src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Inovasi UMKM Kaltim, kayu menggeris, inovasi produk lokal, jam tangan kayu, usaha kreatif Samarinda terus menunjukkan perkembangan signifikan melalui pemanfaatan bahan baku lokal yang bernilai tinggi. Salah satu pelaku usaha berhasil mengolah kayu menggeris menjadi berbagai produk gaya hidup modern, mulai dari jam tangan hingga aksesori teknologi.
Dilansir dari RRI Samarinda, pelaku usaha bernama Iendy Zelviean Adhari mengembangkan inovasi UMKM Kaltim berbasis kayu menggeris meski latar belakangnya bukan di bidang tersebut. Ia mengaku belajar secara mandiri untuk mengolah kayu lokal menjadi produk kreatif yang memiliki nilai jual tinggi.
“Saya memang doktornya ekonomi syariah, tetapi riset tentang kayu ini saya pelajari secara mandiri di luar kepakaran utama saya,” ujarnya.
Menurut Iendy, pendekatan seni menjadi dasar dalam mengembangkan inovasi UMKM Kaltim yang digelutinya. Ia membedakan antara seni abstrak dan seni berbasis produk yang kualitasnya bisa diukur secara langsung oleh konsumen.
“Kalau seni yang berbentuk produk, kualitasnya bisa dinilai bersama-sama. Misalnya jam tangan atau kacamata, orang bisa melihat langsung apakah produk itu berkualitas atau tidak,” kata Iendy.
Dari konsep tersebut, ia memilih memproduksi jam tangan dan kacamata sebagai produk utama. Selain memiliki nilai estetika, kedua produk tersebut juga fungsional dan diminati pasar. Kayu menggeris yang digunakan dikenal memiliki ketahanan tinggi terhadap hama, sehingga mendukung kualitas produk jangka panjang.
“Kayu menggeris dan kayu ulin itu terkenal tahan rayap dan hama, sehingga cocok dijadikan produk yang tahan lama,” ucapnya.
Dalam proses produksinya, inovasi UMKM Kaltim ini juga mengedepankan efisiensi bahan baku. Iendy memastikan hampir seluruh bagian kayu dimanfaatkan tanpa menyisakan limbah.
“Bahan utama kami fokuskan dulu untuk jam tangan. Sisa kayunya bisa diolah menjadi kacamata, kemudian turun lagi menjadi strap Apple Watch,” ujarnya.
Potongan kayu yang lebih kecil kemudian diolah menjadi berbagai aksesori tambahan seperti softcase ponsel hingga card holder. Dengan metode ini, nilai ekonomi dari satu bahan baku dapat dimaksimalkan secara optimal.
Tidak hanya itu, inovasi UMKM Kaltim ini juga merambah pada pemanfaatan serbuk kayu hasil produksi. Iendy mengungkapkan bahwa serbuk kayu menggeris dapat diolah menjadi bahan esensial untuk parfum dengan aroma khas alami.
“Serbuk kayunya kami riset lagi dan bisa dijadikan esensial parfum dengan aroma khas kayu menggeris,” katanya.
Hasil penelitian awal bahkan menunjukkan bahwa ekstrak kayu tersebut memiliki kandungan antioksidan yang berpotensi baik untuk kulit. Temuan ini membuka peluang pengembangan produk turunan lain yang lebih luas di masa depan.
“Kami menemukan bahwa kandungannya memiliki sifat antioksidan yang baik untuk kulit,” ujar Iendy.
Melalui konsep produksi tanpa limbah, inovasi UMKM Kaltim berbasis kayu menggeris ini diharapkan terus berkembang. Selain meningkatkan nilai ekonomi sumber daya lokal, pendekatan ini juga mendorong praktik usaha yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.