Beranda BUMI ETAM Jurnalisme Lingkungan, Erat Kaitan dengan Kemanusiaan tapi Kerap Terpinggirkan!

Jurnalisme Lingkungan, Erat Kaitan dengan Kemanusiaan tapi Kerap Terpinggirkan!

Ana Nadhya Abrar Ph.D dalam webinar pelatihan jurnalistik. (foto: RJ Warsa/headlinekaltim.co)
Advertisement

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Isu lingkungan tidak lagi menjadi isu-isu utama bagi media-media mainstream. Padahal dalam kenyataannya, perihal lingkungan sungguh dekat dengan kondisi riil, mengitari masyarakat kita. Di Indonesia, tak terkecuali Kalimantan Timur.

Hal ini dipaparkan narasumber Ana Nadhya Abrar Ph.D dalam webinar pelatihan jurnalistik yang digelar Program Studi Ilmu Komunikasi Fisipol Universitas Mulawarman (Unmul), pada Sabtu 21 November 2020.

Temanya “Tantangan Media Massa Dalam Menulis Berita Lingkungan Hidup Selama Masa Pandemi Covid-19” yang diikuti 56 orang partisipan.

Advertisement

Abrar, pengajar Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Gadjah Mada, menjelaskan, isu lingkungan di Indonesia gaungnya memang tidak sebesar isu-isu lain yang ditampilkan media massa, baik cetak maupun elektronik.

Kondisi ini akhirnya segendang sepenarian dengan minimnya diskursus dan perbincangan isu lingkungan yang terjadi di pihak pemerintah dan masyarakat.

“Di Indonesia gaung persoalan lingkungan hidup selalu dipinggirkan, tidak saja oleh pemerintah, namun juga media mainstream dan masyarakat. Semua aturan lingkungan hidup dilanggar, Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) banyak dipermainkan,” katanya.

Berbeda dengan media massa di luar negeri yang menyediakan rubrik lingkungan. Digarap khusus, bahkan masih dibagi dalam sub topik atau isu terfokus.

Dia menukil peristiwa di Klaten, Jawa Tengah dimana sumber air tanah masyarakat diambil perusahan besar untuk dijadikan air kemasan. Dampaknya pada sawah-sawah di sekitar yang kekurangan air.

“Persoalan lingkungan hidup kerap dianggap perihal sementara, padahal visi lingkungan hidup jauh ke depan,” ungkapnya.

Lanjut dia, ada tiga komponen penting terkait pelestarian lingkungan hidup yang saling terkait, yakni pemerintah, masyarakat, dan media massa.

Dimulai dari pemerintah yang tidak boleh mengontrol media, media pun harus menulis laporan yang komprehensif untuk meningkatkan kesadaran lingkungan pada masyarakat.

Sementara, masyarakat harus menggunakan hak menyatakan pendapat secara proporsional dan terlibat dalam berbagai gerakan mengawasi media.

“Negara mempunyai peran yang lebih spesifik yakni membentuk hukum terhadap semua unsur lingkungan hidup. Media harus bersungguh-sungguh untuk memberitakan perihal lingkungan, jangan bermain-main. Bagi masyarakat jelas sebagai manusia harus menjaga keharmonisan lajunya pembangunan, karena ada anak cucu kita ke depan. Jangan kita rampas hak mereka, ini juga bertentangan dengan perintah Tuhan,” jelas pria yang memperoleh gelar M.E.S dalam Jurnalisme Lingkungan di York University Toronto, Kanada ini.

Dalam sesi tanya jawab, salah satu peserta webinar bertanya mengenai dampak Protokol Kyoto, terhadap pola negara-negara mempertahankan kondisi lingkungan di tengah laju industri-industri raksasa.

Abrar menjawab, protokol tersebut dipatuhi oleh beberapa negara besar di dunia, termasuk Indonesia turut meratifikasinya. Setiap negara melindungi kepentingan warga negaranya.

Ambil contoh di Nagoya, Jepang, kata Abrar. Kondisi hutan di sana tetap terjaga dan terpelihara, selamat dari penebangan. Sedangkan, untuk kebutuhan kayu, Negeri Sakura ini mengekspor kayu dari negara lain.

“Hal yang berbeda terjadi di Indonesia. Memaknai protokol tersebut harus diubah. Jaga kepentingan negara kita Indonesia, seperti halnya sawit jadi komoditas ekspor di negara ini. Tetapi, hutan yang ada banyak yang tergerus oleh kebun-kebun sawit, dimana banyak perusahaan asing masuk, padahal ini negara kita,” bebernya.

Jadi, terang dia, Protokol Kyoto tidak banyak dimaknai dan digunakan. Kondisi terkini di Papua, hutan habis dieksplorasi. Padahal, masyarakat setempat hanya mempergunakan sedikit dari lahan, dibandingkan kebutuhan industri besar,” ungkapnya lebih jauh.

Webinar ini, selain diikuti oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Unmul, juga diikuti mahasiswa dan praktisi media dari luar Kaltim.

Saat berita ini ditulis, webinar masih berlangsung dengan narasumber kedua, Andreas Harsono. Dia adalah pendiri Majalah Pantau dan aktivis HAM. Materinya “Menulis Berita Feature tentang Lingkungan Hidup”.

Penulis: RJ Warsa
Editor: Emha

Komentar
Advertisement