampus Unmul Samarinda, omzet saya sampai Rp 10 juta. Tapi begitu ditutup karena pandemi, omzet langsung turun. Saya sempat seminggu tutup, terus coba bangun lagi. Saya coba cari cara bagaimana supaya bisa bertahan, makanya saya buka cabang di luar daerah,” katanya.

Selain membuka cabang, Fadil juga mencoba memasarkan kulinernya melalui media sosial dan aplikasi.

Selain itu, ia merekrut beberapa orang Mahasiswa sebagai marketing. Ia juga bekerja sama dengan beberapa perusahaan untuk menyediakan katering.

“Kalau penjualan lewat aplikasi, paling sehari hanya dapat sekitar Rp 300 sampai Rp 500 ribu. Sisanya saya manfaatkan medsos dan kerja sama dengan beberapa perusahaan untuk kateringnya,” ucapnya.

Penulis : Ningsih

Komentar