src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Ini Tiga Daerah Tertinggi Jumlah Kasus TB di Kaltim

Ini Tiga Daerah Tertinggi Jumlah Kasus TB di Kaltim

2 minutes reading
Friday, 25 Mar 2022 21:44 453 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Di Kaltim, terdapat tiga kabupaten/kota yang menjadi daerah tertinggi kasus penyakit Tuberkulosis atau TB. Yakni Samarinda, Balikpapan dan Kutai Kartanegara.

Hal ini diungkapkan oleh Plt Kepala Dinas Kesehatan melalui Kepala
Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kaltim Setyo Budi Basuki.

Dikatakannya, Samarinda menjadi daerah tertinggi kasus TB sejak beberapa tahun terakhir.

Setyo Budi Basuki menyebut, berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim, tahun 2021, kasus TB di Samarinda mencapai 1.945 kasus, Balikpapan 1.166 kasus dan Kutai Kartanegara mencapai 713 kasus.

“Saat ini, memang prevalensi kita terhadap kasus terkonfirmasi TB paling banyak terjadi di Samarinda, Balikpapan dan Kutai Kartanegara,” ucapnya, Jumat 25 Maret 2022.

Diakuinya, dikeluarkannya instruksi dari Kementerian Kesehatan untuk membebaskan masyarakat Indonesia dari TB tahun 2030, menjadi tugas berat Dinas Kesehatan.

Pasalnya, hingga saat ini banyak masyarakat yang menganggap bahwa penyakit TB adalah aib yang identik dengan kalangan bawah dan masyarakat yang tinggal di lingkungan kumuh. Akibatnya, banyak pengidap TB enggan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Kasus TB pun menjadi fenomena gunung es.

“Padahal target kita tinggi, di Kaltim hingga tahun 2030 harus bisa menemukan 3.364 kasus. Tapi sampai ini kita hanya baru bisa menemukan di kisaran 300 kasus TB,” terangnya.

Menurutnya, berbagai upaya telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kaltim untuk menemukan kasus TB sesuai target. Namun, banyak kendala yang dihadapi.

“Kita inginnya, cepat ditemukan, diobati sampai sembuh. Masalahnya, proses penemuan kasus harus melibatkan masyarakat itu sendiri, faskes pemerintah dan faskes swasta. Tapi kendala kita, kesadaran masyarakat cukup lemah untuk memeriksakan diri, ini yang perlu kita edukasi bersama, karena masih ada stigma TB penyakit tidak baik, padahal semua orang punya potensi,” bebernya.

Berdasarkan data penemuan kasus TB di Kaltim dari tahun ke tahun, lanjutnya, pada tahun 2019 ditemukan lebih banyak dari tahun 2020 dan 2021. Penyebabnya adalah pandemi COVID-19 yang membatasi kegiatan masyarakat di luar rumah.

“Kegiatan pelacakan kita terganggu karena pandemi sehingga temuan juga menurun karena ada pembatasan kegiatan,” katanya.

Dia menjelaskan, tracing TB hampir sama dengan kasus COVID-19. Setiap ditemukan kasus baru TB, maka seluruh yang kontak erat dengan penderita harus dilakukan pemeriksaan untuk memastikan penularan yang terjadi.

“Untuk itu kita bersinergi, bekerjasama dengan faskes swasta dan puskesmas. Karena obat TB ini mahal dan penyembuhan lama, kalau dia mampu pembiayaan selama 6 bulan tidak apa-apa, tapi kalau tidak mampu dan berhenti, ini berbahaya,” pungkasnya.

Penulis: Ningsih

LAINNYA
x