24.2 C
Samarinda
Saturday, July 2, 2022

Gempa Magnitudo 7,5 Berpotensi Tsunami Bikin Panik Warga NTT, 29 Tahun Silam Ribuan Nyawa Melayang

HEADLINEKALTIM.CO, KUPANG— Gempa berkekuatan magnitudo 7,5 disertai potensi tsunami mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada  Selasa 14 Desember 2021 sekitar pukul 11.20 WITA. Kepanikan warga NTT terjadi begitu mengetahui ancaman tsunami. Mereka berlarian keluar rumah dan berupaya mencari lokasi lebih tinggi. Gempa berpusat di Kabupaten Flores Timur dengan kedalaman 12 kilometer. Titik gempa terjadi 7.59 LS dan 122,26 BT. Peringatan dini tsunami yang dikeluarkan BMKG meliputi daerah pesisir di NTT seperti di Ende, Flores Timur bagian utara dan Pulau Sikka. Salah satu warga Maumere, Kristo Isa Mia mengatakan warga setempat berhamburan menyelamatkan diri ketika gempa mengguncang. “Gempa sangat kuat dan agak lama, makanya warga lari keluar. Saya di Kampung Sikka, dari balai desa juga warga lari keluar,” katanya seperti dikutip dari CNNIndonesia.com. Dia mengatakan orang-orang menyelamatkan diri menjauh dari daerah pesisir pantai karena mengetahui peringatan dini tsunami dari BMKG. Mereka berlari ke daerah perbukitan dengan menenteng barang seadanya. Sementara itu, Aris, warga Adonara mengatakan gempa terjadi cukup kuat dan membuat warga panik. “Gempa besar tadi,” kata Aris. Sementara itu di Waikabubak, Sumba Barat, gempa juga membuat warga panik dan meninggalkan rumah. Sejauh ini belum ada laporan kerusakan ataupun korban akibat terjadinya gempa. TRAUMATIK Kepanikan warga NTT dengan bencana tsunami memang traumatis. Dikutip dari Tribun Sulbar, Sejarah mencatat, Pulau Flores bagian tengah dan timur, NTT, pernah diguncang gempa bumi hingga menimbulkan gelombang tsunami. Ribuan nyawa melayang dalam gempa dan tsunami yang terjadi pada 29 tahun silam. Kejadian ini diberitakan harian Kompas merenggut 1.300 korban jiwa dan 500 orang hilang serta ribuah bagunan rusak terjadi tepat pada 12 Desember 1992. Gelombang setinggi 6-25 meter menyapu wilayah daratan hingga sejauh 300 meter setelah gempa berkekuatan 7,5 skala Richter mengguncang wilayah yang masuk dalam Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini. Besaran gempa tersebut dinyatakan oleh Institut de Physique du Globe yang berkedudukan di Strasbourg, Perancis. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan angka yang berbeda, yakni 6,8 skala Richter. Dua kabupaten yang paling terdampak dari kejadian ini adalah Kabupaten Sikka dan Ende. Namun, wilayah Kabupaten Sikka lebih banyak terdampak, karena posisinya yang terletak di sisi selatan. Pusat gempa terdeteksi terletak di kedalaman 36 km di Laut Sawu di lepas pantai Maumere. Meskipun begitu, getaran dirasakan seluruh wilayah Flores, bahkan hingga Kupang, Pulau Kupang, dan Makassar, Sulawesi Selatan. Rumah penduduk, tempat ibadah, gedung-gedung sekolah, rumah sakit, dan beragam fasilitas umum lainnya porak-poranda akibat guncangan gempa ditambah terjangan air yang terbawa gelombang. Berdasarkan pemberitaan Harian Kompas edisi 13 Desember 1992, dua kota di kabupaten terdampak, Maumere dan Ende lumpuh total. Masyarakat pun dicekam rasa takut dan khawatir akibat bencana alam yang terjadi, terlebih karena pada saat itu gempa susulan masih saja terjadi hingga tengah malam. Sebagian masyarakat berlarian ke arah dataran yang lebih tinggi, namun mereka justru dihadang oleh tanah longsor. Ini disebabkan oleh sejumlah daerah pantai Flores berkontur miring, berbukit, dan gunung-gunung. Sejumlah 90 orang ditemukan meninggal pada operasi pencarian yang dilakukan hari itu juga, di tengah situasi yang masih mencekam. Kebanyakan korban ditemukan tertimbun reruntuhan bangunan. Sementara lainnya ditemukan dalam kondisi luka-luka. Mereka mendapatkan perawatan di rumah sakit-rumah sakit, meski harus menempati lorong-lorong, karena ruang-ruang perawatan yang retak dan rusak. Proses koordinasi pencarian juga proses pelaporan kejadian ketika itu sulit dilakukan karena sistem komunikasi darat, laut, dan udara mengalami gangguan. Sejumlah kelompok aparat bahu-membahu memberikan bantuan, menyisir korban, dan mendirikan dapur umum bagi korban yang kehilangan tempat tinggalnya dan terpaksa tinggal di pengungsian. Berdasarkan laporan per tanggal 15 Desember 1992, jumlah korban meninggal sudah terdata sebanyak 1.895 jiwa. Banyaknya korban dan situasi yang belum kembali pulih menyebabkan aparat mau tidak mau melakukan penguburan masal. Cara penguburan itu terpaksa ditempuh meski sejumlah keluarga korban belum ikhlas memakamkan sanak saudaranya secara massal. (*)  

Komentar
- Advertisement -

LIHAT JUGA

- Advertisement -

TERBARU